1. Menempatkan doanya pada waktu yang mulya seperti pada hari Arofah dalam setahun ,dan didalam bulan Ramadhan dari beberapa bulan ,dan hari jum’at dalam dari beberapa hari ,dan dalam waktu malam hari /waktu sahur .
قال الله تعالى : وَبِاْلاَسْحَارِ هُمْ يَسْتَغْفِرُوْنَ
Allah berfirman :” Dan pada waktu sahur mereka memohon ampunan “
وقال صلى الله عليه وسلم : يَنْزِلُ اللهُ تَعَالَى كُلَّ لَيْلَةٍ إِلَى السَّمَاءِ الدُّنْيَا حِيْنَ يَبْقَى ثُلْثُ اللَّيْلِ اْلأَخِيْرِ فَيَقُوْلُُُُُُُ عَزَّ وَجَلَّ مَنْ يَدْعُوْنِيْ فَأَسْتَجِيْبُ لَهُ مَنْ يَسْأَلَنِيْ فَأَعْطَيْهِ مَنْ يَسْتَغْفِرُ فَأَغْفِرُلَهُ ( متفق عليه )
dan Nabi bersabda :Setiap malam Allah itu turun ke langit dunia disaat tersisa sepertiga malam yang akhir,maka Allah berfirman :Siapakah yang berdoa kepadaku ,pasti akan Aku kabulkan,siapakah yang meminta kepadaku …? Pasti Aku akan memberinya Siapakah yang memohon ampunan kepadaKu …?pasti Aku akan mengampuninya
diceritakan : Bahwasanya disaat Nabi Ya’qub mengatakan kepada anak anaknya untuk memintakkan ampun kepada Allah .Maka Nabi Ya’qub beribadah diwaktu sahur dan berdoa kepada Allah ,sedangkan anak anaknya mengamini dibelakangnya ,maka Allah mengampuni nya dan keturunan nabi Ya’qub banyak yang di jadikan Nabi oleh Allah Swt .
2. memperhatikan hal / keadaan yang mulya .Sahabat Abu hurairah berkata :”Sesungguhnya pintu pintu langit itu terbuka disaat berhadapannya dua pasukan yang akan perang di jalan Allah ,dan disaat turunya hujan,dan disaat dilaksanakanya sholat lima waktu ,maka bersungguh sungguhlah kalian dala berdoa didalamnya
وقال مجاهد : إِنَّ الصَّلاَةَ جُعِلَتْ فِى خَيْرِ سَاعَاتٍ فَعَلَيْكُمْ بِالدُّعَاءِ خَلْفَ الصَّلَوَاتِ .
.dan Imam Mujahid berkata : “Sesungguhnya waktu sholat itu dijadikan waktu yang paling baik ,maka tetaplah engkau berdoa setelah melakukan sholat lima waktu
وقال صلى الله عليه وسلم : َالدُّعَاءُ بَيْنَ اْلاَذَانِ وَاْلاِقَامَةِ لاَيُرَدُّ
.Nabi bersabda : “Sesungguhnya berdoa diantara waktu Adzan dan iqomah itu tidaklah tertolak “
وقال صلى الله عليه وسلم : َالصَّائِمُ لاَ تُرَدُّ دَعْوَتُهُ
.Dan Nabi juga bersabda : “Orang yang berpuasa itu tidaklah ditolak doanya “.
Pada intinya mulyanya suatu waktu juga bisa dijadikan satu dengan mulyanya keadaan juga .sepertihalnya waktu sahur dianggap waktu yang mulya karena diwaktu sahur hati dalam keadaan bersih dan ikhlas dan tidak adanya sesuatu yang menyibikkan hati dari rusan dunia .
dan berdoa diwaktu sujud juga pantas untuk dikabulkan oleh Allah SWT.
قال أبو هريرة رضي الله عنه قال النبي صلى الله عليه وسلم : " أَقْرَبُ مَا يَكُوْنُ اْلعَبْدُ مِنْ رَبِّهِ عَزَّ وَجَلَّ وَهُوَ سَاجِدٌ فَأَكْثَرُوْ فِيْهِ الدُّعَاءَ"
.Sahabat Abu Hurairah berkata: bahwasanya Nabi bersabda :”paling dekatnya sesuatu yang ada pada seorang hamba kepada Allah adalah disaat dia sedang bersujud ,maka perbanyaklah kalian bedoa disat kalian bersujud.
3. waktu berdoa menghadap qiblat dan mengangkat kedua tangan.Sahabat Salman berkata Rasulullah telah bersabda “Sesungghnya Tuhanmu itu hidup lagi pemurah yang malu kepada hambanya disaat dia berdoa mengangkat kedua tanganya kembali dengan tangan hampa “.
Dan dalam berdoa hendaklah tidak mengangkat / meninggikan pandangannya kelangit . Kemudian setelah berdoa mengusap kedua tanganya kewajah .
قال عمر رضي الله عنه كان رسول الله صلى الله عليه وسلم اذا مد يديه فى الدعاء لم يردهما حتى يمسح بهما وجهه
4. melembutkan suaranya diantara pelan dan keras .karna ada hadist yang diriwayatkan oleh abu musa al-as’aridia berkata “ kita datang kemadinah ,maka disaat kami telah dekat dari kota madinah maka semua orang membaca takbir dan mereka semua mengeraskan suaranya maka Nabi bersabda : wahai semua manusia sesungguhnya dzat yang kalian semua meminta kepadanya itu tidaklah tuli dan dan tidaklah ghoib ,sesungguhnya dzat yang kalian semua berdoa kepadanya ituberada diantara kalian dan berada diantara leher kalian semua .
Allah berfirman :
واذا سألك عبادي عني فإ ني قريب أجيب دعوة الداع اذا دعاني فاليستجيب لي واليؤمنوبي لعـلهم يرشد ون
Artinya : Dan apabila hamba hambaku bertanya kepadamu tentang aku ,maka ( jawablah )bahwasanya Aku adalah dekat .Aku mengabulkan permohonan orang yang mendoa kepada Ku.maka hendaklah mereka itu memenuhi ( segala perintahku )dan hendaklah mereka beriman kepada Ku ,agar mereka selalu berada dalam kebenaran.
Allah berfirman :
اُدْعُوا اللهَ اَ وِ ادْ عُوا الرَّحْمَنَ ، أَيَّامَّا تَدْعُوا فَلَهُ اْلاَسْمَاءُ الْحُسْنَى وَلاَتَجْهَرْ بِصَلاَتِكَ وَلاَتُخَافِتْ بِهَا وَابْتَغِيْ بَيْنَ ذَالِكَ سَبِيْلاَ
Katakanlah:Serulah Allah atau seruhlah Ar Rohman,dengan nama yang mana saja kamu seru,Dia mempunyai Asmaaul Husna ( Nama nama yang terbaik ) dan janganlah engkau mengeraskan suaramu dalam shalatmu ( doamu )dan janganlah pula merendahkannya ,dan carilah jalan tengah diantara keduanya .
Dan allah berfirman : ادعوا ربكم تضرعا وخفية
Berdoalah kalian pada Tuhanmu dengan tadhoru’dan suara yang samar / lembut .
5. Hendaklah tidak memaksakan keindahan susunan bahasa (sajak) dalam berdoa karena sesungguhnya orang yang berdoa itu lebih baik dalam keadaan tadharruk sedangkan memaksakan susunan bahasa itu tidak pantas bagi orang yang berdoa.
Nabi bersabda : akan ada suatu kaum yang melampaui batas dalam berdoa .
Dan Allah telah berfirman :
ادعوا ربكم تضرعا وخفية أنه لايحب المعتدين
Berdoalah kalian pada Tuhanmu dengan Tadhorru’ (khusyu’ dan merendahkan diri ) dan suara yang lembut ,sesungguhnya Dia tidaklah suka pada orang orang yang melampaui batas .
Dikatakan bahwa yang dimaksud dengan melampaui batas adalah :memaksakan susunan bahasa /sajak .
Ada sebagian ulama’ yang melihat seseorang sedang berdoa dengan memaksakan susunan bahasa dengan sajak ,maka ualama’itu mengatakan :apakah kepada Allah engkau memaksa dengan keindahan bahasa …? Sungguh aku telah menyaksikan dan melihat Syekh Habib Al Ajami berdoa ,tidaklah beliau melebih lebihkan dalam doanya Seraya berdoa :
اللهم اجعلنا جيدين اللهم لاتفضحنا يوم القيامة اللهم وفقنا للخير
Sedangkan manusia mengamini doanya dari segala penjuru dibelakangnya .
Adapun Syekh Habib Al ajami terkenal barokah doanya .
Ada ulama’ yang berkata : Berdoalah kalian kepada Allah dengan kata kata yang menunjukkan kehinaanmu dan yang menunjukkan kefaqiranmu .jangan dengan lisan yang difasih fasihkan dan kesombongan .
Ketahuilah bahwasannya yang dimaksud dengan sajak adalah : memaksakan dengan keindahan susunan bahasa ,karna hal itu tidaklah pantas dengan keadaan tadhorru’ dan merendahkan diri .Adapun berdoa dengan tadhorru’ sangatlah disenangi oleh Allah SWT .
Untuk lebih mudahnya ,hendaknya kita membaca doa doa yang telah diajarkan oleh Rasulullah kepada kita atau doa doa yang telah ma’tsur yaitu doa doa yang telah ada dalam al-Qur’an, seperti yang ada dalam akhir surat Al Baqoroh .
6. Hendaklah berdoa dengan merendahkan diri,khusuk dan menunjukkan kefaqiran dirinya kepada Allah .serta mengakui bahwasanya Allah adalah dzat yang maha kaya dan pemurah .
قال الله تعالى :" ياايها الناس انتم الفقراء الى الله والله غني حليم الاية
Allah berfirman : “ Wahai manusia kalian semua adalah faqir ( sangat membutuhkan ) kepada Allah ,sedangkan Allah adalah dzat yang maha kaya dan bijaksana
7. memantapkan doanya dan yaqin bahwasanya doanya dikabulkan dan sesuai dengan harapanya.Nabi bersabda :
ُادْعُوْا اللهَ وَأَنْتُمْ موُْقِنونٌ بِاْلاِجَابَة وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ لاَيَسْتَجِيْبُ دُعَاءَ مِنْ قَلْبٍ غََافِلٍ الحديث
Berdoalah kalian kepada Allah ,sedangkan kalian yaqin akan dikabulkan,dan ketahuilah bahwasanya Allah tidak akan menerima doa dari hati yang lupa .
8. memaniskan /melembutkan doa dan mengulang mengulang sebanyak tiga kali .
Sahabat Ibnu Mas’ud mengatakan : bahwasanya Nabi jikalau berdoa senantiasa mengulangi sebanyak tiga kali.
Dan hendaklah orang yang berdoa tidaklah memperlambat dikabulkanya doa
لقوله صلى الله عليه وسلم :يستجاب لاحد كم مالم يعجل فيقول قد دعوت فلم يستجيب لي، فإذا دعوت فاسأل الله كثيرا فانك تدعوكريما
karna nabi telah bersabda : Doa salah satu dari kalian semua pasti akan dikabulkan , selagi kalian tidaklah terburu buru untuk dikabulkan ,seraya berkata “ aku telah berdoa namun masih saja belum dikabulkan “Maka jikalau kalian berdoa maka memintaklah kepada Allah yang banyak karna sesungguhnya engkau meminta kepada dzat yang maha pemurah .
Nabi bersabda : disaat kalian berdoa kepada Allah kemudian engkau tahu bahwasnya doa mu dikabulkan maka bacalah :
اَلْحَمْدُ ِللهِ الَّذِى بِنِعْمَتِهِ تَتِمُّ الصَّالِحَاتِ
Adapun orang yang doanya belum dikabulkan maka bacalah :
اَلْحَمْدُ ِللهِ عَلىَ كُلِّ حَالٍ
9. hendaklah memulahi doa dengan dzikir / memuji Allah lalu membaca sholawat kepada Nabi, kemudian memohon hajatnya dan diakhiri dengan membaca sholawat kepada Nabi.maka janganlah berdoa dengan langsung / memulahi dengan permintaan .Sahabat salamah bin Akwa’ mengatakan : tidaklah aku mendengar Rasulullah memulahi doanya kecuali memulahi dengan bacaan :
سبحان ربي العلي الاعلى الوهاب
Asyekh AbuSulaiman Addaroni Rohimahullah berkata :”Siapa orang yang memintak kepada Allah agar hajatnya dikabulkan,maka hendaklah dia memulahi doanya dengan membaca sholawat kepada Nabi Saw ,kemudian mintaklah hajatnya ,lalu mengakhiri doanya dengan membaca sholawat pada Nabi juga .Karna sesungguhnya Allah meneima dua pembacaan sholawat ,dan Allah memulyakan seorang yang berdoa diantara dua pembacaan sholawat. Dan diriwatkan dalam sebuah hadits,dari Rosulillah Saw bersabda :”Apabila kalian meminta kepada Allah akan suatu hajat,maka mulailah dengan pembacaan sholawat kepadaku,karna sesungguhnya Allah memulyakan seorang yang meminta dua hajat dengan menerima salah satunya dan membiarkan salah satunya .
10. yang kesepuluh ini adalah adabul bathin /tatakrama yang ada dalam hati dan itu adalah pokok dalam diterimanya doa seorang hamba yaitu : TAUBAT,TIDAK MELAKUKAN HAL YANG DZOLIM DAN BERSUNGGUH SUNGGUH MENGHADAPKAN HATINYA PADA ALLAH,karna hal itu menyebabkan dekatnya doa seorang hamba itu diterima .
Diceritakan oleh Ka’ab Al akhbar beliau berkata :Pada zaman Nabi Musa telah terjadi paceklik/ kelaparan yang amat parah,karna tidak ada hujan.Maka nabi musa mengajak seluruh bani isroil keluar untuk bersama sama berdoa memintak kepada Allah agar diberi hujan .Namun 2 hujanpun tidak juga di turunkan oleh Allah Swt ,akhirnya Nabi Musa dengan bani Isroil pulang kembali Karna begitu parahnya kelaparan pada waktu itu .sampai akhirnya nabi Musa mengajak semua bani Isroil untuk keluar berkumpul untuk memintak hujan kepada AllahSwt ,dan hal itu diulanginya sampai tiga kali .Namun tetap saja hujan belum turun.Dalam keadaan gelisah yang bercampur dengan keprihatinan melihat kesengsaraan yang dialami oleh kaumnya .Akhirnya Allah menurunkan wahyu kepada Nabi Musa :” Wahai Musa sesungguhnya Aku tidak akan menerima doamu dan doa orang orang yang ada bersamamu ,karna diantara kalian banyak sekali orang orang yang suka mengadu domba” lalu Nabi musa berkata “ Ya ..Robbiy siapakah dia yang suka mengadu domba ,maka kami akan mengeluarkan dia diantara kami…Maka Allah menurunkan wahyu pada Nabi Musa :” wahai Musa hentikanlah mereka dari berbuat mengadu domba maka Aku akan memberi ni’mat pada mereka “
Lalu nabi musa berseru pada bani Isroil :
“Wahai Kaumku bertobatlah kalian kepada Allah ,Karna kalian senantiasa bersekongkol dalam melakukan adu domba “ Maka mereka semua bertobat kepada Allah .Akhirnya Allah menurunkan hujan pada Bani Isroil.
Asyekh Sufiyan Atsauri berkata :” bahwasanya bani isroil ditimpa bencana kelaparan selama tujuh tahun ,sampai sampai mereka memakan bangkai dan anak anak kecil .dan merekapun setiap hari pergi kegunung untuk bersama sama berdoa dan tadhorru’ agar hujan segera turun .maka Allah menurunkan wahyu kepada Nabi bani Isroil “Seandainya kalian berjalan kepadaku ,sehingga lutut kalian tidaklah mampu untuk kalian gerakkan ,dan kalian angkat tangan tangan kalian sehingga sampai pada ujung langit ,dan kalian panjatkan doa sehingga mulut kalian tidak akan mampu untuk berkata lagi ,Aku tidak akan mengabulkan doa doa kalian ,dan tidak akan berbelas kasihan akan tangis tangis kalian sehingga kalian meninggalkan dari berbuat dzolim kepada manusia “.
Maka akhirnya mereka sama sama bertaubat kepada Allah dan meninggalkan dari berbuat dzolim,hingga Akhirnya hujanpun turun .
