Kamis, 05 Juli 2012

Sya’ir Tanpo Wathon

 استغفر الله رب البرايا  استغفر الله من الخطايا
يارسول الله سلام عليك  يارفيع الشأن والدرج
عطفة ياجيرة العالم   ياأهيل الجود والكرم
Ngawiti Ingsun Nglaras Syi’iran
Kelawan Muji Maring Pangeran
Kang Paring Rohmat Lan Kenikmatan
Rino Weningine Tanpo Pitungan X 2
Duh Bolo Kanco Priyo Wanito
Ojo Mung Ngaji Syareat Bloko
Gur Pinter Ndongeng Nulis Lan Maco
Tembe Mburine Bakal Sangsoro X 2
Akeh Kang Apal Quran Haditse
Seneng Ngafirke Marang Liyane
Kafire Dhewe Dak Digatekke
Yen Isih Kotor Ati Akale X 2
Gampang Kabujuk Nafsu Angkoro
Ing Pepaese Gebyare Donyo
Iri Lan Meri Sugihe Tonggo
Mula Atine Peteng Lan Nisto X 2
Ayo Sedulur Jo Nglaleake
Wajibe Ngaji Sak Pranatane
Nggo Ngandelake Iman Taukhide
Baguse Sangu Mulya Matine X 2
Kang Aran Soleh Bagus Atine
Kerono Mapan Sari Ngilmune
Laku Torekot Lan Makrifate
Ugo Khakekot Manjing Rasane X 2
Alqur ‘An Qodim Wahyu Minulyo
Tanpo Tinulis Biso Diwoco
Iku Wejangan Guru Waskito
Den Tancepake Ing Njero Dodo X 2
Kumantil Ati …….. Lan Pikiran
Mrasuk Ing Badan Kabeh Jerohan
Mukjizat Rasul Dadi Pedoman
Minongko Dalan Manjinge Iman X 2
Kelawan Allah Kang Maha Suci
Kudu Rangkulan Rino Lan Wengi
Ditirakati Diriyadohi
Dzikir Lan Suluk Jo Nganti Lali X 2
Uripe Ayem Rumongso Aman
Dununge Roso Tondo Yen Iman
Sabar Narimo Najan Pas-Pasan
Kabeh Tinakdir Saking Pengeran X 2
Kelawan Tonggo Dulur Lan Konco
Kang Podho Rukun Ojo Daksiyo
Iku Sunnahe Rosul Kang Mulyo
Nabi Muhammad Panutan Kito X 2
Ayo Nglakoni Sekabehane
Allah Kang Bakal Ngangkat Drajate
Senajan Asor Toto Dohire
Ananging Mulyo Maqom Drajate X 2
Lamun Palastra Ing Pungkasane
Ora Kesasar Roh Lan Sukmane
Den Ghadang Allah Suwargo Manggone
Utuh Mayite Ugo Ulese X 2


Kisah Para Wali Abdal

A.P.I AL FADHLU:Dikisahkan bahwa di suatu zaman pada masa dahulu ada seorang nelayan tua yang kehidupannya hanya menangkap ikan sambil bertasbih. Pekerjaannya itu dilakukan sehari-hari dengan istiqamah. Tiba-tiba ia di datangi oleh 39 orang berpakaian gamis dan jubah dengan menggunakan surban. Seorang pemimpin dari mereka langsung berkata kepada nelayan tua itu: “Kami dari para Wali Abdal ingin mencari (anggota) sahabat yang baru. Jumlah kami sebelumnya adalah 40 orang, tetapi setelah salah seorang di antara kami meninggal maka jumlah kami sekarang 39 orang. Maukah anda ikut dengan kami dan diangkat menjadi seorang Wali Allah?” Betapa tercengangnya nelayan itu dan langsung menyetujuinya.

Namun sebelum itu ia menanyakan: “Katanya seorang Wali itu bisa berjalan di atas air, apakah saya bisa melakukannya setelah menjadi seorang Wali?” Maka jawab pemimpin Wali Abdal itu: “Oh tentu, Insya Allah. Silahkan buktikan”. Setelah itu nelayan tua itu membuktikan kebenaran ucapan Wali tersebut. Dan ternyata benar, kakinya tidak tenggelam ke dasar laut. Dengan serta merta ia berujar dengan gembiranya: “Baiklah, aku mau ikut bersama kalian”. Pemimpin Wali itu berkata: “Kalau kamu ingin ikut dengan kami, ada satu syarat yang harus kamu penuhi. Jika tidak, kami tidak mengakuimu lagi sebagai anggota dari kami. Yaitu, jangan engkau membantah (berkomentar) atas apapun yang akan terjadi. Apakah kamu sanggup?” Karena merasa ringan akan syarat tersebut maka nelayan tua itu menyetujuinya. Lalu ikutlah ia bersama para Wali Abdal tersebut, yang sekarang telah genap berjumlah 40 orang.

Belum lama dari peristiwa tersebut, 40 Wali tadi berdzikir bersama di atas sebuah kapal dan melakukan ibadah ritual lainnya. Pemimpin Abdal, setelah acara selesai berkata: “Kini tibalah waktunya kita makan bersama”. Seketika itu datanglah sebuah hidangan dari langit yang berisi ikan yang amat besar”. Melihat kejadian itu terkagum-kagum nelayan tua itu, dikarenakan baru menyaksikan hal itu seumur hidupnya. Baru saja ikan itu dihidangkan, Pak tua itu langsung mencicipi ikan tadi. Kontan dari mulutnya mengatakan: “Wah, ikannya memang besar, tapi lebih lezat lagi kalau dikasih garam”.

Pada saat itulah para Wali tadi menghadapkan wajahnya kepada Pak tua, dan berkatalah pemimpin Abdal: “Wahai Pak tua, tak pantas rasanya seorang Wali mengucapkan perkataan itu, padahal rizqi yang datang di hadapan kita ini Allah yang memberi dan kita tinggal menerima. Anda mencela rizqi dariNya berarti anda mencelaNya. Maka sudah kukatakan sebelumnya bahwa syarat mengikuti kami adalah jangan membantah (mengomentari) apa-apa yang akan terjadi. Dengan sangat menyesal kami tidak dapat menerimamu di hadapan kami”. Setelah itu Pak Tua menjadi nelayan kembali.Wallahu a'lam bisshawab

Ada Wirid Karena Adanya Warid

Apabila engkau melihat seorang hamba yang diposisikan oleh Allah dalam
mengamalkan wirid, sementara begitu lama anugerah (seakan) tidak datang,
maka jangan anda meremehkannya terhadap apa yang sedang dianugerahkan
Allah padanya. Karena engkau tidak tahu tanda-tanda atau symbol kaum
ma’rifat, apalagi keagungan para pecinta Ilahi. Sebab kalau tidak ada
warid pasti tidak ada wirid.