Dalam kitab AL HIKAM disebutkan :
Jikalau engkau berdoa maka niatlah engkau untuk melakukan perintah Allah dan mengakui akan kefaqiranmu kepada Allah SWT .
Jumat, 31 Agustus 2012
Kamis, 30 Agustus 2012
Biografi KH ALI MAKSHUM (Al Munawwir)
Sekilas Biografi
KH ALI MAKSHUM
1. Masa Kecil KH Ali Makshum
KH Ali Maksum adalah putra pertama dari hasil perkawinan KH Ma’shum bin KH Ahmad Abdul Karim dengan Ny. Hj. Nuriyah binti KH Muhammad Zein Lasem, yang lahir pada tanggal 2 Maret 1915 di desa Soditan Lasem kabupaten Rembang, di tengah gencarnya kaum pembaharu (modernis) melancarkan serangan terhadap keberadaan pondok pesantren sebagai lembaga pendidikan Islam tradisional yang dipandang menghambat kebebasan berijtihad, mengembang-kan pemikiran irrasional semacam khurafat, takhayul dan bid’ah, dan sulit diajak untuk maju.
Keluarga KH Ali Maksum, sejak dari jaman kakek-kakeknya dahulu sampai jamannya adalah keluarga besar yang kehidupan sehari-harinya tidak lepas dari nilai-nilai kepesantrenan. KH Ma’shum yang terkenal dengan panggilan mBah Ma’shum ini merupakan pendiri sekaligus pengasuh pesantren Al-Hidayah di desa Soditan, Lasem, Rembang. Sejak kecil, KH Ali Maksum belajar dan dididik secara keras di pesantren ayahnya sendiri yang saat itu menjadi pusat rujukan para santri dari berbagai daerah, terutama dalam pengajaran kitab Alfiyah Ibnu Malik beserta syarahnya Ibnu ‘Aqil (Nahwu, Shorof dan Balaghah), dan kitab Jam’ul Jawami’. mBah Ma’shum berharap agar putranya nanti menjadi seorang ulama ahli fiqih, sehingga beliau menggembleng Ali kecil setiap harinya dengan pelajaran kitab-kitab fiqih. Sementara itu beliau juga mengajarkan kitab-kitab lainnya kepada para santri, terutama kitab-kitab ilmu nahwu, shorof dan balaghah. Akan tetapi kecenderungan Ali kecil justru lebih senang mempelajari kitab-kitab nahwu dan shorof. Ali kecil kemudian belajar beberapa waktu di pondoknya KH Amir di Pekalongan.
2. Menuntut Ilmu ke Pondok Tremas.
Setelah Ali memasuki usia remaja (usia 12 tahun), mBah Ma’shum berfikir untuk menitipkan pendidikan anaknya itu kepada kiai lain yang terbilang masih temannya, yakni KH Dimyati yang memimpin pesantren Tremas Pacitan (1894 – 1934), karena tidak terbiasa orang tua mendidik anak kandungnya sendiri sampai dewasa. Pada saat itu, Pesantren Tremas yang terletak di pelosok Pacitan dan hanya dapat dicapai dengan jalan kaki beberapa lama ini merupakan pesantren yang cukup popular, terkenal dan berwibawa, disebabkan oleh tiga alasan : Pertama, pesantren Tremas secara tegas menolak dan menentang penjajah Belanda, serta berusaha menghindar dari pengaruh budayanya. Kedua, sebagian besar ahli bait (keluarga) pesantren Tremas tergolong sangat ‘alim, sehingga keberadaan Tremas saat itu sebagai gudangnya ilmu agama sangat diperhitungkan. Bukti kealiman mereka terukir dalam sejarah, dengan munculnya nama Syaikh Mahfuzh at-Tarmasi (wafat di Makkah, 1918 M) di Dunia Islam yang menjadi ulama besar berkaliber internasional di Tanah Haram, penulis produktif dan guru besar di bidang hadis Shahih Bukhari serta diberi hak untuk mengajar di Masjidil Haram. Ketiga, kegiatan ilmiah di Tremas sangat intensif, karena mendapatkan dorongan sepenuhnya dari kiai dan keluarganya. Bahkan kebebasan ilmiah yang dikembangkan pesantren Tremas berakibat pada munculnya “Madrasah” kontroversial didalam pondok pada tahun 1928 yang didirikan seorang santri senior bernama Sayyid Hasan Ba’bud, dengan tenaga pengajar yang kesemuanya berasal dari luar pesantren. Kitab-kitab yang diajarkan di pesantren Tremas sangat bervariasi seperti Fathul Mu’in, Tafsir Jalalain, Minhajul Qawim, Al-Asybah wan-Nazhair, Shahih Bukhari dan Muslim, Alfiyah Ibnu Malik, dll. Mubahatsah (pembahasan) kitab berjalan setiap malam. Di samping itu didukung oleh kebijakan kiai yang memberi kesempatan kepada para santri senior yang mampu untuk mengajari santri adik kelasnya. Kondisi seperti itu lalu menumbuhkan semangat para santri untuk berkompetisi di bidang keilmuan.[1]
Dengan kondisi pesantren Tremas yang sangat mendukung pengembangan keilmuan tersebut, maka pada tahun 1927 M, Ali Maksum dikirim ke pesantren Tremas Pacitan untuk memperdalam ilmu-ilmu agama. Oleh KH Dimyati, Ali Maksum secara istimewa diminta untuk tidak tinggal di kamar-kamar santri pada umumnya, akan tetapi tinggal di komplek “ndalem”, yakni komplek keluarga KH Dimyati, satu kamar dengan Gus Muhammad, putra syaikh Mahfuzh at-Tarmasi. Keistimewaan ini barangkali merupakan rasa hormat KH Dimyati kepada KH Maksum, karena di kalangan para kiai ada semacam tradisi saling menitipkan pendidikan putranya kepada kiai lain. Dalam hal ini, KH Maksum menitipkan putranya yang bernama Ali kepada KH Dimyati di pesantren Tremas, sementara KH Dimyati sendiri menitipkan putranya yang bernama Gus Hamid Dimyati dan Habib Dimyati, kepada KH Maksum di pesantren Al-Hidayah Lasem.
Ali Maksum, yang dikalangan para santri, teman-teman dan keluarga pesantren lebih dikenal dengan panggilan Wak Ali ini,[2] nampak paling menonjol diantara para santri yang lain dan sudah menampakkan bakat-bakat keulamaannya. Hal ini bukan disebabkan oleh kebesaran nama ayahnya, akan tetapi disebabkan oleh kejeniusan otaknya, ketekunan belajarnya, kedalaman ilmunya, keluasan wawasannya, penguasaannya terhadap kitab-kitab kuning, kreatif, inovatif, kekuatan pribadinya, jiwa kepemimpinannya, dan hal-hal lainnya.
Menurut saksi mata, sebagaimana yang dituturkan oleh KH Habib Dimyati, bahwa Wak Ali setiap harinya tidak lepas dari kitab-kitab besar. Semangat belajarnya hebat melampaui usianya yang sangat muda dan melintasi batas-batas yang ditetapkan pesantren. Wak Ali sering tidak tidur sampai larut malam, sehingga tidak aneh jika kamarnya terlihat tidak rapi, karena di sana-sini banyak kitab-kitabnya berserakan dalam keadaan terbuka. Gus Muhammad, putra syaikh Mahfuzh at-Tarmisi, yang tinggal sekamar banyak berguru kepada Wak Ali dalam hal membaca kitab kuning. Maklum, meskipun lama bermukim di Makkah, Gus Muhammad lebih mengkhususkan diri pada ulumul Qur’an. Yang dipelajari Wak Ali bukan hanya terbatas pada kitab-kitab mu’tabarah karya ulama’ salaf sebagaimana yang diajarkan oleh kiainya, akan tetapi juga mempelajari kitab-kitab tulisan ulama’ pembaharu seperti kitab Tafsir Al-Manar tulisan Rasyid Ridha murid Muhamad Abduh, kitab Tafsir Al-Maraghi, kitab Fatawa tulisan Ibnu Taimiyah, kitab-kitab tulisan Ibnul Qayyim dan kitab-kitab baru lainnya. Padahal kitab-kitab tersebut menjadi larangan para kiai di beberapa pesantren tradisional untuk dibaca dan dipelajari para santrinya. KItab-kitab para pembaharu tersebut diperoleh Wak Ali dari kiriman kawan-kawannya di Tanah Haram, santri ayahnya dan keluarga Tremas yang pulang dari pergi haji. KH Dimyati selaku pengasuh pesantren sebenarnya mengetahui hal itu, apalagi Wak Ali tinggal didalam komplek nDalem, akan tetapi beliau sengaja mendiamkannya, karena Wak Ali dipadang memiliki dasar-dasar tradisi pesantren yang kuat. Bahkan memperluas wawasan dengan kitab-kitab tersebut bagi Wak Ali sangat diper-lukan sebagai muqabalah (perbandingan). Barangkali karena latar belakang referensinya yang luas inilah yang menjadikan Wak Ali sebagai seorang ulama’ yang berwawasan luas, dalam, dan berpandangan lebih moderat bila dibanding dengan para kiai alumni pesantren lainnya.
Wak Ali sangat gemar mempelajari Ilmu tafsir Al-Qur’an, yang nantinya mengantarkan dirinya menjadi seorang ulama’ ahli tafsir yang terkemula di Indonesia. Demikian pula dalam ilmu bahasa arab, Wak Ali sangat menguasai kitab-kitab nahwu tingkat tinggi seperti kitab Dahlan, Asymuni, Alfiyah Ibnu Malik dan syawahid-nya, sehingga di kemudian hari mengantarkannya menjadi seorang pakar ahli bahasa Arab yang terkenal. Julukan “Munjid berjalan”[3] untuk KH. Ali Maksum menunjukkan penguasaannya di bidang bahasa Arab beserta cabang-cabangnya. Atas kegemaran, ketekunan dan keahlian inilah yang mengantarkan KH Ali Maksum berhasil menciptakan metode baru dalam pembelajaran ilmu shorof yang dinilai cukup praktis dan efektif, yang kemudian diberi judul “Ash-Sharful Wadhih”. Metode ini berbeda dengan metode shorof yang sudah mapan saat itu, misalnya metode tashrif susunan Kiyai Muhammad Ma’shum bin Ali dari Jombang dalam bukunya yang berjudul “Al-Amtsilah at-Tashrifiyah”.
Kegemaran lain Wak Ali di bidang keilmuan adalah menghafal dan mempelajari secara intens syiir-syiir dan butir-butir kalam hikmah yang sangat berguna kelak ketika menjadi seorang ulama’ besar, dimana setiap ada kesempatan dalam berpidato, berceramah, mengajar, memberikan pembinaan dan lain-lain, sering keluar dari mulutnya untaian kalam hikmah dan syiir-syiir tersebut.
Wak Ali Maksum yang sejak muda tidak gemar tirakat, puasa ngrowot dan perilaku nyeleneh lainnya sebagaimana yang dilakukan oleh sebagian santri di pesantren-pesantren salafiyah pada umumnya ini juga memiliki kegemaran musik. Beliau suka memukul-mukul daun pintu atau apa saja yang ditemui dengan ujung jarinya untuk mengiringi alunan nyanyian, dan bahkan menyukai lagu-lagu berbahasa inggris yang diiringi musik jazz. Kegemaran ini masih terbawa ketika sudah menjadi seorang kiyai yang mengasuh pesantren Krapyak, dimana lagu-lagu jazz tersebut sering diputar dan didengarkan didalam kamar pribadinya sambil beliau dipijiti para santri, bahkan terkadang suaranya sampai keluar melalui mic speaker sehingga para santri ikut menikmati lagu-lagu tersebut. Dalam bidang olahraga, Wak Ali sama sekali tidak memiliki kegemaran, kecuali gemar membersihkan lingkungan pondok dari daun-daun kering, mengambili kertas-kertas bekas dan sampah kering lainnya. Berbeda dengan Gus Hamid[4] dari Pasuruan yang gemar main sepakbola.
Mengingat kejeniusannya, ketekunan belajarnya, kedalaman dan keluasan ilmunya, penguasaannya terhadap kitab-kitab kuning, dan bakat keulamaannya, Wak Ali dipercaya oleh KH Dimyati untuk mengajar para santri dalam usia yang sangat muda. Dalam menjalankan tugas mengajar, Wak Ali sangat menguasai materi kitab yang dibebankan kepadanya, tegas, disiplin dan simpatik. Oleh karenanya, beliau memperoleh kedudukan yang terhormat di kalangan keluarga pesantren dan santri.
Dikalangan para santri, teman-teman dan keluarga pesantren, Wak Ali adalah “simbol keteladanan”. Beliau bersama-sama dengan Gus Hamid Dimyati, Gus Rahmat Dimyati dan Gus Muhammad bin Syaikh Mahfuzh at-Tirmasi sangat populer dengan sebutan “Empat Serangkai”, karena dari merekalah muncul ide-ide segar untuk memajukan dan mengembangkan pesantren Tremas. Diantaranya adalah ide dari Wak Ali tentang perlunya menerapkan sistem madrasi dalam sistem pendidikan pesantren Tremas, dengan tenaga pengajar dari dalam pesantren sendiri. Semula ide ini ditolak oleh KH Dimyati, karena trauma dengan pendirian madrasah kontroversial oleh Sayyid Hasan Ba’bud. Setelah konsep dari ide tersebut dipandangnya jelas dan mendukung kemajuan pesantren, maka KH Dimyati mengijinkan berdirinya madrasah tersebut, dengan Wak Ali Maksum sebagai direkturnya. Kesempatan ini dipergunakan sebaik-baiknya oleh Wak Ali, yang ketika itu baru berusia 19 tahun, untuk melakukan pembaharuan di bidang metode pengajaran dan kurikulumnya, diantaranya dengan cara memasukkan kitab-kitab baru karya ulama modern kedalam kurikulumnya, seperti kitab Qiroatur Rosyidah, an-Nahwul Wadhih dan lain-lain. Setelah Wak Ali Maksum pulang “boyongan” ke Lasem, kepemimpinan madrasah diserahkan kepada Gus Hamid Dimyati sebagai direktur dan A. Mukti Ali sebagai wakilnya. Oleh karena itu tidak berlebihan jika Prof. DR. KH A. Mukti Ali berkomentar, bahwa Ali Maksum-lah yang menjadi motor penggerak modernisasi pesantren Tremas, dari hanya meng-gunakan sistem pesantren ke sistem madrasi. [5]
3. Berguru ke Tanah Haram Makkah.
Sepulangnya ke Lasem pada tahun 1935, KH Ali Maksum membantu ayahnya mengajar di pesantren Al-Hidayah, terutama dalam disiplin ilmu bahasa arab dan Tafsir Al-Qur’an yang menjadi kegemaran dan spesialisasinya selama belajar di pesantren Tremas. Selain mengajar, KH Ali Maksum juga membenahi sistem pendidikan dan pengajaran pesantren. Semangat pembaharuan mulai beliau tiupkan, dan ternyata mendapatkan dukungan dari berbagai pihak, karena pembaharuan yang diterapkannya sama sekali tidak mengancam keberadaan pesantren berikut segala pranatanya, melainkan justru menguatkan-nya. Pembaharuan yang beliau lakukan tetap berpedoman pada prinsip: Al-Muhafazhatu ‘alal qadimis shalih, wal akhdzu bil jadidil ashlah, yaitu mempertahankan tradisi lama yang masih baik (layak) dan mengambil tradisi baru yang lebih baik.
Pada tahun 1938, KH Ali Maksum menikahi Rr. Hasyimah putri KHM Munawwir. Beberapa hari setelah pernikahannya, seseorang bernama H. Junaid dari Kauman Yogyakarta melalui KH Maksum menawarkan tiket gratis kepada KH Ali Maksum untuk beribadah haji. Sebulan kemudian, KH Ali Maksum bertolak menuju Makkah lewat pelabuhan Semarang, dan kesempatan tawaran beribadah ini sekaligus digunakan untuk thalabul ilmi, mengaji kepada beberapa ulama’ besar di Makkah, diantaranya berguru kepada Sayyid Alwi Abbas Al-Maliki (ayah Sayyid DR. Muhammad Alwi Abbas Al-Maliki) untuk mengaji kitab Al-Luma’ dan lain-lain, juga berguru kepada Syaikh Umar Hamdan untuk mengaji kitab Shahih Bukhari dan kitab hadis lainnya, serta memperluas wawasan dengan mengkaji kitab-kitab kaum modernis seperti karya Muhammad Abduh, M. Rasyid Ridha, Jalaluddin Al-Afghani, dan lain-lain.
Selama dua tahun tinggal di Makkah, berarti dua kali pula Ali Maksum menunaikan ibadah Haji. Selama itu pula, Ali Maksum berhubungan dengan para masyayikh, sesama para pelajar dan jamaah haji Indonesia. Kepada jamaah haji yang dikenalnya, ia menitipkan kitab-kitabnya untuk dibawa ke Lasem, terutama kitab-kitab baru tulisan para ulama’ pembaharu, disamping kitab-kitab yang ia tumpuk untuk dibawa sendiri pada tahun 1940.[6]
4. Menjadi Pengasuh Pondok Pesantren Al-Munawwir Krapyak YogyakartaSepeninggal K.H.M. Munawwir, sesuai dengan wasiat dan kesepakatan kekuarga, kepemimpinan pesantren kemudian diambil alih oleh kakak beradik, K.H.R. Abdullah Afandi Munawwir dan K.H.R. Abdul Qodir Munawwir. K.H.R. Abdullah Afandi Munawwir bertugas sebagai penanggung jawab dalam urusan sarana prasarana pesantren dan hubungan dengan luar pesantren, dan K.H.R. Abdul Qodir Munawwir bertugas sebagai penanggung jawab dalam urusan pengajaran Al-Qur’an. Namun satu persatu santri pulang meninggalkan pesantren, dan belum genap 100 hari wafatnya, jumlah santri tinggal puluhan orang. Bersamaan dengan itu, masuknya penjajah Jepang ke Indonesia semakin memperparah kondisi pesantren, sehingga santri tinggal beberapa orang, padahal jumlah santri saat wafatnya K.H.M. Munawwir mencapai 200-an lebih. Walaupun demikian, aktifitas kepesantrenan (pengajian Al-Qur’an) tetap berjalan seperti masa-masa sebelumnya dengan jumlah santri apa adanya.
Dari fenomena ini sementara dapat disimpulkan bahwa kewibawaan dan kekharismaan K.H.M. Munawwir merupakan faktor penyebab kebesaran pesantren, dan hal ini ternyata tidak mampu diatasi oleh penggantinya selaku turunan langsung yang secara tradisional mewarisi kepemimpinan dan kharisma dari ayahnya. Kondisi ini membuat keluarga besar K.H.M. Munawwir merasa resah dan khawatir terhadap kelestarian pesantren ke depan. Maka pada tahun 1943, musyawarah keluarga Bani Munawwir memutus-kan untuk mengirim delegasi menemui Kiai Ali (menantu K.H.M. Munawwir), yang saat itu telah berhasil membenahi sistem pendidikan pesantren ayahnya di Lasem dan mampu mendongkrak jumlah santri, agar bersedia diajak ”hijrah” ke Krapyak untuk mengatasi krisis tersebut. Namun ajakan ini ditolak tegas oleh Kiai Ali Maksum. Beberapa bulan kemudian, datang lagi utusan ke Lasem. Kali ini yang datang adalah Nyai Sukis sendiri (isteri K.H.M. Munawwir, ibu mertua Kiai Ali) dengan didampingi K.H.R. Abdullah Afandi Munawwir, yang mengharap dengan sangat agar Kiai Ali bersedia diboyong ke Krapyak. Akhirnya kekerasan hati Kiai Ali luluh dan menerima ajakan itu. Sejak kepindahan Kiai Ali ke Krapyak ini (1943), pesantren Al-Munawwir di bawah kepemimpinan ”tiga serangkai” dengan pembagian tugas sebagai berikut :
1). K.H.R. Abdullah Affandi (putra, wafat 1968), dengan tugas sebagai pimpinan umum, menangani urusan sarana-prasarana dan hubungan dengan dunia luar pesantren
2). K.H.R. Abdul Qadir (putra, wafat 1961)), dengan tugas sebagai pengasuh Tahfizh Al-Qur’an dan urusan intern pesantren
3). K.H. Ali Maksum (menantu), sebagai penanggung jawab urusan pengajaran kitab-kitab kuning dan pembenahan sistem pendidikannya.
Dari ketiga pemimpin tersebut, Kiai Ali merupakan orang yang memiliki kelebihan. Disamping keahlian, kedalaman dan keluasan wawasan di bidang keilmuan, juga dipandang lebih mumpuni, lebih dewasa, lebih berpengalaman dan lebih siap memimpin pesantren. Dengan bermodalkan pengalaman dan potensi yang dimiliki selama menjadi santri di pesantren Tremas dan membenahi pesantren ayahnya di Lasem, serta tugas berat ”amanah” yang dibebankan kepadanya tersebut, Kiai Ali mulai mencurahkan segala tenaga dan pikirannya untuk mencari titik-titik lemah yang menjadi sumber kemunduran beserta jalan keluarnya, kemudian menetapkan beberapa langkah strategis, diantaranya: 1) perlunya kaderisasi ulama / tenaga pengajar inti dari dalam pesantren, dan 2) perlunya pengembangan sistem pendidikan-pengajaran dan kurikulum pesantren.
Selama dua tahun pertama (antara tahun 1943 – 1944), aktifitas secara intensif difokuskan pada usaha kaderisasi ulama, tenaga pengajar dan pengelola dari lingkungan keluarga pesantren, dengan melibatkan seluruh putra dan menantu K.H.M. Munawwir, serta tetangga. Sedangkan aktifitas kepesantrenan (pengajaran Al-Qur’an) dan penerimaan santri dari luar untuk sementara dibekukan. Peserta yang mengikuti pengkaderan terdiri dari : KHR Abdul Qodir Munawwir (pengasuh), KH Zaini Munawwir, KH Zainal Abidin Munawwir, KH Ahmad Munawwir, KH Dalhar Munawwir, KH A. Warson Munawwir, KH Nawawi Abdul Aziz (menantu), KH Mufid Mas’ud (menantu), KH Habib Dimyati (Tremas), H. Wardan Junaid (Kauman Yogyakarta), Abdul Hamid (tetangga, Krapyak), dan KH. Zuhdi Dahlan (tetangga, Jogokaryan). Murid-murid pertama ini tidak mengecewakan dan tidak satupun diantara mereka yang “melorot” (kendur) semangatnya, padahal mereka harus mengikuti pengajian berbagai macam kitab kuning dengan sistem halaqah/weton dan sorogan, sejak sehabis sholat subuh sampai pukul 21.00 secara nonstop, kecuali sekedar waktu untuk shalat dan makan, dan disiplin yang diterapkan betul-betul sangat ketat, terutama yang diterapkan kepada peserta ahlul bait (keluarga pesantren).[7]
Hasilnya, seluruh peserta kaderisasi memiliki kesiapan dalam segala hal untuk bersama-sama mengelola, memajukan dan mengembangkan pesantren. Mereka menjalankan tugas, wewenang, dan aktifitas sesuai dengan bidang keahliannya masing-masing. Maka dalam jangka waktu yang relatif singkat, pesantren Al-Munawwir selama dalam kepengasuhan Kiai Ali mengalami perkembangan pesat setahap demi setahap. Hal ini ditandai dengan :
a) Berkembangnya sistem pendidikan yang tidak lagi dipusatkan pada pengajaran Al-Qur’an, akan tetapi juga pada kajian kitab kuning, yang keduanya dapat berjalan secara seimbang, sehingga menjadi aktifitas utama sekaligus menjadi ciri khas pesantren.
b) Berdirinya lembaga-lembaga pendidikan formal/klasikal dalam bentuk madrasah, meliputi : 1). Madrasah Ibtidaiyah putra 4 tahun (1946); 2) Madrasah Tsanawiyah Putra 3 tahun (1947) dan SMP Eksakta Alam (1951-1954); 3) Madrasah Banat (1951); 4) M. Aliyah Salafiyah putra 3 tahun (1955); 5) Madrasatul Huffazh (1955); 6) TK (1957); 7) Madrasah Diniyah (1960); 7) Tsanawiyah 6 tahun (1962-1986); 6) MTs dan Aliyah 3 tahun (1987);
c) semakin bervariasi (santri takhassus, santri kalong, sekolah didalam dan diluar pesantren) dan meningkatnya jumlah santri yang tertarik belajar di pesantren Krapyak;
d) semakin terkenalnya nama pesantren di tingkat Nasional dan dunia internasional, terutama di negara-negara Timur Tengah,[8] apalagi semenjak Kiai Ali menjadi Rois ’Am (1981-1984) dan menjadi tuan rumah Muktamar NU ke-28 (1989), kepopuleran dan peran pesantren Al-Munawwir diperhitungkan oleh berbagai pihak.
Disebabkan oleh perannya yang begitu besar sebagai motivator, dinamisator, katalisator, inspirator (penggagas) kaderisasi ulama dalam kepemimpinan pesantren, dan sebagai power bagi komunitas yang dipimpinnya, serta sebagai sumber pengetahuan, maka dari sudut ini, Kiai Ali dapat dipandang sebagai sesepuh Krapyak, sekaligus sebagai pembangun pesantren yang sebelumnya telah dirintis dan didirikan oleh K.H.M. Munawwir.
5. Pengabdiannya di Jam’iyyah NU
Di sela-sela kesibukannya sebagai pengajar dan pengasuh pesantren Al-Munawwir Krapyak, Kiai Ali sejak masa-masa awal sudah simpatik terhadap jam’iyyah NU. Terutama sekitar tahun 1950-an ketika suhu politik memanas akibat semakin nyaringnya suara kaum nahdhiyyin untuk keluar dari Masyumi, dan terealisir ketika Muktamar di Palembang tahun 1952 yang memu-tuskan NU keluar dari Masyumi dan mendirikan partai “NU” sendiri. Untuk menghadapi Pemilu pertama tahun 1955, Kiai Ali mulai aktif berkampanye untuk partai NU dengan cara tidak langsung turun ke lapangan sebagai jurkam, melainkan lewat pendidikan kader kepada para santri Krapyak dan melalui pembicaraan non formal dengan para tamu yang sowan ke rumahnya. Hasilnya, Partai NU memperoleh suara terbanyak rangking ketiga setelah PNI dan PKI. Dari Pemilu tersebut, Kiai Ali akhirnya terpilih menjadi anggota konstituante yang mewakili NU Yogyakarta.
Pada tahun 1960-an, tatkala PKI tengah gencar memusuhi kaum muslimin dan mengancam para kiai, Kiai Ali justru diminta menjadi Rois Syuriyah PWNU propinsi D.I.Yogyakarta secara terus menerus sampai beliau dikukuhkan sebagai Rois ‘Am PBNU menggantikan posisi KH Bisri Syansuri yang wafat, melalui Munas Alim Ulama NU di Kaliurang Sleman Yogyakarta, 30 Agustus – 2 September 1981.
Kiai Ali sebenarnya kurang tertarik dengan dunia politik praktis dan menolak keras ketika dicalonkan sebagai Rois ‘Am. Berulang kali Kiyai Ali mengatakan, “Demi Allah, jangan dipilih”, mengingat dorongan yang sangat kuat dari banyak kiyai, terutama pendapat KH Ahmad Shiddiq di forum Munas: “Saya tidak melihat seorang pun yang lebih cocok untuk menjadi Rois Am daripada KH Ali Maksum”, dan ternyata kemudian disetujui oleh farum Munas secara aklamasi, maka dengan rasa berat Kiai Ali mau menerimanya dengan syarat hanya satu kali periode kepengurusan sampai diadakannya Muktamar ke-27 tahun 1984. Sambil menangis, dan juga diikuti tangisan haru para kiai, Kiai Ali memberikan kata sambutan dengan bahasa arab yang fasih, yang intinya menyatakan bahwa beliau bukanlah orang yang terbaik, bila selama memimpin terlihat bengkok agar diluruskan bahkan beliau siap dicampakkan atau dipecat.[9]
Kiai Ali oleh banyak kalangan disebut sebagai “penyelamat NU”, karena : 1) ketika muncul krisis kepemimpinan di NU dan kesulitan memilih orang yang tepat untuk jabatan Rois ‘Am pengganti KH Bisri Syansuri yang wafat, Kiai Ali bersedia dipilih sebagai Rois ‘Am pada 1981 melalui Munas Alim Ulama NU di Kaliurang Yogyakarta, walaupun dengan sangat berat; 2) ketika NU dilanda kemelut tahun 1983 dengan pengunduran diri DR Idham Kholid sebagai Ketua Umum PBNU (yang belakangan lalu dicabutnya kembali), akibat perseteruan antara kubu politik (kelompok “Cipete”, pimpinan DR Idham Kholid) dengan kubu ulama/non politik (kelompok “Situbondo”, pimpinan KH As’ad Syamsul Arifin), Kiai Ali tampil merangkap jabatan sebagai Rois ‘Am sekaligus Ketua Umum PBNU untuk membenahi persiapan Muktamar Situbondo 1984, yang menghasilkan keputusan strategis dan monumental, yaitu mengembalikan NU ke khittah 1926; 3) Ketika ada gejolak sebagian aktivis yang ingin, menggoyang Khittah NU 1926 dan membelokkan NU ke partai politik, serta usaha mendongkel Gus Dur dari posisi Ketua Umum PBNU di Munas Alim Ulama NU di Cilacap akhir 1987, maka dengan kewibawaan dan kekarismatikannya Kiai Ali mampu menjadi penjaga gawang-nya sehingga dapat meredam gejolak tersebut. Atas perannya ini Kia Ali secara berkelakar berkomentar: “Wah, saya ini anggota Mustasyar bagian meden-medeni (menakut-nakuti).”
Diantara jasa dan hasil capaian Kiai Ali selama memimpin NU adalah : 1) mampu mengerem usaha menjerumuskan NU ke politik praktis yang lebih dalam; 2) lahirnya keputusan NU kembali ke Khittah 1926; 3) menjaga jarak yang sama antara NU dengan partai-partai politik; 4) mengangkat wibawa ulama/syuriyah; 5) mulai terjadinya regenerasi dalam NU dengan mendorong dan memasukkan generasi muda NU kedalam struktur kepengurusan;[10] 6) hilangnya perpecahan di tubuh NU, tidak ada lagi kubu Cipete dan Situbondo, yang ada adalah kubu NU; 7) membuatkan bekal bagi pengurus dan warga NU dalam meraih sukses organisasi.[11]
Setelah Muktamar ke-27 di Situbondo, Kiyai Ali ditempatkan sebagai salah satu anggota Mustasyar PBNU bersama-sama dengan KHR As’ad Syamsul Arifin, KH DR. Idham Cholid, KH Mahrus Ali, dll.
6. Sifat Kepribadian KH Ali Maksum
Banyak sifat-sifat kepribadian Kiai Ali yang dapat dijadikan sebagai suri teladan terutama bagi para santri, dan sekaligus mempengaruhi tipologi kepemimpinannya di PP Al-Munawwir, diantaranya adalah istiqomah mengajarkan kitab kuning. Sekalipun kesibukan beliau bertumpuk-tumpuk, seperti sebagai seorang muballigh, dosen di IAIN dan pengurus NU (Rois ‘Am) yang sering keluar kota, beliau jarang sekali meninggalkan pengajian dan sorogan yang menjadi rutinitasnya sehari-hari, kecuali dalam kondisi yang sangat mendesak, terutama di akhir hayatnya yang sering sakit-sakitan.