Banyak orang salah faham dengan
inayah, anugerah, pertolongan Allah. Mereka sering keliru memahami,
bahwa yang disebut dengan anugerah itu manakala muncul pertolongan
instant yang langsung, kelihatan mata, terdengar telinga, bisa diindera,
apalagi jika disertai dengan keistimewaan-keistimewaan tertentu.
Karena itu kita tidak boleh menganggap remeh, orang – atau bahkan kita sendiri
- yang melakukan terus menerus wirid, dalam waktu panjang, tidak muncul
perubahan atau keistemewaan tertentu. Karena, Allah memberikan
keistemewaan pada orang itu melalui lambang rahasiaNya, sebagaimana
rahasia para ‘arifin dan pecinta Allah yang begitu tersembunyi.
Kita tidak tahu bagaimana tanda dan symbol para airifin dan para pecinta
itu. Mereka tidak tidak bisa dilihat dari karakter dan symbol-simbol
religius dan asktetik, seperti kharisma, karomah atau
kehebatan-kehebatan di luar nalar manusia. Bahkan mereka lebih banyak
tidak diduga, tidak memiliki keistemewaan, karena mereka adalah para
sirrullah (hamba rahasia Allah).

Bagaimana anda bisa tahu kepasrahan
total hatinya, keridloannya pada Allah, ketenangannya pada lintasan
takdir. Apalagi, para pecinta, yang memiliki kasyikan dan kerinduan
dahsyat kepadaNya, bagaimana hatinya berpaling dari makhluk.
Betapa tinggi budi para Sufi. Mereka melarang meremehkan orang lain, amaliyah
orang lain yang kelihatan tidak istemewa. Justru kita harus tetap
mengagungkan dan menghormati.

Sulthanul Auliya Syeikh Abul Hasan
asy-Syadzily ra. mengatakan, “Manakala Cahaya orang beriman yang suka
bermaksiat dibuka, pasti akan memenuhi bekasnya di langit dan di bumi.
Lalu bagaimana menurut anda hebatnya Cahaya orang mukmin yang sangat
taat?”
Kata beliau, “Hormatilah sesama kaum mukmin, walau pun
mereka sering maksiat penuh dosa. Tegakkan aturan-aturan kepada mereka,
dan hampiri mereka sebagai tanda kasih sayang, jangan sampai anda merasa
muak dengan mereka. Dan juga jangan mengikuti jejak orang yang sangat
hati-hati terhadap apa yang diraih oleh tangan orang beriman, sementara
dia sangat tidak hati-hati terhadap apa yang diberikan oleh tangan kaum
musyrikin. Sebab sudah diketahui, bagaimana batu jadi hitam (Hajar
Aswad) karena tangan mereka.” Maksudnya jangan mengikuti jejak orang
yang belum jelas kebenaran amaliyahnya, wira’inya dan ketajaman
matahatinya.

Warid itu akan menimbulkan wirid, sedangkan warid
adalah anugerah agung dari Allah. Tanpa adanya anugerah agung itu
seseorang tidak akan pernah bisa wirid. Maka dari itu mulialah orang
yang terus menerus secara konsisten melakukan wirid, tanpa menghiraukan
apakah ada keistemewaan dibalik wirirdnya atau tidak.
Tanpa warid dari Allah seseorang pasti tidak akan ada bersimpuh di depan Pintu Allah melalui ubudiyah dan wiridnya.

Sepuluh Hijab


1. Hijab peniadaan dan penafian hakikat asma’ serta sifat. Ini merupakan hijab yang paling tebal. Orang yang memiliki hijab ini tidak mempunyai kesiapan untuk mengetahui Allah dan sama sekali tidak sampai kepada Allah, sebagaimana batu yang tidak bisa naik ke atas.

2. Hijab syirik, yaitu membuat hati menyembah kepada selain Allah.

3. Hijab bid’ah yang bersifat perkataan, seperti hijab orang-orang yang mengikuti hawa nafsu dan berbagai macam perkataan yang batil lagi rusak.

  4. Hijab bid’ah yang bersifap ilmiah, seperti hijab para ahli thariqah yang melakukan bid’ah dalam perjalanannya kepada Allah.

  5. Hijab orang-orang yang melakukan dosa besar secara batinnya, seperti hijab orang-orang yang takabur, ujub, riya’, dengki, membanggakan diri dan lain sebagainya.

  6. Hijab orang-orang yang melakukan dosa besar secara zhahir. Hijab mereka lebih tipis daripada hijab orang-orang yang melakukan dosa besar secara batin, sekalipun mereka lebih banyak ibadahnya dan lebih zuhud. Dosa besar secara zhahir lebih dekat kepada taubat daripada dosa besar secara batin. Orang yang melakukan dosa besar secara zhahir lebih bisa diselamatkan dan hatinya lebih baik daripada orang yang melakukan dosa besar secara batin.

  7. Hijab orang-orang yang melakukan dosa-dosa kecil.

  8. Hijab orang-orang yang berlebih-lebihan dalam hal-hal yang mubah.

  9. Hijab orang-orang yang lalai melakukan tujuan penciptaannya dan yang dikehendaki dari dirinya, tidak senantiasa berdzikir, bersyukur dan beribadah kepada Allah.

  10. Hijab orang-orang yang berijtihad namun menyimpang dari tujuan.

  Inilah sepuluh macam hijab yang mendinding antara hati dengan Allah, menjadi penghalang di antara keduanya. Hijab-hijab ini muncul dari empat unsur: Jiwa, syetan, dunia dan nafsu.
Hijab tidak bisa disingkirkan jika unsur-unsur penyebabnya masih ada. Empat unsur inilah yang merusak perkataan, perbuatan, tujuan dan jalan, tergantung dari banyak dan sedikitnya, memotong jalan perkataan, perbuatan dan tujuan untuk sampai ke hati. Sementara apa yang dipotong agar tidak sampai ke hati, juga dipotong agar tidak sampai kepada Allah. Antara perkataan dan perbuatan dengan hati terbentang jarak perjalanan. Seorang hamba menempuh jarak perjalanan itu agar sampai ke hatinya, agar dia bisa melihat berbagai macam keajaiban di sana. Dalam perjalanan ini terdapat banyak perampok jalanan. Jika dia bisa memerangi para perampok jalanan itu dan amalnya bisa sampai ke hati, maka ia akan menetap di dalam hati, lalu dari hati ini dia akan mendapatkan jendela agar dapat melihat Allah.