Kiai Ali berpola hidup sederhana, zuhud, tidak terkesan hidup mewah, dan tampil apa adanya. Hal ini ditunjukkan oleh kondisi pakaiannya, tempat tinggal, kendaraan dan makanannya yang sangat sederhana, tidak terkesan mewah, bahkan bisa dikatakan tidak layak untuk ukuran dan statusnya sebagai seorang Kiai besar. Keseriusan usahanya dalam pengembangan pesantren seperti pembiayaan pembelian tanah untuk perluasan lokasi pesantren, pengadaan bangunan, fasilitas pesantren dan kegiatan-kegiatan keagamaan (konsumsi majlis taklim, dll), baik dengan dana pribadi maupun dana sumbangan dari berbagai pihak, semua itu menunjukkan sikap kezuhudannya. Bahkan, jauh sebelum wafatnya Kiai Ali sudah mempersiapkan untuk membagi-bagikan seluruh harta kekayaannya tanpa diketahui oleh siapapun dengan cara membuat catatan beberapa lembar kertas yang kemudian disimpan di lemari diantara tumpukan pakaiannya. Isinya : 1) jumlah total berbagai jenis harta benda yang dimiliki (tanah, rumah, pakaian, kendaraan, uang, dll) beserta tempat penyimpanannya, 2/3 harta benda tak bergerak dihibahkan untuk pesantren dan sisanya dihibahkan untuk anak-anaknya; 2) daftar nama orang satu persatu dari kalangan masyarakat tetangga pesantren, para sahabat dan kenalan, sanak kerabat dan putra-putrinya, lengkap dengan angka nominal dan jenis harta yang akan diterimanya, sehingga pada saat wafat, beliau sedikit pun tidak meninggalkan harta warisan. Sungguh, tindakannya ini sesuai sekali dengan isi kandungan syi’iran sholawatan berbahasa Jawa yang beliau gubah dan sering beliau lantunkan di tengah atau akhir memberikan ceramah pengajian, antara sebagai berikut :
Kulo sowan nang Pangeran // Kulo miji tanpo rencang // Tanpo sanak tanpo kadang // Bondho kulo ketilaran //.
Yen manungso sampun pejah // Uwal saking griyo sawah // Najan nangis anak simah // Nanging kempal boten betah //.
Senajan berbondho-bondho // Morine mung sarung ombo // Anak bojo moro tuwo // Yen wis nguruk banjur lungo //.
Yen urip tan kebeneran // Bondho kang sa’ pirang-pirang // Ditinggal dienggo rebutan // Anak podho keleleran //.
Yen sowan kang Moho Agung // Ojo susah ojo bingung // Janji ridhone Pangeran // Udinen nganggo amalan.[12]
Pembawaan Kiai Ali yang tenang, santun dan mengesankan, wataknya yang arif dan bijaksana, serta sifatnya yang lemah lembut, grapyak (mudah menyapa, mudah bergaul) dengan siapa saja yang ditemui, tutur katanya yang manis, serta raut wajahnya yang selalu ceria dan semringah dengan hiasan senyuman yang khas, menyebabkan beliau disukai oleh siapa saja. Demikian pula sikap beliau yang tawadhu’, tidak suka dihormati secara berlebihan apalagi dikultuskan,[13] suka memaafkan kesalahan orang,[14], serta jauh dari sifat pendendam dan dengki, menyebabkan beliau selalu dihormati dan disegani.
Pergaulan KH Ali dengan Para Santri. Kiai Ali sangat dekat hubungannya dengan para santri, dan begitu pula sebaliknya. Kiai Ali hampir hapal semua nama santri, tempat tinggalnya di lokasi pesantren, nama orang tuanya dan asal usul daerahnya. Di hadapan para santri, Kiai Ali bukanlah sosok yang menakutkan. Pada umumnya, para santri merasa takut dan lari atau bersembunyi ketika bertemu dengan kiai, akan tetapi tidak demikian terhadap Kiai Ali. Hubungan Kiai Ali dengan santri seperti layaknya hubungan bapak dengan anak. Kedekatan hubungan ini ditunjukkan oleh kesukaannya bercanda dan bergurau dengan para santrinya, baik secara individu maupun secara jamaah di pengajian. Kalaupun ada santri yang lari atau takut ketika berhadapan Kiai Ali, mereka justru akan dipanggil, baik secara langsung maupun lewat microphone untuk sekedar diajak ngobrol sambil mendengar-kan lagu-lagu kesayangannya atau menonton TV,[15] diajak jalan-jalan keliling pondok sambil mengambili sampah-sampah kering (kertas, plastik dan dedaunan), disuruh memijatnya, disuruh menyapu atau membersihkan kamar pribadinya atau halaman rumahnya, dan lain-lain, sehingga mereka tidak lagi merasa takut dan terasa begitu dekat dengan Kiai Ali.
Kiai Ali sangat rajin mendatangi kamar-kamar santri dan membangunkan mereka untuk diajak shalat subuh berjamaah. Terhadap santri yang dipandang malas dan bandel berjamaah tarawih setiap datangnya bulan Ramadhan, Kiai Ali mengadakan “Tarawih Panggilan” di kediamannya dan diimami sendiri. Ini bukan berarti memberi kesempatan atau peluang untuk bandel, akan tetapi mendidik mereka bahwa dengan sering dipanggilnya mereka, maka lama kelamaan mereka akan sadar dan malu dengan sendirinya.
Demikian pula kedekatan Kiai Ali terhadap para alumninya, yang ditunjukkan oleh seringnya beliau menitipkan salam kepada alumni lewat para tamu, wali santri, atau santri yang kebetulan kenal dan dekat tempat tinggalnya dengan alumni tersebut. Bahkan Kiai Ali sering mampir ke rumah alumni di tengah perjalanannya ke luar kota.[16] Terutama setiap ada event Haul KH Munawwir, para alumni selalu dikirimi undangan untuk meng-hadiri Haul tersebut. Dari sini dapat dikatakan bahwa kedekatan hubungan santri dengan Kiai tetap berlanjut sampai menjadi alumni.
Dalam soal ketaatan “mutlak” santri kepada kiyai hingga sampai pada tingkat pengkultusan, adalah tidak sejalan dengan pandangan kiai Ali. Ketaatan murid terhadap guru sebatas pada hal-hal yang dibenarkan oleh syari’at dan dilakukan secara wajar.[17]
Kiai Ali sangat peduli terhadap kebersihan lingkungan pondok. Beliau sering berjalan-jalan sambil mengelilingi pondok. Begitu melihat lingkungan yang kotor dengan berbagai jenis sampah, langsung saja memanggil santri yang ada di situ, terutama para santri yang tidak ikut sorogan untuk diperintah mengambili sampah-sampah tersebut dengan tangannya, karena beliau memang sangat “titen” (ingat, dan teliti) pada santri yang ikut dan yang tidak ikut sorogan. Bahkan terkadang beliau sendiri yang mengambilinya. Selain itu, beliau juga sangat peduli dengan kondisi suatu bangunan yang rusak, kumuh, atau yang tidak layak huni, langsung saja beliau mengerahkan, memimpin dan mengawasi para santri untuk kerja bakti.[18]
Ulama Intelek dan Tokoh Modernis NU. Nama KH Ali Maksum di kalangan masyarakat tidak asing lagi, karena perannya yang begitu besar di berbagai sektor, sebagai pengasuh pesantren, sebagai ulama intelek, sebagai ilmuwan, sebagai tokoh organisasi Islam, modernis NU, dan sebagai pemimpin lainnya.
Kiai Ali merupakan tipe seorang Kiai yang memiliki semangat autodidak yang tinggi. Bagi Kiai Ali, pameo “Belajar sendiri tanpa guru (misalnya mengkaji sendiri kitab yang belum pernah dingaji-kan), maka gurunya adalah syetan” dipandangnya salah kaprah dan tidak berlaku lagi. Pameo itu sebenarnya hanya berlaku khusus pada murid thariqat yang sangat membutuhkan bimbingan spiritual seorang mursyid dalam mendalami ilmu-ilmu haqiqat. Sebab, jika ilmu hakekat didalami sendiri tanpa bimbingan guru terkadang justru dapat menyesatkannya. Berbeda kondisinya dengan para santri yang mendalami ilmu-ilmu syari’at, bahwa kitab-kitab yang dikaji tersebut justru dipandang sebagai guru yang terbaik. tidak pernah berbohong, paling sabar dan tidak pernah marah. Artinya, kitab-kitab tersebut berbicara dengan bahasa tulis apa adanya, terbuka untuk dikoreksi dan dikritik. Berbeda dengan guru manusia yang suka menutupi kekurangannya dan menonjolkan kelebihannya.[19] Pandangan inilah yang melandasi Kiai Ali memiliki semangat otodidak tinggi, berwawasan luas dan dalam, serta berpandangan moderat. Bahkan pandangannya ini sering kali dilontarkan kepada para santri di tengah memberikan pengajian, sehingga mampu mendorong para santri untuk memiliki semangat otodidak yang tinggi seperti yang dimiliki oleh Kiai Ali.
Kiai-Kiai yang seangkatan dengan beliau atau yang lebih sepuh lagi, dan juga kalangan intelektual muda mengakui keluasan ilmunya. Beliau adalah ulama ahli tafsir, hadis, fiqih, bahasa Arab beserta ilmu alatnya, dan berbagai disiplin ilmu lainnya, serta menguasai berbagai macam kitab, baik yang menjadi rujukan ulama tradisional maupun ulama modernis. Bahkan penguasaannya terhadap kitab-kitab rujukan ulama modernis tersebut (seperti karya Ibnu Taimiyah, Ibnu Qayyim, Sayyid Quthub, Hassan Al-Bana, Muhammad Abduh dan lain-lain) justru melebihi dari para ulama kelompok modernis itu sendiri[20]. Julukan “Munjid Berjalan” oleh masyarakat untuk Kiai Ali Maksum menujukkan keluasan bidang keilmuan yang dikuasainya.
Di kalangan inetelektual muslim dan dunia kampus, Kiai Ali adalah seorang dosen dan guru besar ilmu tafsir di IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta yang benar-benar ahli di bidangnya dan berpandangan luas. Karena keahliannya itu pada tahun 1962, Kiai Ali bersama-sama dengan Prof. KH Anwar Musyaddad, Prof. DR. Muhtar Yahya, Prof. Hasbi Assiddiqi dan lain-lain ditunjuk oleh Menteri Agama RI sebagai anggota tim Lembaga Penyelenggara Penterjemahan Kitab Suci Al-Qur’an yang diketuai oleh Prof. R.H.A. Sunaryo, SH (Rektor IAIN Sunan Kalijaga ketika itu).
Meskipun dekat dengan kalangan akademisi dan intelektual, KH Ali tetap istiqomah mengajarkan kitab kuning kepada para santri Krapyak, dan hampir tidak ada waktu jeda untuk memberikan pengajian umum/ceramah agama kepada masyarakat, baik di pedesaan, didalam kota maupun luar kota Yogyakarta.[21]
Kiai Ali dikenal luas sebagai tokoh modernis NU, yang menjadi motor penggerak terjadinya perubahan dan pembaharuan di tubuh NU melalui sepak terjang generasi muda NU pasca Muktamar Situbondo. Kiai Ali memandang perlu agar kaum muda terutama yang memiliki pemikiran progresif dan semangat pembaharuan diberi kesempatan untuk memimpin NU ke depan. Menurut Martin van Bruinessen, sebagaimana yang dikutip oleh Zainal Arifin Thoha dalam bukunya Runtuhnya Singgasana Kiai, bahwa salah satu alasan yang mendorong Kiai Ali menerima jabatan Rois ‘Am sesungguhnya juga didorong oleh rasa ingin melindungi (gagasan-gagasan) angkatan muda NU, seperti KH Ahmad Shiddiq, KH Sahal Mahfudz, KH Abdurrahman Wachid, KH Musthofa Bisri, DR. Fahmi Saifuddin, dr. Muhammad Tohir, KH Muchid Muzadi, M. Zamroni, Mahbub Djunaidi, Masdar Farid Mas’udi dan lainnya yang kelak dikenal sebagai para penggagas Khittah. Pembelaan terhadap gagasan-gagasan progressif angkatan muda NU tidak hanya sampai di forum Muktamar ke-27 Situbondo yang mengantarkan KH Ahmad Shiddiq dan KH Abdurrahman Wachid sebagai Rois ‘Am dan Ketua Umum PBNU, juga pada Muktamar ke-28 Krapyak Yogyakarta (1989) yang juga mengantarkan keduanya untuk dikokohkan kembali sebagai Rois ‘Am dan Ketua Umum PBNU.[22]
Sejak tahun 1943 Kiai Ali pindah ke Krapyak. Yang pertama kali dirasakan Kiai Ali pada awal kepindahannya ini adalah kuatnya getaran gerakan Muhammadiyah, maklum kota Yogyakarta adalah kota kelahirannya. Kiai Ali yang dikalangan para kiai NU dikenal sebagai salah satu tokoh reformis atau modernis NU ini tidak menunjukkan sikap yang konfrontatif, akan tetapi dengan sikap penuh toleransi, kemudian gerak langkah Muhammadiyah tersebut terus diikuti perkembangannya dengan seksama. Hal ini yang mempengaruhi kebijakannya dalam memimpin pesantren Al-Munawwir, yaitu dengan membuat seimbang antara pengajian Al-Qur’an dan pengajian kitab-kitab kuning agar santri mengetahui ajaran-ajaran Islam ‘ala Ahlussunnah wal Jamaah beserta dalil-dalinya secara proporsional untuk dijadikan sebagai benteng dari pengaruh faham wahhabi yang disuarakan oleh gerakan Muhammadiyah tersebut.
Persinggungannya dengan kaum modernis nampak terlihat antara lain dari cara Kiai Ali mengupas berbagai masalah keagamaan dalam setiap pengajiannya, yang sering diperbandingkan dengan pandangan ulama pembaharu. Jiwa pembaharuan, keluasan ilmunya dan pandangannya yang moderat tidak lepas dari pengalaman masa lalunya di pesantren Tremas yang sangat gemar mengkaji berbagai jenis kitab karangan para ulama salaf dan ulama’ pembaharu,[23] ide-idenya yang segar demi kemajuan pesantren mampu mendorong terjadinya pembaharuan sistem pendidikan di Tremas. Tidak berlebihan jika Prof. DR. KH A. Mukti Ali mengatakan, bahwa Kiai Ali Maksum-lah yang menjadi motor penggerak modernisasi pesantren Tremas, dari hanya menggunakan sistem pesantren ke sistem madrasi.[24]
Bahkan dalam banyak hal pandangan Kiai Ali sejalan dengan pandangan kaum pembaharu, diantaranya seperti masalah mencari ilmu yang harus diperoleh melalui belajar (Innamal ‘ilmu bit-ta’allum) dan didukung dengan makanan yang bergizi untuk meningkatkan kecerdasan, bukan dengan mengandalkan semangat pencarian melalui laku spiritual (laduni), wirid, perilaku ngrowot dan lelakon nyeleneh lainnya. Oleh karena itu Kiai Ali hampir tidak pernah mengajak santrinya hidup prihatin atau tirakat dengan menjauhi makanan tidak bergizi, selain ibadah puasa sunnah yang disyari’atkan.
Latar belakang kehidupan keilmuan Kiai Ali yang dinamis, berwawasan yang sangat luas, dalam dan moderat, dengan dukungan referensi yang multidisipliner, serta memiliki semangat otodidak yang tinggi tersebut, sedikit banyak tentu mempengaruhi pendidikan dan pengajaran yang diberikannya kepada para santri. Tidak mengherankan jika para alumni yang pernah mendapatkan didikan dari Kiai Ali tidak sedikit yang menjadi tokoh masyarakat, intelektual, dan kiai-kiai pengasuh atau pendiri pesantren yang berwawasan luas, mendalam dan moderat disebabkan referensinya yang sangat luas, serta memiliki semangat otodidak yang tinggi.[25]
6. Wafatnya KH Ali Maksum
Ketika dilangsungkan Muktamar NU ke-28 di pesantren Al-Munawwir Krapyak, sebenarnya beliau sudah sakit sejak beberapa saat sebelumnya. Meskipun demikian, sebagai tuan rumah yang bertanggung jawab atas sukses dan tidaknya Muktamar, beliau masih sempat mengkomando panitia pelaksana yang sebagian besar adalah santrinya lewat mick speaker dari kamarnya. Ketika Presiden Soeharto dan beberapa menteri serta para kiai peserta muktamar menjenguknya, Kiai Ali juga masih sempat menerima mereka dengan berbaring di kamarnya.
Wal hasil, Muktamar dapat berjalan dengan sukses, dengan mengantarkan kembali KH Ahmad Shiddiq sebagai Rois ‘Am dan KH Abdurahman Wahid sebagai Ketua Umum PBNU untuk periode yang kedua kalinya. Seminggu setelah Muktamar, KH Ali Maksum jatuh sakit dan dirawat di RS DR Sardjito selama seminggu, kemudian wafat ketika adzan Maghrib berkumandang pada pukul 17,55 WIB di hari Kamis malam Jum’at, tanggal 7 Desember / 15 Jumadil Awwal 1989 dalam usia 74 tahun. Jenazahnya dilepas dari Masjid Pesantren Krapyak setelah shalat Jum’at dan dikebumikan berdampingan dengan makam KHM Munawwir di dusun Senggotan (Dongkelan) Tirtonirmolo Kasihan Bantul Yogyakarta.
Beliau wafat dengan meninggalkan seorang isteri, Nyai Hj. Rr. Hasyimah Munawwir dan 8 orang putra-putri : 1) Adib (wft masih kecil), 2) KH Atabik Ali, 3) H. Jirjis Ali, 4) Nyai Hj. Siti Hanifah Ali, 5) Nyai Hj. Durroh Nafisah Ali, 6) Nafi’ah (wafat masih kecil), 7) M. Rifqi Ali (Gus Kelik), dan 8) Hj. Ida Rufaidah Ali.
Selain itu beliau juga meninggalkan :
1). Lembaga pendidikan yang begitu besar (madrasah dll), yang pada masa selanjutnya dikelola oleh Yayasan Ali Maksum Pondok Peantren Krapyak Yogyakarta pimpinan KH Atabik Ali;
2). Karya tulis yang meliputi :
a. Mizanul ‘Uqul fi Ilmil Mantiq, yang berisi prinsip-prinsip dasar ilmu mantiq
b. Ash-Shorful Wadhih, yang berisi kaidah-kaidah dan amtsilatut tashrif (latihan praktis tashriful kalimah) dengan metode baru temuan KH Ali Maksum.
c. Hujjatu Ahlissunnah Wal Jama’ah, berisi kajian dalil-dalil / argumentasi syar’iyyah yang dijadikan sebagai dasar berpijak kaum nahdhiyyin dalam melaksanakan amaliah atau tradisi ke-NU-an.
d. Jawami’ul Kalim : Manqulah min ahadits al-Jami’ ash-shoghir murattabah ‘ala hurufl hijaiyyah ka ashliha, berisi koleksi hadis-hadis pendek yang mengandung pemahaman yang luas dan dalam, yang dicuplik dari kitab al-Jami’us Shoghir.
e. Ajakan Suci : Pokok-pokok Pikiran tentang NU, Pesantren dan Ulama, merupakan kumpulan makalah tulisan KH Ali Maksum yang tersebar di Majalah Bangkit, surat kabar, forum seminar, dan media cetak lainnya
f. Eling-eling Siro Manungso, yang berisi kumpulan syi’iran sholawatan berbahasa Jawa gubahan KH Ali Maksum.
Sumber :
[1] ) A. Zuhdi Mukhdlor, KH Ali Maksum : Perjuangan dan Pemikiran-Pemikirannya, Yogyakarta : Multi Karya Grafika, 1989, cet.1, halm. 6-7
[2] ) Meskipun putra seorang kiyai besar, Ali Maksum tidak suka dipanggil “Gus” sebagaimana yang lazim digunakan untuk memanggil semua putra kiyai, melaikan lebih suka dipanggil “Wak”. Mungkin kata ini berasal dari “Uwak” yang lazim digunakan sebagai panggilan kehormatan untuk orang-orang yang dituakan
[3] ) “Munjid” merupakan judul buku kamus atau ensiklopedi bahasa arab terlengkap di dunia yang ditulis oleh Louis Ma’luf dari Libanon.
[4] ) Gus Hamid atau KH Abdul Hamid dari Pasuruan, yang lebih dikenal dengan panggilan “mBah Hamid” ini merupakan seorang ulama’ kharismatik, pengasuh sebuah pesantren di Jl. Jawa Pasuruan, oleh kaum muslimin pada umumnya dipandang sebagai seorang Waliyullah yang memiliki banyak karomah. Beliau adalah seangkatan KH Ali Maksum sewaktu nyantri di pesantren Tremas, dan menjadi besannya dengan dinikahkannya Gus Nasikh bin KH Hamid dengan Ny.Hj. Durroh Nafisah binti KH Ali Maksum.
[5] ) KH A. Mukti Ali, KH Ali Ma’shum Itu Guru Saya, dalam A. Zuhdi Mukhdlor, KH Ali Ma’shum: Perjuangan …., ibid., halm. Ix.
[6] ) A. Zuhdi Muhdlor, ibid. halm. 17 (wawancara A. Zuhdi Mukhdlor dengan KH Ali Maksum, 1 Oktober 1989).
[7] ) Semua peserta harus mentaati instruksi atau tata aturan Kiyai Ali. Yang melanggar akan kena hukuman. KHA Warson pernah dihukum berdiri dan diikat di tiang masjid sampai pengajian selesai, gara-gara beliau tidak menghafalkan bait-bait alfiyah. (Wawancara dengan KHA Warson, 04-09-2010).
[8] ) A. Zuhdi Mukhdlor, op.cit., halm. 78-77.
Tentang kemasyhuran nama KH Ali Maksum dan pesantren Al-Muanwwir di dunia internasional, bahwa berkat jasa KH Ali Maksum atas kepeloporannya dalam menolak dan menggagalkan rencana penyelenggaraan Konferensi Dewan Gereja Se-Dunia di Indonesia. Kepeloporan ini ternyata gaungnya sangat kuat di Negara-negara Timur Tengah, terutama Arab Saudi, sehingga Sekjen Rabithah ‘Alam Islami, Syaikh Ali Al-Harakan mengirimkan utusan khusus menemui beliau untuk mengucapkan terima kasih, bahkan Raja Faishal dari Saudi Arabia memberi hadiah kenang-kenangan kepada beliau berupa gedung bertingkat dua yang menyatu dengan kediamannya.
[9] ) A. Zuhdi Mukhdlor, ibid., halm. 90-91
Diantara sambutannya berbunyi :
يَا اَللَّهُ اِنَّنِيْ ذَلِيْلٌ فَأَعِزَنِيْ وَ اِنَّنِيْ فَقِيْرٌ فَأَغْنِنِيْ وَ اِنَّنِيْ ضَعِيْفٌ فَقَوِنِيْ يَا اَللَّهُ يَا اَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ. يَا سَادَتِيْ اِنِّيْ قَدْ وُلِّيْتُ عَلَيْكُمْ وَلَسْتُ بِخَيْرِكُمْ وَ إِذَا رَاَيْتُمْ فِيَّ اِعْوِجَاجًا فَقَوِّمُوْنِيْ وَاعْزِلُوْنِيْ وَاطْرَحُوْنِيْ فِى الْمِزْبَلَةِ
Artinya: “Ya Alloh, sungguh kami ini hina, maka tinggikanlah kami. Kami ini fakir, maka kayakanlah. Kami ini lemah, maka kuatkanlah. Ya Arhamarrohimin. vWahai kawan-kawan, sungguh kalian telah memberi kami kekuasaan, padahal kami bukanlah orang yang terbaik diantara kalian. Karena itu,jika kalianmelihat kami berlaku bengkok, maka luruskanlah kami, tinggalkanlah kami dan bahkan campakkan kami ke tempat kotoran….”
[10] ) Salah satu pidato Kiyai Ali yang monumental soal pentingnya regenrasi, sebagai berikut :
“ …. Marilah kita terima kehadiran generasi muda, karena wujudnya generasi muda ini adalah termasuk salah satu kewajiban yang harus kita wujudkan. KApan mereka menjadi dewasa kalau tidak kita tuntun mulai sekarang, dan kapan pula mereka mempunyai rasa tanggung jawab, kalau tidak mulai sekarang kita latih untuk melaksanakan tugas perjuangan ini” (A. Zuhdi Mukhdlor, ibid., halm. 89).
[11] ) A. Zuhdi Mukhdlor, ibid., halm. 86-106
…. Begitu intens keterlibatan KH Ali Maksum dalam NU seolah NU menjadi jiwanya. Bahkan dengan serius Kiai Ali membuatkan bekal bagi pengurus dan warga NU dalam meraih sukses organisasi. Bekal yang dimaksud adalah 1) Ats-Tsiqotu bi Nahdlotul Ulama; 2) Al-Ma’rifatu wal Istiqon bi NU; 3) Al-Amalu bi Ta’limi NU; 4) Al-Jihadu fi Sabili NU; dan 5) Ash-Shobru fi sabili NU. (Ibid., halm. 98 – 106).
[12] ) Isi kandungan dari “syi’iran sholawatan” gubahan Kiai Ali tersebut mengingatkan kaum muslimin tentang kondisi kehidupan yang mesti dialami oleh setiap orang yang wafat. Ketika wafat, seseorang akan berpisah dari keluarga dan harta bendanya. Setelah mengantarkan ke kuburan, mereka akan meninggalkannya. Seluruh harta yang ditinggalkannya tidak akan dibawa, kecuali selembar kain kafan, bahkan hartan itu akan menjadi rebutan. sewaktu sowan kehadirat Alloh sendirian dan tanpa ditemani seorang pun, kamu tidak perlu susah dan bingung. Yang penting, kerjakan amal sholeh (selama masih hidup di dunia) untuk meraih ridho Allah.
[13] ) Ke-tawadhu’-an dan tidak suka dihormati secara berlebihan nampak pada sikapnya yang lebih suka dipanggil “Pak Ali” daripada “KH Ali”, “mBah Kiai Ali”. Beliau tidak menyukai orang yang mencium tangannya sambil dibolak-balik ketika bersalaman, berjalan “ngesot” ketika sowan sebagaimana yang dilakukan abdi dalem kepada rajanya di Kraton, menundukkan kepala dan diam seribu bahasa seperti patung ketika berhadapan dengan kiai dan lain-lain. Hal ini disamping untuk menghindari pengkultusan juga menunjukkan sikap ketawadhu’annya dan kedekatan hubungannya dengan para santri.
[14] ) Ketika terjadi kasus penganiayaan “pemukulan” yang dilakukan oleh pemuda Dirman (mantan santrinya yang terganggu kejiwaannya), terhadap Kiai Ali sesuai memberikan ceramah Haul almarhum KH Bisri Mustofa di pondok Rembang, semua orang dari berbagai pihak (keluarga, para santri, kaum muslimin khususnya nahdhiyyin, pemerintah, militer dll) merasa gerah dan menginginkan agar pelakunya dihukum berat, namun beliau dengan lapang dada justru memaafkannya tanpa satu pun syarat, bahkan ibunya yang jualan di pasar Lasem diberi bantuan uang untuk tambahan modal, sekalipun kasus tersebut berakibat fatal terhadap kesehatannya, dimana sejak saat itu beliau sering sakit-sakitan sampai wafatnya. (Wawancara dengan KH Atabik Ali (18-07-2010), KH. Munawwir AF (17-07-2010), dan bandingkan dengan A. Zuhdi Mukhdlor, KH Ali Maksum : Perjuangan ….., halm. 29-31
[15] ) Menurut pengakuan Prof. DR. KH Agiel Siroj, MA, bahwa sewaktu menjadi santri di Krapyak, dirinya sering diajak Kiyai Ali nonton TV bareng penampilan petinju Muhammad Ali di kamar pribadinya. Ini menunjukkan kedekatan emosional dan spiritual murid dengan guru. (M. Dawam Sukardi, Prof. DR. KH Agiel Siroj, MA :: NU Sejak Lahir , Dari Pesantren Untuk Bangsa; Kado Buat Kyai Said. Jakarta : SAS Center, 2010, halm. 40)
[16] ) Pada bulan syawal tahun 1982, setelah menghadiri acara Halal Bihalal di Surabaya, Kiyai Ali mengunjungi alumni angkatan 1970-an, H. Asa Asy’ari dan Afif Chozin di Tambak Osowilangun Benowo Surabaya, kemudian mampir ke rumah penulis dan sekaligus diajak kembali ke pesantren Krapyak. Dalam perjalanan pulang ke Yogyakarta, beliau mampir mengunjungi salah seorang pengurus PWNU Jatim, KH Hasyim Lathif di daerah Sepanjang Sidoarjo, kemudian sesampainya di Solo beliau mampir lagi mengunjungi KH Umar di PP Al-Muayyad Mangkuyudan Solo dan istirahat beberapa jam, lalu melanjutkan perjalanannya.
[17] ) Wawancara dengan Drs. KH Henry Sutopo, 17-07-2010
[18] ) Wawancara dengan KH Asyhari Abta, M.Pd.I, 18-07-2010
[19] ) Wawancara tanggal 17 Juli 2010 dengan KH A. Warson Munawwir, KH Asyhari Abta, KH Munawwir AF, KH Heri Sutopo
[20] ) M. Bibit Suprapto, Ensiklopedi Ulama Nusantara : Riwayat Hidup, Karya, dan Sejarah Perjuangan 157 Ulama Nusantara, Jakarta : Gelegar Media Indonesia, 2009, cet.1, halm
[21] ) Zainal Arifin Thoha, Runtuhnya Singgasana Kiai. NU, Pesantren dan Kekuasaan : Pencarian Tak Kunjung Usai. Yogyakarta : Kutub, 2003, cet.1, halm. 272
[22] ) Zainal Arifin Thoha, Runtuhnya Singgasana Kiai. NU, Pesantren dan Kekuasaan : Pencarian Tak Kunjung Usai. Yogyakarta : Kutub, 2003, cet.1, halm. 280
[23] ) Kegemaran dan kecintaan Kiyai Ali dalam mengkaji kitab-kitab tersebut terus berlanjut ketika menjadi pengasuh PP AL-Munawwir Krapyak. Hal ini terlihat pada banyaknya kitab-kitab yang memenuhi lemari-lemari perpustakaan pribadi di rumahnya. Saking cintanya terhadap kitab-kitab pribadi tersebut membuat Kiyai Ali terbilang “bakhil”, yakni bakhil dalam pengertian tidak akan meminjamkan kitab tersebut keluar rumah, khawatir tidak dikembalikan, karena berkali-kali kitab beliau “hilang” karena tidak dikembalikan oleh peminjamnya. Oleh karenanya, setiap lemari perpustakaan pribadinya terdapat tulisan “Boleh dibaca, Haram Dibawa”. (Wawancara dengan Drs. KH Heri Sutopo, 17 Juli 2010).
[24] ) KH A. Mukti Ali, KH Ali Ma’shum Itu Guru Saya, dalam A. Zuhdi Mukhdlor, KH Ali Ma’shum: Perjuangan ….op.cit., halm. Ix.
[25] ) Para santri alumni didikan Kiyai Ali antara lain: Prof.DR.KH A Mukti Ali (Guru Besar Fak Usuluddin IAIN Yogya, mantan Menteri Agama RI), KH A. Mustofa Bisri (Rembang), KHM Cholil Bisri (Rembang), KHM Yusuf Hasyim (Tebuireng), KH Maksum Ahmad (tanggulangin Sidoarjo : Pengasuh pesantren dan muballigh), KH Abdul Aziz Masyhuri (Jombang: Pengasuh pesantren), KH Abdurrahman Ar-Roisi (Jakarta: penulis dan muballigh), KH Masdar Farid Mas’udi, Drs. H. Slamet Efendi Yusuf, Prof.DR. KH Said Agiel Siroj, MA, Prof. DR. Yudian Wahyudi, KH Zainal Abdin Muanwwir, KH Ahmad Warson Munawwir, KH Drs, Asyhari Abta, M.Pd.I, KH Munawwir AF, KH Drs. Henry Sutopo, KH Drs, Asyahri Marzuki, Lc., KH DR. Malik Madani, MA., dan lain-lain.
KH ALI MAKSHUM
1. Masa Kecil KH Ali Makshum
KH Ali Maksum adalah putra pertama dari hasil perkawinan KH Ma’shum bin KH Ahmad Abdul Karim dengan Ny. Hj. Nuriyah binti KH Muhammad Zein Lasem, yang lahir pada tanggal 2 Maret 1915 di desa Soditan Lasem kabupaten Rembang, di tengah gencarnya kaum pembaharu (modernis) melancarkan serangan terhadap keberadaan pondok pesantren sebagai lembaga pendidikan Islam tradisional yang dipandang menghambat kebebasan berijtihad, mengembang-kan pemikiran irrasional semacam khurafat, takhayul dan bid’ah, dan sulit diajak untuk maju.