Sabtu, 23 Juni 2012

Aku ingin menjadi LUAR BIASA !!!!

Mata, pikiran dan hati selalu ingin melihat semuanya indah seperti yang kita impikan. Tetapi mengapa kenyataannya tidak seperti yang kita harapkan ? Anda tentu punya impian, harapan, keinginan atau cita - cita.Pertanyaanya, sudahkah semuanya menjadi kenyataan ? atau sudah berapa persenkah anda mewujudkannya ?
Tulisan ini akan mengajak anda mendesain masa depan yang lebih baik. Namun sebelum melanjutkan membacanya , siapkan pensil dan buku untuk mencatat hal terpenting yang muncul. Siapkan pula pikiran, hati, ketulusan serta kejujuran anda menerima dalil - dalil di bawah ini :
Pengakuan diri yang jujur merupakan kunci sukses pribadi anda
Sebuah keberanian akan mengantar anda kejalan yang tepat
Sikap mau belajar merupakan teman seperjalanan yang akan memberi penerangan
Rendah hati adalah senjata untuk menghancurkan semua rintangan
Setelah memahami dalil - dalil diatas, mari berlayar memahami diri anda, menemukan impian dan meraihnya.
Cita - cita. Pengenalan diri secara jujur merupakan sikap yang sangat bijaksana sebelum anda ingin menjadi luar biasa. Dengan begitu anda akan menemukan kelebihan dan kekurangan anda. " aku dan cita - citaku " adalah suatu bentuk keinginan paling mendalam dari setiap orang. Untuk mengenali diri anda sendiri maka anda harus set ulang apa sebenarnya cita - cita anda. Mau jadi apa saya dalam 3, 5, 10 tahun mendatang ? Orang - orang luar biasa selalu mencari lingkungan yang mendukung dirinya menjadi apa yang diimpikannya. Jika tidak menemukannya, mereka tidak pasrah ! Mereka justru menciptakan lingkungan sendiri. Silahkan introspeksi diri apakah cita - cita anda sejalan dan mendapatkan lingkungan yang sesuai. Jika tidak anda harus berani keluar dari jalan yang selama ini dijalani. Beranilah berputar haluan ! Lalu tatapkan cita - cita anda dan pegang teguh itu. Kenali diri anda dengan cita - cita anda.

Citra Diri. Bagaimana cara anda memandang diri anda sendiri ? Apakah anda melihat diri anda sebagai sosok yang lemah, tak berdaya, penuh rasa rendah diri, apatis, egois, menyebalkan, minder, takut gagal atau sifat dan sikap negatif lainnya ? Citra diri yang baik merupakan syarat mutlak untuk anda menjadi manusia yang luar biasa. Jika selama ini anda pesimis pada diri sendiri,maka sudah waktunya mengubah diri menjadi optimis, berpenghargaan besar, berambisi, dan berani menghadapi tantangan dan resiko. Setiap pribadi layak untuk berhasil dan sukses. Setiap pribadi berhak menetapkan cita - citanya setinggi langit, berhak mendapatkan apa yang diinginkan. Selama anda merasa todak layak, tidak mampu, itu berarti anda terlalu menghina diri anda sendiri. Anda sudah menginjak - injak diri sendiri. Sebab itu perbaiki cara melihat diri sendiri. Perbaiki citra diri anda.

Harga Diri. Perasaan diri sendiri atau berapa besar menyukai diri sendiri itu adalah sebuah harga diri. Pernahkah anda membayangkan jadi bintang film terkenal yang disanjung dan dihormati banyak orang ? Bukankah hati dan perasaan anda sangat luar biasa ? Bukankah itu sangat berpengaruh terhadap perasaan ? Bukankah kemudian anda semakin menyukai diri anda sendiri ? Itulah sebuah harga diri. Menyukai, bangga, dan menyayangi diri sendiri merupakan faktor terpenting untuk menjadi luar biasa. Orang lain tidak mungkin akan menghargai anda jika anda sendiri tidak pernah menghargai diri sendiri. Kalau anda memberikan nilai 10 pada diri anda maka orang lain pun akan memberikan nilai 10, bahkan lebih ! Sebaliknya jika anda sudah tidak menghargai diri sendiri, begitu murah menghargai diri sendiri, orang lain pun akan melakukan hal yang sama terhadap anda. Maka hargai diri anda setinggi - tingginya.

Menantang Diri Sendiri. Anda tidak mungkin termotivasi setiap saat. Ada kalanya jika hidup terasa sulit sehingga motivasi hilang. Tetapi sebaliknya, jika perasaan anda sedang senang maka anda akan mendapatkan kembali api motivasi tersebut. Motivasi akan muncul jika berhubungan dengan nilai kehidupan, keinginan, kebutuhan dan ambisi. Motivasi juga akan timbul jika kita hendak bepergian, kehidupan terancam atau waktu menghadapi sebuah resiko. Maka, tatkala anda kehilangan motivasi, saatnya anda harus menantang diri sendiri. Ciptakan lagi motivasi yang terhilang tersebut. Bagaimana caranya ? lakukan cara ini : tetap antusias, penuhi diri dengan rasa ingin tahu, baca buku, dengar kaset motivasi, renungkan terus impian, bayangkan saat impian terwujud, sadari bahwa anda dalam proses perubahan, dan jangan berharap kehidupan jadi lebih mudah. Menantang diri sendiri berarti anda berani mengakui segala kelemahan dan kekurangan. Anda harus siap mengubahnya menjadi kekuatan dan kelebihan. Berani menantang diri anda sendiri berarti anda sudah masuk ke dalam dunia komitmen yang tertinggi dalam proses pencapaian kemenangan diri anda.

Mulai Bergerak. Setelah mengetahui dengan pasti ke mana anda akan pergi, maka saatnya anda bergerak. Kesiapan sangatlah diperlukan dalam perjalanan anda menjadi manusia yang luar biasa. Maka hal - hal yang harus anda lakukan adalah : mengubah frustasi menjadi aksi. Sudah saatnya anda tinggalkan konsep - konsep, metode, cara - cara kerja dan kebiasaan lama. Ganti dengan yang baru. Saatnya anda bangkit, bangun dan sadar bahwa ternyata anda menjadi luar biasa jika anda mau dan bersedia membayar harganya. Apa yang harus anda perbuat ? Buat daftar sifat terbaik lalu buang sifat buruk. tetaplah bergairah, terus belajar mengembangkan potensi diri, kepribadian, tantangan lebih berani, selalu bicara positif, membuat prestasi lebih baik, selalu berhubungan dengan orang lain, selalu memotivasi diri setiap saat, dan memahami hukum panen. Jika anda menghendaki buah durian janganlah menanam biji jagung.