Keluarga KH Ali Maksum, sejak dari jaman kakek-kakeknya dahulu sampai jamannya adalah keluarga besar yang kehidupan sehari-harinya tidak lepas dari nilai-nilai kepesantrenan. KH Ma’shum yang terkenal dengan panggilan mBah Ma’shum ini merupakan pendiri sekaligus pengasuh pesantren Al-Hidayah di desa Soditan, Lasem, Rembang. Sejak kecil, KH Ali Maksum belajar dan dididik secara keras di pesantren ayahnya sendiri yang saat itu menjadi pusat rujukan para santri dari berbagai daerah, terutama dalam pengajaran kitab Alfiyah Ibnu Malik beserta syarahnya Ibnu ‘Aqil (Nahwu, Shorof dan Balaghah), dan kitab Jam’ul Jawami’. mBah Ma’shum berharap agar putranya nanti menjadi seorang ulama ahli fiqih, sehingga beliau menggembleng Ali kecil setiap harinya dengan pelajaran kitab-kitab fiqih. Sementara itu beliau juga mengajarkan kitab-kitab lainnya kepada para santri, terutama kitab-kitab ilmu nahwu, shorof dan balaghah. Akan tetapi kecenderungan Ali kecil justru lebih senang mempelajari kitab-kitab nahwu dan shorof. Ali kecil kemudian belajar beberapa waktu di pondoknya KH Amir di Pekalongan.
2. Menuntut Ilmu ke Pondok Tremas.
Setelah Ali memasuki usia remaja (usia 12 tahun), mBah Ma’shum berfikir untuk menitipkan pendidikan anaknya itu kepada kiai lain yang terbilang masih temannya, yakni KH Dimyati yang memimpin pesantren Tremas Pacitan (1894 – 1934), karena tidak terbiasa orang tua mendidik anak kandungnya sendiri sampai dewasa. Pada saat itu, Pesantren Tremas yang terletak di pelosok Pacitan dan hanya dapat dicapai dengan jalan kaki beberapa lama ini merupakan pesantren yang cukup popular, terkenal dan berwibawa, disebabkan oleh tiga alasan : Pertama, pesantren Tremas secara tegas menolak dan menentang penjajah Belanda, serta berusaha menghindar dari pengaruh budayanya. Kedua, sebagian besar ahli bait (keluarga) pesantren Tremas tergolong sangat ‘alim, sehingga keberadaan Tremas saat itu sebagai gudangnya ilmu agama sangat diperhitungkan. Bukti kealiman mereka terukir dalam sejarah, dengan munculnya nama Syaikh Mahfuzh at-Tarmasi (wafat di Makkah, 1918 M) di Dunia Islam yang menjadi ulama besar berkaliber internasional di Tanah Haram, penulis produktif dan guru besar di bidang hadis Shahih Bukhari serta diberi hak untuk mengajar di Masjidil Haram. Ketiga, kegiatan ilmiah di Tremas sangat intensif, karena mendapatkan dorongan sepenuhnya dari kiai dan keluarganya. Bahkan kebebasan ilmiah yang dikembangkan pesantren Tremas berakibat pada munculnya “Madrasah” kontroversial didalam pondok pada tahun 1928 yang didirikan seorang santri senior bernama Sayyid Hasan Ba’bud, dengan tenaga pengajar yang kesemuanya berasal dari luar pesantren. Kitab-kitab yang diajarkan di pesantren Tremas sangat bervariasi seperti Fathul Mu’in, Tafsir Jalalain, Minhajul Qawim, Al-Asybah wan-Nazhair, Shahih Bukhari dan Muslim, Alfiyah Ibnu Malik, dll. Mubahatsah (pembahasan) kitab berjalan setiap malam. Di samping itu didukung oleh kebijakan kiai yang memberi kesempatan kepada para santri senior yang mampu untuk mengajari santri adik kelasnya. Kondisi seperti itu lalu menumbuhkan semangat para santri untuk berkompetisi di bidang keilmuan.[1]
Dengan kondisi pesantren Tremas yang sangat mendukung pengembangan keilmuan tersebut, maka pada tahun 1927 M, Ali Maksum dikirim ke pesantren Tremas Pacitan untuk memperdalam ilmu-ilmu agama. Oleh KH Dimyati, Ali Maksum secara istimewa diminta untuk tidak tinggal di kamar-kamar santri pada umumnya, akan tetapi tinggal di komplek “ndalem”, yakni komplek keluarga KH Dimyati, satu kamar dengan Gus Muhammad, putra syaikh Mahfuzh at-Tarmasi. Keistimewaan ini barangkali merupakan rasa hormat KH Dimyati kepada KH Maksum, karena di kalangan para kiai ada semacam tradisi saling menitipkan pendidikan putranya kepada kiai lain. Dalam hal ini, KH Maksum menitipkan putranya yang bernama Ali kepada KH Dimyati di pesantren Tremas, sementara KH Dimyati sendiri menitipkan putranya yang bernama Gus Hamid Dimyati dan Habib Dimyati, kepada KH Maksum di pesantren Al-Hidayah Lasem.
Ali Maksum, yang dikalangan para santri, teman-teman dan keluarga pesantren lebih dikenal dengan panggilan Wak Ali ini,[2] nampak paling menonjol diantara para santri yang lain dan sudah menampakkan bakat-bakat keulamaannya. Hal ini bukan disebabkan oleh kebesaran nama ayahnya, akan tetapi disebabkan oleh kejeniusan otaknya, ketekunan belajarnya, kedalaman ilmunya, keluasan wawasannya, penguasaannya terhadap kitab-kitab kuning, kreatif, inovatif, kekuatan pribadinya, jiwa kepemimpinannya, dan hal-hal lainnya.
Menurut saksi mata, sebagaimana yang dituturkan oleh KH Habib Dimyati, bahwa Wak Ali setiap harinya tidak lepas dari kitab-kitab besar. Semangat belajarnya hebat melampaui usianya yang sangat muda dan melintasi batas-batas yang ditetapkan pesantren. Wak Ali sering tidak tidur sampai larut malam, sehingga tidak aneh jika kamarnya terlihat tidak rapi, karena di sana-sini banyak kitab-kitabnya berserakan dalam keadaan terbuka. Gus Muhammad, putra syaikh Mahfuzh at-Tarmisi, yang tinggal sekamar banyak berguru kepada Wak Ali dalam hal membaca kitab kuning. Maklum, meskipun lama bermukim di Makkah, Gus Muhammad lebih mengkhususkan diri pada ulumul Qur’an. Yang dipelajari Wak Ali bukan hanya terbatas pada kitab-kitab mu’tabarah karya ulama’ salaf sebagaimana yang diajarkan oleh kiainya, akan tetapi juga mempelajari kitab-kitab tulisan ulama’ pembaharu seperti kitab Tafsir Al-Manar tulisan Rasyid Ridha murid Muhamad Abduh, kitab Tafsir Al-Maraghi, kitab Fatawa tulisan Ibnu Taimiyah, kitab-kitab tulisan Ibnul Qayyim dan kitab-kitab baru lainnya. Padahal kitab-kitab tersebut menjadi larangan para kiai di beberapa pesantren tradisional untuk dibaca dan dipelajari para santrinya. KItab-kitab para pembaharu tersebut diperoleh Wak Ali dari kiriman kawan-kawannya di Tanah Haram, santri ayahnya dan keluarga Tremas yang pulang dari pergi haji. KH Dimyati selaku pengasuh pesantren sebenarnya mengetahui hal itu, apalagi Wak Ali tinggal didalam komplek nDalem, akan tetapi beliau sengaja mendiamkannya, karena Wak Ali dipadang memiliki dasar-dasar tradisi pesantren yang kuat. Bahkan memperluas wawasan dengan kitab-kitab tersebut bagi Wak Ali sangat diper-lukan sebagai muqabalah (perbandingan). Barangkali karena latar belakang referensinya yang luas inilah yang menjadikan Wak Ali sebagai seorang ulama’ yang berwawasan luas, dalam, dan berpandangan lebih moderat bila dibanding dengan para kiai alumni pesantren lainnya.
Wak Ali sangat gemar mempelajari Ilmu tafsir Al-Qur’an, yang nantinya mengantarkan dirinya menjadi seorang ulama’ ahli tafsir yang terkemula di Indonesia. Demikian pula dalam ilmu bahasa arab, Wak Ali sangat menguasai kitab-kitab nahwu tingkat tinggi seperti kitab Dahlan, Asymuni, Alfiyah Ibnu Malik dan syawahid-nya, sehingga di kemudian hari mengantarkannya menjadi seorang pakar ahli bahasa Arab yang terkenal. Julukan “Munjid berjalan”[3] untuk KH. Ali Maksum menunjukkan penguasaannya di bidang bahasa Arab beserta cabang-cabangnya. Atas kegemaran, ketekunan dan keahlian inilah yang mengantarkan KH Ali Maksum berhasil menciptakan metode baru dalam pembelajaran ilmu shorof yang dinilai cukup praktis dan efektif, yang kemudian diberi judul “Ash-Sharful Wadhih”. Metode ini berbeda dengan metode shorof yang sudah mapan saat itu, misalnya metode tashrif susunan Kiyai Muhammad Ma’shum bin Ali dari Jombang dalam bukunya yang berjudul “Al-Amtsilah at-Tashrifiyah”.
Kegemaran lain Wak Ali di bidang keilmuan adalah menghafal dan mempelajari secara intens syiir-syiir dan butir-butir kalam hikmah yang sangat berguna kelak ketika menjadi seorang ulama’ besar, dimana setiap ada kesempatan dalam berpidato, berceramah, mengajar, memberikan pembinaan dan lain-lain, sering keluar dari mulutnya untaian kalam hikmah dan syiir-syiir tersebut.
Wak Ali Maksum yang sejak muda tidak gemar tirakat, puasa ngrowot dan perilaku nyeleneh lainnya sebagaimana yang dilakukan oleh sebagian santri di pesantren-pesantren salafiyah pada umumnya ini juga memiliki kegemaran musik. Beliau suka memukul-mukul daun pintu atau apa saja yang ditemui dengan ujung jarinya untuk mengiringi alunan nyanyian, dan bahkan menyukai lagu-lagu berbahasa inggris yang diiringi musik jazz. Kegemaran ini masih terbawa ketika sudah menjadi seorang kiyai yang mengasuh pesantren Krapyak, dimana lagu-lagu jazz tersebut sering diputar dan didengarkan didalam kamar pribadinya sambil beliau dipijiti para santri, bahkan terkadang suaranya sampai keluar melalui mic speaker sehingga para santri ikut menikmati lagu-lagu tersebut. Dalam bidang olahraga, Wak Ali sama sekali tidak memiliki kegemaran, kecuali gemar membersihkan lingkungan pondok dari daun-daun kering, mengambili kertas-kertas bekas dan sampah kering lainnya. Berbeda dengan Gus Hamid[4] dari Pasuruan yang gemar main sepakbola.
Mengingat kejeniusannya, ketekunan belajarnya, kedalaman dan keluasan ilmunya, penguasaannya terhadap kitab-kitab kuning, dan bakat keulamaannya, Wak Ali dipercaya oleh KH Dimyati untuk mengajar para santri dalam usia yang sangat muda. Dalam menjalankan tugas mengajar, Wak Ali sangat menguasai materi kitab yang dibebankan kepadanya, tegas, disiplin dan simpatik. Oleh karenanya, beliau memperoleh kedudukan yang terhormat di kalangan keluarga pesantren dan santri.
Dikalangan para santri, teman-teman dan keluarga pesantren, Wak Ali adalah “simbol keteladanan”. Beliau bersama-sama dengan Gus Hamid Dimyati, Gus Rahmat Dimyati dan Gus Muhammad bin Syaikh Mahfuzh at-Tirmasi sangat populer dengan sebutan “Empat Serangkai”, karena dari merekalah muncul ide-ide segar untuk memajukan dan mengembangkan pesantren Tremas. Diantaranya adalah ide dari Wak Ali tentang perlunya menerapkan sistem madrasi dalam sistem pendidikan pesantren Tremas, dengan tenaga pengajar dari dalam pesantren sendiri. Semula ide ini ditolak oleh KH Dimyati, karena trauma dengan pendirian madrasah kontroversial oleh Sayyid Hasan Ba’bud. Setelah konsep dari ide tersebut dipandangnya jelas dan mendukung kemajuan pesantren, maka KH Dimyati mengijinkan berdirinya madrasah tersebut, dengan Wak Ali Maksum sebagai direkturnya. Kesempatan ini dipergunakan sebaik-baiknya oleh Wak Ali, yang ketika itu baru berusia 19 tahun, untuk melakukan pembaharuan di bidang metode pengajaran dan kurikulumnya, diantaranya dengan cara memasukkan kitab-kitab baru karya ulama modern kedalam kurikulumnya, seperti kitab Qiroatur Rosyidah, an-Nahwul Wadhih dan lain-lain. Setelah Wak Ali Maksum pulang “boyongan” ke Lasem, kepemimpinan madrasah diserahkan kepada Gus Hamid Dimyati sebagai direktur dan A. Mukti Ali sebagai wakilnya. Oleh karena itu tidak berlebihan jika Prof. DR. KH A. Mukti Ali berkomentar, bahwa Ali Maksum-lah yang menjadi motor penggerak modernisasi pesantren Tremas, dari hanya meng-gunakan sistem pesantren ke sistem madrasi. [5]
3. Berguru ke Tanah Haram Makkah.
Sepulangnya ke Lasem pada tahun 1935, KH Ali Maksum membantu ayahnya mengajar di pesantren Al-Hidayah, terutama dalam disiplin ilmu bahasa arab dan Tafsir Al-Qur’an yang menjadi kegemaran dan spesialisasinya selama belajar di pesantren Tremas. Selain mengajar, KH Ali Maksum juga membenahi sistem pendidikan dan pengajaran pesantren. Semangat pembaharuan mulai beliau tiupkan, dan ternyata mendapatkan dukungan dari berbagai pihak, karena pembaharuan yang diterapkannya sama sekali tidak mengancam keberadaan pesantren berikut segala pranatanya, melainkan justru menguatkan-nya. Pembaharuan yang beliau lakukan tetap berpedoman pada prinsip: Al-Muhafazhatu ‘alal qadimis shalih, wal akhdzu bil jadidil ashlah, yaitu mempertahankan tradisi lama yang masih baik (layak) dan mengambil tradisi baru yang lebih baik.
Pada tahun 1938, KH Ali Maksum menikahi Rr. Hasyimah putri KHM Munawwir. Beberapa hari setelah pernikahannya, seseorang bernama H. Junaid dari Kauman Yogyakarta melalui KH Maksum menawarkan tiket gratis kepada KH Ali Maksum untuk beribadah haji. Sebulan kemudian, KH Ali Maksum bertolak menuju Makkah lewat pelabuhan Semarang, dan kesempatan tawaran beribadah ini sekaligus digunakan untuk thalabul ilmi, mengaji kepada beberapa ulama’ besar di Makkah, diantaranya berguru kepada Sayyid Alwi Abbas Al-Maliki (ayah Sayyid DR. Muhammad Alwi Abbas Al-Maliki) untuk mengaji kitab Al-Luma’ dan lain-lain, juga berguru kepada Syaikh Umar Hamdan untuk mengaji kitab Shahih Bukhari dan kitab hadis lainnya, serta memperluas wawasan dengan mengkaji kitab-kitab kaum modernis seperti karya Muhammad Abduh, M. Rasyid Ridha, Jalaluddin Al-Afghani, dan lain-lain.
Selama dua tahun tinggal di Makkah, berarti dua kali pula Ali Maksum menunaikan ibadah Haji. Selama itu pula, Ali Maksum berhubungan dengan para masyayikh, sesama para pelajar dan jamaah haji Indonesia. Kepada jamaah haji yang dikenalnya, ia menitipkan kitab-kitabnya untuk dibawa ke Lasem, terutama kitab-kitab baru tulisan para ulama’ pembaharu, disamping kitab-kitab yang ia tumpuk untuk dibawa sendiri pada tahun 1940.[6]
4. Menjadi Pengasuh Pondok Pesantren Al-Munawwir Krapyak YogyakartaSepeninggal K.H.M. Munawwir, sesuai dengan wasiat dan kesepakatan kekuarga, kepemimpinan pesantren kemudian diambil alih oleh kakak beradik, K.H.R. Abdullah Afandi Munawwir dan K.H.R. Abdul Qodir Munawwir. K.H.R. Abdullah Afandi Munawwir bertugas sebagai penanggung jawab dalam urusan sarana prasarana pesantren dan hubungan dengan luar pesantren, dan K.H.R. Abdul Qodir Munawwir bertugas sebagai penanggung jawab dalam urusan pengajaran Al-Qur’an. Namun satu persatu santri pulang meninggalkan pesantren, dan belum genap 100 hari wafatnya, jumlah santri tinggal puluhan orang. Bersamaan dengan itu, masuknya penjajah Jepang ke Indonesia semakin memperparah kondisi pesantren, sehingga santri tinggal beberapa orang, padahal jumlah santri saat wafatnya K.H.M. Munawwir mencapai 200-an lebih. Walaupun demikian, aktifitas kepesantrenan (pengajian Al-Qur’an) tetap berjalan seperti masa-masa sebelumnya dengan jumlah santri apa adanya.