Menjadi Luar Biasa. Setelah mengenali diri, berani menantang diri sendiri, mulai bergerak ke depan ke arah perbaikan, kemajuan, pengembangan diri yang positif, maka siap - siaplah menyongsong lahirnya diri anda sebagai manusia luar biasa. Berfikir terlebih dulu baru bertindak adalah cara yang benar yang dilakukan oleh orang - orang luar biasa. Kendaraan berati fasilitas yang dipergunakan untuk menuju ke masa depan yang anda inginkan. Kendaraan anda tidak lain adalah semangat anda.

Kemauan. Akhir kata, kemauan dan pilihan adalah yang sangat menentukan apakah anda ingin tetap menjadi manusia yang biasa atau luar biasa. Tidak perduli anda siap dan dari mana, jika anda mau dan memilih untuk menjadi orang yang luar biasa anda pasti bisa. Tetapi jika anda tidak mau, maka hidup anda tidak akan pernah berubah. Jika anda tidak memilih, janganlah menyalahkan keadaan. Anda yang menentukan ke mana akan pergi, dengan siapa pergi, apa yang harus dibawa, berapa banyak bekal, kapan mau berangkat, jalan mana yang harus dilewati, semuanya tergantung pada pilihan dan keputusan anda sendiri. Menjadi luar biasa hanyalah salah satu pilihan yang dapat anda pilih dalam kehidupan anda. Anda pasti bisa jika anda menginginkannya. Salam sukses !***

(oleh: Benyamin, Pemimpin Gemini Training Center).

Selasa, 05 Juni 2012

Dari Zuhud ke Tasawwuf

PENGANTAR

Dari sekian banyak teori penelusuran etimologi ttg tasawuf, paling tidak ada dua teori yg umum disepakati para penulis tasawuf:
1. Tasawuf diambil dari kata SHUF yg berarti wol atau kain dari bahan bulu kasar, krn para sufi banyak yg suka memakai pakaian tersebut sebagai lambang kemiskinan dan kesederhanaan.
2. Dari kata SHUFFAH artinya pelana kuda yg dipergunakan para shahabat muhajirin sebagai bantal tidur di atas bangku batu di serambi Masjid Nabawi. dalam versi lain juga dimaknai serambi masjid.. Para shahabat muhajirin tsb juga diapanggil dengan sebutan Ahlu Ash-Shuffah.. (ensiklopedia Islam, juga terdapat dalam Ahmad Daudy, Kulilah Ilmu Tasawuf).

Berbeda dengan ilmu2 lain, tasawuf murni bersifat amal batiniyah yg antara sufi yg satu dengan lainnya memiliki pengalaman batin yg berbeda, sehingga definisi tasawuf yg mereka utarakan pun berbeda pula, terkadang terasa asing dan sulit kita fahami, karena mereka mengatakan hal tersebut bisa saja dalam keadaan syuthuh atau fana. berikut penulis paparkan perkataan salik tasawuf:

Dzu al-Nun al-Misri berkata: "Orang sufi adalah orang bila ia berkata nyatalah pembicaraannya tentang hakikat, dan apabila ia diam, anggota badannya berbicara tentang putus hubungan (dengan makhluq)...."
Samnun al-Muhib ketika ditanya tentang tasawuf menjawab: "Bahwa engkau tidak memiliki sesuatu dan tidak dimiliki sesuatu..."
Sirri al-Saqthi berkata: "Tasawuf adalah suatu nama bagi tiga makna; yaitu nur ma;rifahnya tidak memadamkan nur wara'nya; tidak berbicara ttg ilmu batin (hakikat) yg berlawanan dengan al_qur'an dan sunnah dan tidak terbawa oleh karomahnya untuk melanggar larangan Allah swt..."
Abu Bakar as-Syibli berkata: "Tasawuf itu syirik karena ia menjaga hati dari melihat yg lain (selain Allah) dan (pada hakikatnya) tidak ada yg lain.."

Abu Bakar Aceh mengatakan bahwa hakikat tasawuf adalah mencari jalan untuk memperoleh kecintaan dan kesempurnaan rohani. oleh karenanya ia merupakan sebuah proses. jadi tasawuf pada zatnya pindah dari suatu hal keadaan ke hal keadaan yg lain, pindah dari alam kebendaan bumi ke alam kerohanian langit (Abu Bakar Aceh, Pengantar Sejarah Sufi dan Tasawuf).
Perjalanan batin para sufi sendiri sangatlah unik, bagaimana (misalnya) al-Ghazali dari seorang intelektual yg dikelilingi gemerla dunia kemudian berbalik menjadi sufi yg tenggelam dalam ma'rifat. atau Rabiah el-Adawiyah dari seorang budak (ada yg bilang penghibur) menjadi pecinta sejati kepada Allah (mahabbah). Juga Ibn Araby yg pada mudanya merupakan ilmuwan terkenal, namun kemudian ia berpaling dari kebendaan dan tenggelam dalam wahdatul wujud. Atau yg penulis saksikan sendiri bagaiman Harun Nasution (Prof. DR.) seorang guru besar filsafat islam yg terkenal dengan pemikirannya yg "liar' kemudian menjelang masa tuanya beralih menjadi sangat sederhana sekali hidupnya (zuhud).

Karena sulitnya memberi definisi tasawuf yg lengkap (syamil) , Abu al-Wafa al-Ghanimi at-Taftazzani dalam bukunya Madkhal ila at-Tasawuf al-Islami hanya memperbincangkan lima karakter umum tasawuf berikut:
"Tasawuf mempunyai lima ciri umum, yaitu: (1) memiliki nilai2 moral, (2) pemenuhan fana (sirna) dalam realitas mutlak (wujud alhaqiqi), (3) pengetahuan intuitif langsung (laduny: pen), (4) timbulnya rasa kebahagiaan sebagai karunia Allah swt dalam diri sufi karena tercapainya maqomat, dan (5) penggunaan simbol2 pengungkapan yg biasanya mengandung pengertian harfiyah dan tersirat (seperti idiom ma'rifat, mahabbah, mi;raj, hulul dan sebagainya).

BERMULA DARI ZUHUD

kEHIDUPAN keagamaan yg lebih mementingkan kesucian batin dengan jalan menjauhkan diri dari keduaniaan sudah banyak dikenal pada agama2 sebelum Islam, baik ardli atau samawi (kadung umum dipakai dikotomi ini, penulis ngikuti aja).. Bahkan Qur'an banyak bercerita ttg orang2 shaleh terdahulu, semisal dalam surat Al-Kahfi ayat 65 tentang pertemuan Nabi Musa as dan Nabi Khidir as. diceritakan bahwa Khidir merupakan hamba pilihan yg diberi hikmah dan ilmu langsung dari sisi-Nya (min ladunnaa 'ilmaa). Abdurrahman Abdul Khaliq dalam bukunya al-fikr ash-shufi fi dhoui al-kitab wa as-sunah mengatakan bahwa kisah tentang Nabi Khidir oleh kaum sufi dijadikan sebagai salah satu dasar akidah, terutama dalam hal ilmu batin dan kewalian..

Istilah Tasawuf baik sebagai ilmu atau ajaran, tidak dikenal pada generasi Islam pertama (shahabat dan tabiin). Namun benih2 kehidupan tasawuf sudah nampak pada masa itu, yg tercermin dalam istilah pelakunya yg disebut zahid, nasik, 'abid, faqir, wara'.
Rasulullah saw sendiri dalam kehidupan sehari2nya sangatlah zahid dan seorang ahli ibadah ('abid) serta berakhlaq mulia. diceritakan dalam hadits riwayat Tabrani bahwa disamping banyak melakukan shalat, Beliau saw melakukan dzikir 70 kali stiap hari, dalam riwayat Muslim dikatakan 100 kali setiap hari. Dalam hadits lain (yg populer dikalangan sufi) diceritakan bahwa Beliau dalam keadaan majdub dalam bermunajat kepada Allah (suatu waktu) hingga lupa pada Aisyah, Nabi bertanya "siapa engkau?" Aisyah menjawab "saya Aisyah" Nabi bertanya pula "Siapa Aisyah?" dijawab "anak As-Sidiq" Nabi bertanya lagi "Siapa as-Sidiq?" Aisyah menjawab "Abu Bakar" Nabi bertanya lagi "Siapa Abu Bakar?" Selanjutnya Aisyah tak menjawab krn tahu Beliau sedang tenggelam bermunajat.

Kehidupan Zuhud juga sangat populer di kalangan shahabat dan tabiin. Pada periode Madinah sendiri dikenal kelompok Ahl As-Shufah, dalam sejarah juga kita tahu bagaimana kehidupan Khalifah Rasyidah dan shahabat besar lainnya merupakan cermin sejati kehidupan zuhud.. Diantara mereka adalah Huzaifah bin Yaman yg memiliki keistimewaan diwarisi Rasulullah pengetahuan ttg ciri2 munafiq yg tidak dimiliki shahabat lain. Kemudian ada Abu Dzar al-Ghifari seorang prototipe faqir dan zahid sejati yg mengobarkan penentangan maksiat pada khalifah2 Bani Umayyah serta yg menyuburkan kehidupan zuhud di kalangan moslemen. pada periode tabiin ada kelompok TAWWABUN yg dipimpin Mukhtar bin Ubaid, orang2 kuffah yg awalnya mendukung Muawiyah, namun ketika terjadi pembantaian Husein di Karbala mereka menyesal dan kemudian tenggelam dalam ritual ibadah dan pembersihan diri..

Ada beberapa faktor yg mendorong kaum Moslemen (terutama masa Umayyah) untuk tenggelam dalam kehidupan zuhud, paling tidak diantaranya adalah :
1. Ajaran ISlam
Sebagaimana kita maklumi bahwa ada banyak sekali ayat-ayat Qur'an atau Hadits yg memperingatkan moslemen untuk waspada terhadap keduniaan dan mendorong mereka untuk berperilaku WARA' dan TAQWA serta mendekatkan diri kepada Allah (taqorub) dengan memperbanyak ibadah (dalam arti sempit) dan dzikir, seperti tertera dalam surat alahzab: 41-42: "hai orang2 yang beriman, berdzikirlah (dengan menyebut nama) Allah, dzikir yg sebanyak-banyaknya, dan bertasbihlah kepadaNya waktu Pagi dan Petang".
2. Faktor Sosial dan Ekonomi
Seiring dengan meluasnya wilayah Daulah Islam ke daerah2 subur, maka kemakmuran moslemen pun meningkat. Pada awalnya mereka hidup sederhana di daerah gersang, namun kemudian beralih pada kemakmuran dengan kekayaan melimpah. Keadaan tsb banyak menyeret moslemen (elite) tenggelam dalam buaian duniawi yg cenderung melupakan kehidupan agama. Keadaan ini membuat sebagian shahabat dan tabiin yg taqwa dan wara' masygul serta membenci pola hidup seperti itu..
3. Konflik Politik
Terbunuhnya Ustman bin Affan, merupakan tonggal intrik politik dalam kehidupan moslemen yg diwarnai perang saudara yg berkepanjangan, moslemen terkotak2 dalam firqoh2 yg saling berlawanan. dalam suasana chaos sperti itu, muncul kelompok moslem yg netral dan memilih menyibukkan diri dengan ibadah, tak mau terlibat dalam hingar bingar politik. Diantaranya adalah kelompok Mu'tazilah, menurut Abu Husein al-Malati, mereka adalah kelmpok netral yg mengucilkan diri dari perselisihan Hasan bin Ali dengan Muawiyah. Cikal bakal firqoh ini adalah golongan yg dipimpin Sa'ad bin Malik, Sa'ad bin Waqas, Abdullah bin Umar, Muhammad ibn Muslimah dan Usamah ibn Zaid yg setelah membaiat Ali ra mereka berdiri netra dan berkata "Tidak syah memerangi Ali dan berperang bersamanya". Firqoh ini moyang dari mu'tazilah yg berhaluan liberal.
4. Pengaruh Budaya Asing.
Diceritakan dalam surat al-maidah: 82-83 bahwa orang2 yg paling dekat persahabatannya dengan mu'minin adalah para pendeta (rahib) Nashrani. Mereka adalah orang2 shaleh dan zuhud. sedikit banyak, cara hidup mereka menginspirasi kehidupan kerohanian kaum muslimin. pada tahap selanjutnya, seiring dengan banyaknya pengetahuan luar yg masuk, terutama dari india dan yunani, perlahan mempengaruhi corak pemikiran dan peta kehidupan rohani moslemen, hingga memunculkan istilah dan ajaran mistisisme islam (tasawuf).