Dari fenomena ini sementara dapat disimpulkan bahwa kewibawaan dan kekharismaan K.H.M. Munawwir merupakan faktor penyebab kebesaran pesantren, dan hal ini ternyata tidak mampu diatasi oleh penggantinya selaku turunan langsung yang secara tradisional mewarisi kepemimpinan dan kharisma dari ayahnya. Kondisi ini membuat keluarga besar K.H.M. Munawwir merasa resah dan khawatir terhadap kelestarian pesantren ke depan. Maka pada tahun 1943, musyawarah keluarga Bani Munawwir memutus-kan untuk mengirim delegasi menemui Kiai Ali (menantu K.H.M. Munawwir), yang saat itu telah berhasil membenahi sistem pendidikan pesantren ayahnya di Lasem dan mampu mendongkrak jumlah santri, agar bersedia diajak ”hijrah” ke Krapyak untuk mengatasi krisis tersebut. Namun ajakan ini ditolak tegas oleh Kiai Ali Maksum. Beberapa bulan kemudian, datang lagi utusan ke Lasem. Kali ini yang datang adalah Nyai Sukis sendiri (isteri K.H.M. Munawwir, ibu mertua Kiai Ali) dengan didampingi K.H.R. Abdullah Afandi Munawwir, yang mengharap dengan sangat agar Kiai Ali bersedia diboyong ke Krapyak. Akhirnya kekerasan hati Kiai Ali luluh dan menerima ajakan itu. Sejak kepindahan Kiai Ali ke Krapyak ini (1943), pesantren Al-Munawwir di bawah kepemimpinan ”tiga serangkai” dengan pembagian tugas sebagai berikut :
1). K.H.R. Abdullah Affandi (putra, wafat 1968), dengan tugas sebagai pimpinan umum, menangani urusan sarana-prasarana dan hubungan dengan dunia luar pesantren
2). K.H.R. Abdul Qadir (putra, wafat 1961)), dengan tugas sebagai pengasuh Tahfizh Al-Qur’an dan urusan intern pesantren
3). K.H. Ali Maksum (menantu), sebagai penanggung jawab urusan pengajaran kitab-kitab kuning dan pembenahan sistem pendidikannya.
Dari ketiga pemimpin tersebut, Kiai Ali merupakan orang yang memiliki kelebihan. Disamping keahlian, kedalaman dan keluasan wawasan di bidang keilmuan, juga dipandang lebih mumpuni, lebih dewasa, lebih berpengalaman dan lebih siap memimpin pesantren. Dengan bermodalkan pengalaman dan potensi yang dimiliki selama menjadi santri di pesantren Tremas dan membenahi pesantren ayahnya di Lasem, serta tugas berat ”amanah” yang dibebankan kepadanya tersebut, Kiai Ali mulai mencurahkan segala tenaga dan pikirannya untuk mencari titik-titik lemah yang menjadi sumber kemunduran beserta jalan keluarnya, kemudian menetapkan beberapa langkah strategis, diantaranya: 1) perlunya kaderisasi ulama / tenaga pengajar inti dari dalam pesantren, dan 2) perlunya pengembangan sistem pendidikan-pengajaran dan kurikulum pesantren.
Selama dua tahun pertama (antara tahun 1943 – 1944), aktifitas secara intensif difokuskan pada usaha kaderisasi ulama, tenaga pengajar dan pengelola dari lingkungan keluarga pesantren, dengan melibatkan seluruh putra dan menantu K.H.M. Munawwir, serta tetangga. Sedangkan aktifitas kepesantrenan (pengajaran Al-Qur’an) dan penerimaan santri dari luar untuk sementara dibekukan. Peserta yang mengikuti pengkaderan terdiri dari : KHR Abdul Qodir Munawwir (pengasuh), KH Zaini Munawwir, KH Zainal Abidin Munawwir, KH Ahmad Munawwir, KH Dalhar Munawwir, KH A. Warson Munawwir, KH Nawawi Abdul Aziz (menantu), KH Mufid Mas’ud (menantu), KH Habib Dimyati (Tremas), H. Wardan Junaid (Kauman Yogyakarta), Abdul Hamid (tetangga, Krapyak), dan KH. Zuhdi Dahlan (tetangga, Jogokaryan). Murid-murid pertama ini tidak mengecewakan dan tidak satupun diantara mereka yang “melorot” (kendur) semangatnya, padahal mereka harus mengikuti pengajian berbagai macam kitab kuning dengan sistem halaqah/weton dan sorogan, sejak sehabis sholat subuh sampai pukul 21.00 secara nonstop, kecuali sekedar waktu untuk shalat dan makan, dan disiplin yang diterapkan betul-betul sangat ketat, terutama yang diterapkan kepada peserta ahlul bait (keluarga pesantren).[7]
Hasilnya, seluruh peserta kaderisasi memiliki kesiapan dalam segala hal untuk bersama-sama mengelola, memajukan dan mengembangkan pesantren. Mereka menjalankan tugas, wewenang, dan aktifitas sesuai dengan bidang keahliannya masing-masing. Maka dalam jangka waktu yang relatif singkat, pesantren Al-Munawwir selama dalam kepengasuhan Kiai Ali mengalami perkembangan pesat setahap demi setahap. Hal ini ditandai dengan :
a) Berkembangnya sistem pendidikan yang tidak lagi dipusatkan pada pengajaran Al-Qur’an, akan tetapi juga pada kajian kitab kuning, yang keduanya dapat berjalan secara seimbang, sehingga menjadi aktifitas utama sekaligus menjadi ciri khas pesantren.
b) Berdirinya lembaga-lembaga pendidikan formal/klasikal dalam bentuk madrasah, meliputi : 1). Madrasah Ibtidaiyah putra 4 tahun (1946); 2) Madrasah Tsanawiyah Putra 3 tahun (1947) dan SMP Eksakta Alam (1951-1954); 3) Madrasah Banat (1951); 4) M. Aliyah Salafiyah putra 3 tahun (1955); 5) Madrasatul Huffazh (1955); 6) TK (1957); 7) Madrasah Diniyah (1960); 7) Tsanawiyah 6 tahun (1962-1986); 6) MTs dan Aliyah 3 tahun (1987);
c) semakin bervariasi (santri takhassus, santri kalong, sekolah didalam dan diluar pesantren) dan meningkatnya jumlah santri yang tertarik belajar di pesantren Krapyak;
d) semakin terkenalnya nama pesantren di tingkat Nasional dan dunia internasional, terutama di negara-negara Timur Tengah,[8] apalagi semenjak Kiai Ali menjadi Rois ’Am (1981-1984) dan menjadi tuan rumah Muktamar NU ke-28 (1989), kepopuleran dan peran pesantren Al-Munawwir diperhitungkan oleh berbagai pihak.
Disebabkan oleh perannya yang begitu besar sebagai motivator, dinamisator, katalisator, inspirator (penggagas) kaderisasi ulama dalam kepemimpinan pesantren, dan sebagai power bagi komunitas yang dipimpinnya, serta sebagai sumber pengetahuan, maka dari sudut ini, Kiai Ali dapat dipandang sebagai sesepuh Krapyak, sekaligus sebagai pembangun pesantren yang sebelumnya telah dirintis dan didirikan oleh K.H.M. Munawwir.
5. Pengabdiannya di Jam’iyyah NU
Di sela-sela kesibukannya sebagai pengajar dan pengasuh pesantren Al-Munawwir Krapyak, Kiai Ali sejak masa-masa awal sudah simpatik terhadap jam’iyyah NU. Terutama sekitar tahun 1950-an ketika suhu politik memanas akibat semakin nyaringnya suara kaum nahdhiyyin untuk keluar dari Masyumi, dan terealisir ketika Muktamar di Palembang tahun 1952 yang memu-tuskan NU keluar dari Masyumi dan mendirikan partai “NU” sendiri. Untuk menghadapi Pemilu pertama tahun 1955, Kiai Ali mulai aktif berkampanye untuk partai NU dengan cara tidak langsung turun ke lapangan sebagai jurkam, melainkan lewat pendidikan kader kepada para santri Krapyak dan melalui pembicaraan non formal dengan para tamu yang sowan ke rumahnya. Hasilnya, Partai NU memperoleh suara terbanyak rangking ketiga setelah PNI dan PKI. Dari Pemilu tersebut, Kiai Ali akhirnya terpilih menjadi anggota konstituante yang mewakili NU Yogyakarta.
Pada tahun 1960-an, tatkala PKI tengah gencar memusuhi kaum muslimin dan mengancam para kiai, Kiai Ali justru diminta menjadi Rois Syuriyah PWNU propinsi D.I.Yogyakarta secara terus menerus sampai beliau dikukuhkan sebagai Rois ‘Am PBNU menggantikan posisi KH Bisri Syansuri yang wafat, melalui Munas Alim Ulama NU di Kaliurang Sleman Yogyakarta, 30 Agustus – 2 September 1981.
Kiai Ali sebenarnya kurang tertarik dengan dunia politik praktis dan menolak keras ketika dicalonkan sebagai Rois ‘Am. Berulang kali Kiyai Ali mengatakan, “Demi Allah, jangan dipilih”, mengingat dorongan yang sangat kuat dari banyak kiyai, terutama pendapat KH Ahmad Shiddiq di forum Munas: “Saya tidak melihat seorang pun yang lebih cocok untuk menjadi Rois Am daripada KH Ali Maksum”, dan ternyata kemudian disetujui oleh farum Munas secara aklamasi, maka dengan rasa berat Kiai Ali mau menerimanya dengan syarat hanya satu kali periode kepengurusan sampai diadakannya Muktamar ke-27 tahun 1984. Sambil menangis, dan juga diikuti tangisan haru para kiai, Kiai Ali memberikan kata sambutan dengan bahasa arab yang fasih, yang intinya menyatakan bahwa beliau bukanlah orang yang terbaik, bila selama memimpin terlihat bengkok agar diluruskan bahkan beliau siap dicampakkan atau dipecat.[9]
Kiai Ali oleh banyak kalangan disebut sebagai “penyelamat NU”, karena : 1) ketika muncul krisis kepemimpinan di NU dan kesulitan memilih orang yang tepat untuk jabatan Rois ‘Am pengganti KH Bisri Syansuri yang wafat, Kiai Ali bersedia dipilih sebagai Rois ‘Am pada 1981 melalui Munas Alim Ulama NU di Kaliurang Yogyakarta, walaupun dengan sangat berat; 2) ketika NU dilanda kemelut tahun 1983 dengan pengunduran diri DR Idham Kholid sebagai Ketua Umum PBNU (yang belakangan lalu dicabutnya kembali), akibat perseteruan antara kubu politik (kelompok “Cipete”, pimpinan DR Idham Kholid) dengan kubu ulama/non politik (kelompok “Situbondo”, pimpinan KH As’ad Syamsul Arifin), Kiai Ali tampil merangkap jabatan sebagai Rois ‘Am sekaligus Ketua Umum PBNU untuk membenahi persiapan Muktamar Situbondo 1984, yang menghasilkan keputusan strategis dan monumental, yaitu mengembalikan NU ke khittah 1926; 3) Ketika ada gejolak sebagian aktivis yang ingin, menggoyang Khittah NU 1926 dan membelokkan NU ke partai politik, serta usaha mendongkel Gus Dur dari posisi Ketua Umum PBNU di Munas Alim Ulama NU di Cilacap akhir 1987, maka dengan kewibawaan dan kekarismatikannya Kiai Ali mampu menjadi penjaga gawang-nya sehingga dapat meredam gejolak tersebut. Atas perannya ini Kia Ali secara berkelakar berkomentar: “Wah, saya ini anggota Mustasyar bagian meden-medeni (menakut-nakuti).”
Diantara jasa dan hasil capaian Kiai Ali selama memimpin NU adalah : 1) mampu mengerem usaha menjerumuskan NU ke politik praktis yang lebih dalam; 2) lahirnya keputusan NU kembali ke Khittah 1926; 3) menjaga jarak yang sama antara NU dengan partai-partai politik; 4) mengangkat wibawa ulama/syuriyah; 5) mulai terjadinya regenerasi dalam NU dengan mendorong dan memasukkan generasi muda NU kedalam struktur kepengurusan;[10] 6) hilangnya perpecahan di tubuh NU, tidak ada lagi kubu Cipete dan Situbondo, yang ada adalah kubu NU; 7) membuatkan bekal bagi pengurus dan warga NU dalam meraih sukses organisasi.[11]
Setelah Muktamar ke-27 di Situbondo, Kiyai Ali ditempatkan sebagai salah satu anggota Mustasyar PBNU bersama-sama dengan KHR As’ad Syamsul Arifin, KH DR. Idham Cholid, KH Mahrus Ali, dll.
6. Sifat Kepribadian KH Ali Maksum
Banyak sifat-sifat kepribadian Kiai Ali yang dapat dijadikan sebagai suri teladan terutama bagi para santri, dan sekaligus mempengaruhi tipologi kepemimpinannya di PP Al-Munawwir, diantaranya adalah istiqomah mengajarkan kitab kuning. Sekalipun kesibukan beliau bertumpuk-tumpuk, seperti sebagai seorang muballigh, dosen di IAIN dan pengurus NU (Rois ‘Am) yang sering keluar kota, beliau jarang sekali meninggalkan pengajian dan sorogan yang menjadi rutinitasnya sehari-hari, kecuali dalam kondisi yang sangat mendesak, terutama di akhir hayatnya yang sering sakit-sakitan.
Kiai Ali berpola hidup sederhana, zuhud, tidak terkesan hidup mewah, dan tampil apa adanya. Hal ini ditunjukkan oleh kondisi pakaiannya, tempat tinggal, kendaraan dan makanannya yang sangat sederhana, tidak terkesan mewah, bahkan bisa dikatakan tidak layak untuk ukuran dan statusnya sebagai seorang Kiai besar. Keseriusan usahanya dalam pengembangan pesantren seperti pembiayaan pembelian tanah untuk perluasan lokasi pesantren, pengadaan bangunan, fasilitas pesantren dan kegiatan-kegiatan keagamaan (konsumsi majlis taklim, dll), baik dengan dana pribadi maupun dana sumbangan dari berbagai pihak, semua itu menunjukkan sikap kezuhudannya. Bahkan, jauh sebelum wafatnya Kiai Ali sudah mempersiapkan untuk membagi-bagikan seluruh harta kekayaannya tanpa diketahui oleh siapapun dengan cara membuat catatan beberapa lembar kertas yang kemudian disimpan di lemari diantara tumpukan pakaiannya. Isinya : 1) jumlah total berbagai jenis harta benda yang dimiliki (tanah, rumah, pakaian, kendaraan, uang, dll) beserta tempat penyimpanannya, 2/3 harta benda tak bergerak dihibahkan untuk pesantren dan sisanya dihibahkan untuk anak-anaknya; 2) daftar nama orang satu persatu dari kalangan masyarakat tetangga pesantren, para sahabat dan kenalan, sanak kerabat dan putra-putrinya, lengkap dengan angka nominal dan jenis harta yang akan diterimanya, sehingga pada saat wafat, beliau sedikit pun tidak meninggalkan harta warisan. Sungguh, tindakannya ini sesuai sekali dengan isi kandungan syi’iran sholawatan berbahasa Jawa yang beliau gubah dan sering beliau lantunkan di tengah atau akhir memberikan ceramah pengajian, antara sebagai berikut :
Kulo sowan nang Pangeran // Kulo miji tanpo rencang // Tanpo sanak tanpo kadang // Bondho kulo ketilaran //.
Yen manungso sampun pejah // Uwal saking griyo sawah // Najan nangis anak simah // Nanging kempal boten betah //.
Senajan berbondho-bondho // Morine mung sarung ombo // Anak bojo moro tuwo // Yen wis nguruk banjur lungo //.
Yen urip tan kebeneran // Bondho kang sa’ pirang-pirang // Ditinggal dienggo rebutan // Anak podho keleleran //.