kehidupan Zuhud generasi pertama ISlam mempunyai ciri diantaranya:
1. dari segi ibadah tampak dalam berbagai dzikir dan shalat sunnah
2. segi Akhlaq terlihat pada kesungguhan keikhlasan dalam bingkai tawakal yg kemudian menjadi corak akhlaq sufi pada umumnya.

peralihan dari konsep zuhud ke tasawuf baru terlihat pada akhir atau pertengahan abad ke 2 Hijriyah. Konsep zuhud berkembang sedimikian rupa (seiring masuknya faham2 baru) menjadi tasawuf, yg kemudian ilmu syariat terpecah menjadi dua bagian, yaitu ILMU FIQH yg membahas huukum2 syariat secara dlahir dan ILMU TASAWUF yg membahas rahasia syariat ya esoterik.
menurut Abu Bakar Aceh, bahwa orangn yg pertama2 mengenalkan tasawuf dari generasi tabiin Hasan Basri yang merupakan murid dari Huzaifah bin Yaman, yg mendasarkan konsep zuhud pada KHAUF dan ROJA'. ia banyak menghabiskan waktu dalam KHANAT (tapa) bersama murid2nya untuk dzikir. Diantara tokoh sufi generasi awal (2 H) adalah Ibrahim bin Adam al-Khuarasani putra raja Balkh (afghanistan), Imam Fudail bin Iyad al-Khurasani serta Rabiah el-Adawiyah pencetus MAHABBAH.

Abdurrahman Abdul Khaliq menulis bahwa akhir abad 2 H muncul sebuah kelompok di Mesir yg secara khusus mengamalkan amalan batin diantaranya dengan muhasabah an-nafs, dzikir dan bersenandung, seperti dijumpai Syafii dan Imam Ibn Hanbal. Kelompok ini oleh ulama disebut AL_ZANADIQOH atau AL_MUTASHAWWIFAH. puncak penyebaran tasawuf terjadi abad 3 dan 4 H, terutama setelah muncul al-Halaj.. patut dicatat bahwa pencetus tasawuf mayoritas bangsa azam (non arab).
pada periode ini pula (3 - 4 H), tasawuf terbagi pada dua kategori, yaitu TASAWUF SUNNY dan TASAWUF FALSAFY, dimana abad ini merupakan puncaknya tasawuf falsafy dengan munculnya tokoh2 seperti Dzu alNun alMisry (Ma'rifat), Abu Yazid al_Bustamy (assakr dalam Ittihad), Husain bin Mansur al-Halaj (Hulul).. Kemapanan tasawuf pada periode ini juga ditandai dengan munculnya tareqat2 sufi dalam bentuk perguruan tasawuf yang mengambil tempat tersendiri di ribat, khanat atau khanqah (padepokan).

Pada periode abad 5 H, sepeninggal Al-Halaj, trend tasawuf beralih pada aliran tasawuf sunny, seiring dengan kejayaan asy'ariyah dalam theologi dan tersingkirnya ahli filsafat dari medan pemikiran islam.. Kejayaan taswuf sunny terutama setelah muncul Imam al-ghazali. Pembahasn tasawuf dalam periode ini banyak berbicara tentang maqomat sebagai tingkatan perjalanan ruhani sufi.
pada abad 6 dan 7 H, kejayaan tasawuf falsafy kembali bangkit dengan munculnya tokoh seperti Ibn Araby pencetus WAHDATUL WUJUD, Ibn al-Farid, dan Jalaluddin ar-Rumy..

wallahu 'alam... insya Allah kalau ada waktu akan berlanjut ke tema SUMBER AJARAN TASAWUF dan JALAN TASAWUF..
sumber:
Abdur Rahman Abdul Khaliq, al-Fikr ash-Shufi fi Dhoi al-Kitab wa as-Sunah, Kairo: Darul Haramain li ath-thaba'ah..
Prof. Dr. Abu Bakar Aceh, Pengantar Sejarah Sufi dan tasawuf, Solo: Ramadhani
Ensiklopedia Islam.

Nafsu Muthma-innah

I. PENDAHULUAN

Manusia dalam hidupnya dibekali oleh Allah dengan akal, nafsu, qaib dan jiwa. Di antara keempat itu nafsu merupakan musuh terbesar manusia karena nafsu yang tidak terkendali membawa manusia dalam kesesatan dan jatuh lantah kenistaan. Orang-orang yang menapaki jalan Allah mengatakan bahwa nafsu insaniyah, merupakan penghalang bagi hati insani untuk mencapai Tuhannya. Namun tidak setiap nafsu berorientasi pada hal-hal negatif. Ada kalanya nafsu-nafsu insaniyah tersebut bisa dikendalikan sehingga membawa ketenangan dan ketentraman.

Dalam makalah ini akan dibahas mengenai nafsu yang memberi ketenangan dan ketentraman. Bagaimana karakteristik nafsu itu dan bagaimana upaya untuk mencapai derajat nafsu tersebut. Selanjutnya akan dijelaskan di dalam pembahasan.

II. PEMBAHASAN

A. Definisi Nafsu Muthmainnah

Muthmainnah adalah dorongan untuk berbuat kebaikan. Nafsu yang merasa tenang ketika menghadapi ke haribaan AllahSWT. Nafsu yang merasa tentram dengan mengingat-Nya. Nafsu yang senantiasa kembali (dengan bertobat) kepada-Nya. Nafsu yang senantiasa rindu untuk bertemu dengan-Nya dan nafsu yang merasa tentram, karena kedekatan dengan-Nya.[1]

Allah SWT berfirman :

Artinya : “Hai nafsu (jiwa) yang tenang,, kemablilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhai-Nya. Masuklah ke dalam golongan hamba-hamba-Ku, dan masuklah ke dalam surga-Ku”. (QS. Al-Fajr : 27 -30)

Ibnu Abbas r.a berkata : “Muthmainnah artinya yang memberikan kebenaran”. Dan Qatadah berpendapat, “Hanyalah orang yang beriman, yang jiwanya tenang terhadap apa yang dijanjikan Allah “.[2]

Nafsu muthmainnah merupakan permualaan pencapaian derajat sufi atau wali. Nafsu muthmainnah disebut dengan keadaan rohani. Nafsu ini merupakan tingkatan terakhir dari perkembangan nafsu manusia, yang menjadikan manusia itu bebas dari segala kelemahan.[3]

Berikut ini adalah beberapa pernyataan para syaikh thariqat yang telah dikemukakan berkenaan dengan nafsu yang tenang :

Ketika matahari kenikmatan dari Allah mencapai puncak langit petunjuk yang benar dan menyinari nafsu dengan cahaya ketuhanan.
Ketika nafsu yang memerintah terguncang dengan guncangan cinta kepada Allah yang tak tertahankan, maka dia berubah menjadi nafsu yang tenang.
Ketika nafsu yang penuh dengan penyesalan menjadi bersih dari kotoran dan penderitaan melalui bantuan penyesalan dan senantiasa mengingat Allah.
Ketika akar pertentangan dan keragu-raguan terputus dari nafsu, dia menjadi tentram dengan terlepasnya perselisihan dan hasutan dari hati dan tunduk terhadap pengaruh titah ketuhanan, yang dengannya keragua-raguan menjadi keridhaan dan menjadi dikenal dengan nafsu yang tenang.[4]

B. Sifat Nafsu Muthmainnah

Hamba Tuhan yang sebenar-benarnya adalah mereka yang telah sampai ke peringkat nafsu muthmainnah. Orang yang telah mencapai nafsu tercermin pada perilaku dan raut mukanya. Ia tampak senang berisi penuh keceriaan dan bersabar diri serta menerima setiap cobaan dari Allah dengan lapang dada dan tawakal. Kepribadian yang demikian itu telah tampak sejak hatinya mengenal Asma Allah, sifat-sifat-Nya, Rasul-Nya, hari kiamat.[5]

Untuk lebih spesifiknya, sifat-sifat keruhanian yang timbul dari nafsu muthmainnah diantaranya adalah :

Tawakal

Orang yang mencapai nafsu muthmainnah senantiasa menyerahkan dirinya sepenuhnya kepada Allah. Ia sedikit pun tidak gundah, gelisah dan berputus asa bila tertimpa musibah, dan tidak pula terlalu bersuka cita bila mendapatkan kebahagiaan, sebab semuanya itu telah digariskan oleh Allah SWT sebelum musibah itu menimpa dirinya bahkan sebelum dirinya diciptakan.

Allah SWT berfirman :

Artinya : “Tidak ada satu musibah yang menimpa seorang, kecuali dengan izin Allah. Dan barang siapa beriman kepada Allah, niscaya Dia akan memberi petunjuk kepada hatinya”. (QS. At-Taghaabun : 11)

Kuat beramal

Ia selalu merasa rindu untuk berbuat kebaikan (muthmainnah insan) yakni rasa tentram ketika melaksanakan perintah Allah dengan hati yang ikhlas dan tulus. Ia tidak melaksanakan perintah Allah atas dasar kemauan hawa nafsunya sendiri atau bertaklid secara buta. Ia tidak menyediakan ruang hatinya bagi suatu keraguan (syubhat) yang dapat mempengaruhi berita-berita dari Allah, Atau syubhat yang dapat menghalangi jalan menuju perintah-Nya.

Kekal mengerjakan sholat

Orang yang telah mencapai martabat ini senantiasa menunggu datangnya waktu untuk beribadah kepada Allah. Mereka ini disebut sebagai penggembala matahari karena senantiasa menunggu waktu sholat.

Takut dengan dosa

Bagi orang yang telah mencapai nafsu muthmainnah, ia selalu gelisah terhadap perbuatannya yang buruk. Walaupun pebuatan buruk yang kecil, tetapi sudah dianggapnya besar, seolah-olah dosa yang diakibatkan dari perbuatanya itu bagaikan gunung yang siap menimpa kepalanya. Dengan tenang ia segera bertobat kepada Allah.

Menghargai dan menghormati waktu

Baginya, waktu adalah modal dasar kebahagiaan. Ia akan menjadi orang yang menghemat waktu, menggunakan waktu seefisien mungkin dan seefektif mungkin dan menggunakan lebih banyak waktu untuk mendekatkan diri kepada Allah.

Tentunya masih banyak sifat mulia lain yang timbul dari nafsu muthmainnah. Yang pokok dari semua itu adalah Yaqadzah yang merupakan titik awal dari tingkatan nafsu muthmainah yakni kesadaran jiwa yang tinggi dan respektif terhadap setiap gejolak-gejolak jiwanya, yang akan menyingkap tabir kealpaan hatinya selama bertahun-tahun, dan menyinarinya dengan pantulan cahaya surgawi.[6]

Setelah mencapai klimaks kesadaran seperti itu, ia seakan melihat apa yang telah disediakan roda kehidupan ini, tanpa memberi kesempatan terhadap mereka yang ingin memperbaiki kesalahan-kesalahannya. Di saat kesadaran ini timbul, ia akan bangkit dan berkata :

Artinya : “…Aku menyesal atas kelalaianku dalam (menunaikan) kewajiban terhadap Allah”. (QS. Az-Zumar : 56)[7]


C. Cara Mencapai Nafsu Muthmainah

Manusia akan mencapai martabat nafsu muthamainnah setelah ia bisa mengalahkan nafsu yang memerintah, yang menyuruh seseorang melakukan segala bnetuk kejahatan yakni nafsu ammarah. Sesuatu yang dirasa paling berat oleh nafsu muthmainnah ialah melepaskan amal-amal perbuatan dari jeratan dan belenggu setan serta nafsu ammarah. Nafsu ammarah selalu berdiri tegak di hadapan nafsu muthmainnah, sehingga setiap kali nafsu muthmainnah datang membawa kebaikan, maka datanglah nafsu ammarah dengan membawa kejahatan sebagai tandingannya.[8]

Untuk dapat mengalahkan nafsu ammarah maka manusia bermujahadah yakni berjuang memerangi nafsu tersebut melalui pengendalian semua keinginan-keinginan nafsu ammarah harus dilawan dengan takwa dan kebaikan. Jika nafsu ammarah diibaratkan kuda banal, maka para ulama mengataka ada tiga cara melawannya, yakni :

1) Mengekang keinginan, sebab, binatang binal akan lemah bila dikurangi makannya.

2) Dibebani dengan beribadah, sebab keledai pun jika ditambah bebannya dan dikurangi makannya akan tunduk dan menurut.

3) Berdoa dan memohon pertolongan Allah.

Nabi Yusuf a.s mengatakan bahwa :

اِنَّ النَّفْسَ لَأَمَّارَةٌ بِالسُّواءِ اِلاَّمَارَحِمَ رَبِى

Artinya : “Sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh pada kejahatan kecuali nafsu yang di beri rakhmat oleh Tuhanku” (Q.S Yusuf : 33).[9]

Selain cara yang telah diugkapkan para ulama di atas, di bawah ini dijelaskan tahapan-tahapan yang dapat dilakukan manusia untuk bermujahadah diri melawan nafsu ammarah sehingga dapat mencapai dapat mencapai derajat nafsu muthmainnah.

Perenungan (Tafakur)

Langkah petama dan terutama untuk berjuang melawan nafsu ammarah, dan kemudian berjalan menuju Allah, adalah tafakur (perenungan diri). Di sini tafakur digunakan dalam arti meluangkan waktu, betapapun sedikitnya, untuk merenung tentang tuga-tugas manusia terhadap pencipta dan penguasaanya. Jika direnungkan dengan akal sesaat, maka akan dipahami bahwa tujuan dari seluruh rahmat dan anugerah yang ditanamkan dalam diri manusia bukan sekedar melayani eksistensi hewani dan memuaskan nafsu manusia, tetapi lebih unggul dan lebih tinggi yakni menilai dirinya dan merasa sedih atas ketidakberdayaannya.

Tekad atau kehendak (‘Azim) dan kesungguhan

Langkah berikutnya untuk mencapai kemajuan ruaniah adalah kehendak dan kesugguhan adalah esensi kemanusiaan dan kriteria kebebasan masing-masing manusia.

Kesungguhan yang diperlukan untuk tahap ini sama dengan meletakkan fondasi untuk hidup yang baik, sebuah kesungguhan untuk membersihkan diri dari dosa dan melaksanakan seluruh kewajiban dan sebuah kesugguhan untuk besikap sebagaimana seharusnya sikap manusia yang berakal dan beribadah sesuai dengan aturan hukum agama.

Pengkondisian Diri (Musyarathah)

Pengkondisian diri berarti mengikatkan diri dengan ketetapan hati untuk tidak melakukan apapun yang bertentangan dengan perintah Allah. Ini disebut nusyarathah, seperti “Aku tidak akan melanggar hukum Allah hari ini”. Dan amat mudah memaksakan diri untuk mematuhi janji seperti itu untuk satu hari. Cobalah untuk bersungguh-sugguh, patuhilah dengan kemauan dirimu sendiri, dan lakukanlah dan kau akan melihat betapa mudahnya tugas ini.

Menjaga Diri Keburukan (Muraqabah)

Muraqabah dapat dilakukan dengan menyadarkan diri bahwa setiap muncul pikiran untuk melanggar perintah-Nya, ia harus mengetahui bahwa pikiran itu ditanamkan kedalam pikirannya oleh iblis dan sekutunya, yang akan menggoyahkan kesungguhannya. Maka yang harus dilakukan manusia untuk mengutuk iblis adalah mencari perlindungan dari Allah dan memusnahkan seluruh pikiran keji itu dari hatinya.

Mengingat Allah (Tadzakkur)

Mengingat Allah dapat dilakukan dengan mengucap dzikir, nama-nama dan sifat-sifat Alalh setiap saat. Selain itu mengingat Allah juga dapat dilakukan dengan mengingat seluruh rahmat yang telah dianugerahkan-Nya kepada manusia serta mensyukuri segala yang telah diberikan kepada kita.[10]


III. PENUTUP

Nafsu muthmainnah merupakan nafsu yang tenang, yang merasa tentram dengan mengingat-Nya dan senantiasa rindu dengan-Nya. Karakteristik nafsu ini selalu membawa dan mendorong untuk berbuat kebaikan dan mendekati-Nya. Banyak cara dapat dilakukan untuk mencapai derajat nafsu ini dari yang paling rendah yakni merenung hingga selalu mengingat Allah.

Dengan adanya makalah ini diharapkan para pembaca dapat mengendalikan nafsu-nafsu ammarah yang ada pada dirinya sehinga bisa mencapai ketentraman dan kemabali kepada-Nya dengan nafsu yang tenang. Tentuya masih ada kekurangan-keurangan dalam makalah ini, oleh karena itu kritik dan saran yang konstruktif sangat diharapkan oleh penulis.


DAFTAR PUSTAKA

Abidin, Zainal, dkk, Empat Puluh Hadits : Telaah Imam Khomeini

Al-Ghazali, Imam, 1995, Minhajul Abidin, Tejemah Abdul Hiyadah, Petunjuk Ahli Ibadah, Mutiara Ilmu, Surabaya

Faried,Ahmad, 1999, Menyusikan Jiwa : Konsep Ulama Salaf, Risalah Gusti,

http://dyanswan.blogspot.com , Matabat Nafsu Para Ulama Tasawuf, 28 April 2009

Nurbakshyi, Javad, Psycology Of Sufism, (Del wa Nafs), Terjemahan Psikologi Sufi, Arif rakhmat, Fajar,Pustaka baru , Yogyakarta, 1988

Takariawan Cahyadi dan Ghazali Mukri, Kitan Tazkiyah : Metode Pembersih Hati Aktivis dakwah, Erta Intermedia, Solo, 2005

[1] Cahyadi Takariawan, dan Ghazali Mukri, Kitan Tazkiyah : Metode Pembersih Hati Aktivis dakwah, Erta Intermedia, Solo, 2005, Hlm. 161
[2] Ahmad Faried, Menyusikan Jiwa : Konsep Ulama Salaf, Risalah Gusti, 1999, Hlm. 71
[3] http://dyanswan.blogspot.com , Matabat Nafsu Para Ulama Tasawuf, 28 April 2009
[4] Javad Nurbakshyi, Psycology Of Sufism, (Del wa Nafs), Terjemahan Psikologi Sufi, Arif Rakhmat, Fajar, Pustaka baru , Yogyakarta, 1988, hlm. 113
[5] Ahmad Faried, Op.Cit, Hlm. 72
[6] Ahmad Faied, Op.Cit, Hlm. 76
[7] Cahyadi Takariawan, dan Ghazali Mukri, Op. Cit, Hlm. 163
[8] Ahmad Faried, Op.Cit, Hlm. 78
[9] Imam Al-Ghazali, Minhajul Abidin, Tejemah Abdul Hiyadah, Petunjuk Ahli Ibadah, Mutiara Ilmu, Surabaya, 1995, Hlm. 119
[10] Zainal Abidin, dkk, Empat Puluh Hadits : Telaah Imam Khomeini, Hlm. 12-19