Yen sowan kang Moho Agung // Ojo susah ojo bingung // Janji ridhone Pangeran // Udinen nganggo amalan.[12]
Pembawaan Kiai Ali yang tenang, santun dan mengesankan, wataknya yang arif dan bijaksana, serta sifatnya yang lemah lembut, grapyak (mudah menyapa, mudah bergaul) dengan siapa saja yang ditemui, tutur katanya yang manis, serta raut wajahnya yang selalu ceria dan semringah dengan hiasan senyuman yang khas, menyebabkan beliau disukai oleh siapa saja. Demikian pula sikap beliau yang tawadhu’, tidak suka dihormati secara berlebihan apalagi dikultuskan,[13] suka memaafkan kesalahan orang,[14], serta jauh dari sifat pendendam dan dengki, menyebabkan beliau selalu dihormati dan disegani.
Pergaulan KH Ali dengan Para Santri. Kiai Ali sangat dekat hubungannya dengan para santri, dan begitu pula sebaliknya. Kiai Ali hampir hapal semua nama santri, tempat tinggalnya di lokasi pesantren, nama orang tuanya dan asal usul daerahnya. Di hadapan para santri, Kiai Ali bukanlah sosok yang menakutkan. Pada umumnya, para santri merasa takut dan lari atau bersembunyi ketika bertemu dengan kiai, akan tetapi tidak demikian terhadap Kiai Ali. Hubungan Kiai Ali dengan santri seperti layaknya hubungan bapak dengan anak. Kedekatan hubungan ini ditunjukkan oleh kesukaannya bercanda dan bergurau dengan para santrinya, baik secara individu maupun secara jamaah di pengajian. Kalaupun ada santri yang lari atau takut ketika berhadapan Kiai Ali, mereka justru akan dipanggil, baik secara langsung maupun lewat microphone untuk sekedar diajak ngobrol sambil mendengar-kan lagu-lagu kesayangannya atau menonton TV,[15] diajak jalan-jalan keliling pondok sambil mengambili sampah-sampah kering (kertas, plastik dan dedaunan), disuruh memijatnya, disuruh menyapu atau membersihkan kamar pribadinya atau halaman rumahnya, dan lain-lain, sehingga mereka tidak lagi merasa takut dan terasa begitu dekat dengan Kiai Ali.
Kiai Ali sangat rajin mendatangi kamar-kamar santri dan membangunkan mereka untuk diajak shalat subuh berjamaah. Terhadap santri yang dipandang malas dan bandel berjamaah tarawih setiap datangnya bulan Ramadhan, Kiai Ali mengadakan “Tarawih Panggilan” di kediamannya dan diimami sendiri. Ini bukan berarti memberi kesempatan atau peluang untuk bandel, akan tetapi mendidik mereka bahwa dengan sering dipanggilnya mereka, maka lama kelamaan mereka akan sadar dan malu dengan sendirinya.
Demikian pula kedekatan Kiai Ali terhadap para alumninya, yang ditunjukkan oleh seringnya beliau menitipkan salam kepada alumni lewat para tamu, wali santri, atau santri yang kebetulan kenal dan dekat tempat tinggalnya dengan alumni tersebut. Bahkan Kiai Ali sering mampir ke rumah alumni di tengah perjalanannya ke luar kota.[16] Terutama setiap ada event Haul KH Munawwir, para alumni selalu dikirimi undangan untuk meng-hadiri Haul tersebut. Dari sini dapat dikatakan bahwa kedekatan hubungan santri dengan Kiai tetap berlanjut sampai menjadi alumni.
Dalam soal ketaatan “mutlak” santri kepada kiyai hingga sampai pada tingkat pengkultusan, adalah tidak sejalan dengan pandangan kiai Ali. Ketaatan murid terhadap guru sebatas pada hal-hal yang dibenarkan oleh syari’at dan dilakukan secara wajar.[17]
Kiai Ali sangat peduli terhadap kebersihan lingkungan pondok. Beliau sering berjalan-jalan sambil mengelilingi pondok. Begitu melihat lingkungan yang kotor dengan berbagai jenis sampah, langsung saja memanggil santri yang ada di situ, terutama para santri yang tidak ikut sorogan untuk diperintah mengambili sampah-sampah tersebut dengan tangannya, karena beliau memang sangat “titen” (ingat, dan teliti) pada santri yang ikut dan yang tidak ikut sorogan. Bahkan terkadang beliau sendiri yang mengambilinya. Selain itu, beliau juga sangat peduli dengan kondisi suatu bangunan yang rusak, kumuh, atau yang tidak layak huni, langsung saja beliau mengerahkan, memimpin dan mengawasi para santri untuk kerja bakti.[18]
Ulama Intelek dan Tokoh Modernis NU. Nama KH Ali Maksum di kalangan masyarakat tidak asing lagi, karena perannya yang begitu besar di berbagai sektor, sebagai pengasuh pesantren, sebagai ulama intelek, sebagai ilmuwan, sebagai tokoh organisasi Islam, modernis NU, dan sebagai pemimpin lainnya.
Kiai Ali merupakan tipe seorang Kiai yang memiliki semangat autodidak yang tinggi. Bagi Kiai Ali, pameo “Belajar sendiri tanpa guru (misalnya mengkaji sendiri kitab yang belum pernah dingaji-kan), maka gurunya adalah syetan” dipandangnya salah kaprah dan tidak berlaku lagi. Pameo itu sebenarnya hanya berlaku khusus pada murid thariqat yang sangat membutuhkan bimbingan spiritual seorang mursyid dalam mendalami ilmu-ilmu haqiqat. Sebab, jika ilmu hakekat didalami sendiri tanpa bimbingan guru terkadang justru dapat menyesatkannya. Berbeda kondisinya dengan para santri yang mendalami ilmu-ilmu syari’at, bahwa kitab-kitab yang dikaji tersebut justru dipandang sebagai guru yang terbaik. tidak pernah berbohong, paling sabar dan tidak pernah marah. Artinya, kitab-kitab tersebut berbicara dengan bahasa tulis apa adanya, terbuka untuk dikoreksi dan dikritik. Berbeda dengan guru manusia yang suka menutupi kekurangannya dan menonjolkan kelebihannya.[19] Pandangan inilah yang melandasi Kiai Ali memiliki semangat otodidak tinggi, berwawasan luas dan dalam, serta berpandangan moderat. Bahkan pandangannya ini sering kali dilontarkan kepada para santri di tengah memberikan pengajian, sehingga mampu mendorong para santri untuk memiliki semangat otodidak yang tinggi seperti yang dimiliki oleh Kiai Ali.
Kiai-Kiai yang seangkatan dengan beliau atau yang lebih sepuh lagi, dan juga kalangan intelektual muda mengakui keluasan ilmunya. Beliau adalah ulama ahli tafsir, hadis, fiqih, bahasa Arab beserta ilmu alatnya, dan berbagai disiplin ilmu lainnya, serta menguasai berbagai macam kitab, baik yang menjadi rujukan ulama tradisional maupun ulama modernis. Bahkan penguasaannya terhadap kitab-kitab rujukan ulama modernis tersebut (seperti karya Ibnu Taimiyah, Ibnu Qayyim, Sayyid Quthub, Hassan Al-Bana, Muhammad Abduh dan lain-lain) justru melebihi dari para ulama kelompok modernis itu sendiri[20]. Julukan “Munjid Berjalan” oleh masyarakat untuk Kiai Ali Maksum menujukkan keluasan bidang keilmuan yang dikuasainya.
Di kalangan inetelektual muslim dan dunia kampus, Kiai Ali adalah seorang dosen dan guru besar ilmu tafsir di IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta yang benar-benar ahli di bidangnya dan berpandangan luas. Karena keahliannya itu pada tahun 1962, Kiai Ali bersama-sama dengan Prof. KH Anwar Musyaddad, Prof. DR. Muhtar Yahya, Prof. Hasbi Assiddiqi dan lain-lain ditunjuk oleh Menteri Agama RI sebagai anggota tim Lembaga Penyelenggara Penterjemahan Kitab Suci Al-Qur’an yang diketuai oleh Prof. R.H.A. Sunaryo, SH (Rektor IAIN Sunan Kalijaga ketika itu).
Meskipun dekat dengan kalangan akademisi dan intelektual, KH Ali tetap istiqomah mengajarkan kitab kuning kepada para santri Krapyak, dan hampir tidak ada waktu jeda untuk memberikan pengajian umum/ceramah agama kepada masyarakat, baik di pedesaan, didalam kota maupun luar kota Yogyakarta.[21]
Kiai Ali dikenal luas sebagai tokoh modernis NU, yang menjadi motor penggerak terjadinya perubahan dan pembaharuan di tubuh NU melalui sepak terjang generasi muda NU pasca Muktamar Situbondo. Kiai Ali memandang perlu agar kaum muda terutama yang memiliki pemikiran progresif dan semangat pembaharuan diberi kesempatan untuk memimpin NU ke depan. Menurut Martin van Bruinessen, sebagaimana yang dikutip oleh Zainal Arifin Thoha dalam bukunya Runtuhnya Singgasana Kiai, bahwa salah satu alasan yang mendorong Kiai Ali menerima jabatan Rois ‘Am sesungguhnya juga didorong oleh rasa ingin melindungi (gagasan-gagasan) angkatan muda NU, seperti KH Ahmad Shiddiq, KH Sahal Mahfudz, KH Abdurrahman Wachid, KH Musthofa Bisri, DR. Fahmi Saifuddin, dr. Muhammad Tohir, KH Muchid Muzadi, M. Zamroni, Mahbub Djunaidi, Masdar Farid Mas’udi dan lainnya yang kelak dikenal sebagai para penggagas Khittah. Pembelaan terhadap gagasan-gagasan progressif angkatan muda NU tidak hanya sampai di forum Muktamar ke-27 Situbondo yang mengantarkan KH Ahmad Shiddiq dan KH Abdurrahman Wachid sebagai Rois ‘Am dan Ketua Umum PBNU, juga pada Muktamar ke-28 Krapyak Yogyakarta (1989) yang juga mengantarkan keduanya untuk dikokohkan kembali sebagai Rois ‘Am dan Ketua Umum PBNU.[22]
Sejak tahun 1943 Kiai Ali pindah ke Krapyak. Yang pertama kali dirasakan Kiai Ali pada awal kepindahannya ini adalah kuatnya getaran gerakan Muhammadiyah, maklum kota Yogyakarta adalah kota kelahirannya. Kiai Ali yang dikalangan para kiai NU dikenal sebagai salah satu tokoh reformis atau modernis NU ini tidak menunjukkan sikap yang konfrontatif, akan tetapi dengan sikap penuh toleransi, kemudian gerak langkah Muhammadiyah tersebut terus diikuti perkembangannya dengan seksama. Hal ini yang mempengaruhi kebijakannya dalam memimpin pesantren Al-Munawwir, yaitu dengan membuat seimbang antara pengajian Al-Qur’an dan pengajian kitab-kitab kuning agar santri mengetahui ajaran-ajaran Islam ‘ala Ahlussunnah wal Jamaah beserta dalil-dalinya secara proporsional untuk dijadikan sebagai benteng dari pengaruh faham wahhabi yang disuarakan oleh gerakan Muhammadiyah tersebut.
Persinggungannya dengan kaum modernis nampak terlihat antara lain dari cara Kiai Ali mengupas berbagai masalah keagamaan dalam setiap pengajiannya, yang sering diperbandingkan dengan pandangan ulama pembaharu. Jiwa pembaharuan, keluasan ilmunya dan pandangannya yang moderat tidak lepas dari pengalaman masa lalunya di pesantren Tremas yang sangat gemar mengkaji berbagai jenis kitab karangan para ulama salaf dan ulama’ pembaharu,[23] ide-idenya yang segar demi kemajuan pesantren mampu mendorong terjadinya pembaharuan sistem pendidikan di Tremas. Tidak berlebihan jika Prof. DR. KH A. Mukti Ali mengatakan, bahwa Kiai Ali Maksum-lah yang menjadi motor penggerak modernisasi pesantren Tremas, dari hanya menggunakan sistem pesantren ke sistem madrasi.[24]
Bahkan dalam banyak hal pandangan Kiai Ali sejalan dengan pandangan kaum pembaharu, diantaranya seperti masalah mencari ilmu yang harus diperoleh melalui belajar (Innamal ‘ilmu bit-ta’allum) dan didukung dengan makanan yang bergizi untuk meningkatkan kecerdasan, bukan dengan mengandalkan semangat pencarian melalui laku spiritual (laduni), wirid, perilaku ngrowot dan lelakon nyeleneh lainnya. Oleh karena itu Kiai Ali hampir tidak pernah mengajak santrinya hidup prihatin atau tirakat dengan menjauhi makanan tidak bergizi, selain ibadah puasa sunnah yang disyari’atkan.
Latar belakang kehidupan keilmuan Kiai Ali yang dinamis, berwawasan yang sangat luas, dalam dan moderat, dengan dukungan referensi yang multidisipliner, serta memiliki semangat otodidak yang tinggi tersebut, sedikit banyak tentu mempengaruhi pendidikan dan pengajaran yang diberikannya kepada para santri. Tidak mengherankan jika para alumni yang pernah mendapatkan didikan dari Kiai Ali tidak sedikit yang menjadi tokoh masyarakat, intelektual, dan kiai-kiai pengasuh atau pendiri pesantren yang berwawasan luas, mendalam dan moderat disebabkan referensinya yang sangat luas, serta memiliki semangat otodidak yang tinggi.[25]
6. Wafatnya KH Ali Maksum
Ketika dilangsungkan Muktamar NU ke-28 di pesantren Al-Munawwir Krapyak, sebenarnya beliau sudah sakit sejak beberapa saat sebelumnya. Meskipun demikian, sebagai tuan rumah yang bertanggung jawab atas sukses dan tidaknya Muktamar, beliau masih sempat mengkomando panitia pelaksana yang sebagian besar adalah santrinya lewat mick speaker dari kamarnya. Ketika Presiden Soeharto dan beberapa menteri serta para kiai peserta muktamar menjenguknya, Kiai Ali juga masih sempat menerima mereka dengan berbaring di kamarnya.
Wal hasil, Muktamar dapat berjalan dengan sukses, dengan mengantarkan kembali KH Ahmad Shiddiq sebagai Rois ‘Am dan KH Abdurahman Wahid sebagai Ketua Umum PBNU untuk periode yang kedua kalinya. Seminggu setelah Muktamar, KH Ali Maksum jatuh sakit dan dirawat di RS DR Sardjito selama seminggu, kemudian wafat ketika adzan Maghrib berkumandang pada pukul 17,55 WIB di hari Kamis malam Jum’at, tanggal 7 Desember / 15 Jumadil Awwal 1989 dalam usia 74 tahun. Jenazahnya dilepas dari Masjid Pesantren Krapyak setelah shalat Jum’at dan dikebumikan berdampingan dengan makam KHM Munawwir di dusun Senggotan (Dongkelan) Tirtonirmolo Kasihan Bantul Yogyakarta.
Beliau wafat dengan meninggalkan seorang isteri, Nyai Hj. Rr. Hasyimah Munawwir dan 8 orang putra-putri : 1) Adib (wft masih kecil), 2) KH Atabik Ali, 3) H. Jirjis Ali, 4) Nyai Hj. Siti Hanifah Ali, 5) Nyai Hj. Durroh Nafisah Ali, 6) Nafi’ah (wafat masih kecil), 7) M. Rifqi Ali (Gus Kelik), dan 8) Hj. Ida Rufaidah Ali.
Selain itu beliau juga meninggalkan :
1). Lembaga pendidikan yang begitu besar (madrasah dll), yang pada masa selanjutnya dikelola oleh Yayasan Ali Maksum Pondok Peantren Krapyak Yogyakarta pimpinan KH Atabik Ali;
2). Karya tulis yang meliputi :
a. Mizanul ‘Uqul fi Ilmil Mantiq, yang berisi prinsip-prinsip dasar ilmu mantiq
b. Ash-Shorful Wadhih, yang berisi kaidah-kaidah dan amtsilatut tashrif (latihan praktis tashriful kalimah) dengan metode baru temuan KH Ali Maksum.
c. Hujjatu Ahlissunnah Wal Jama’ah, berisi kajian dalil-dalil / argumentasi syar’iyyah yang dijadikan sebagai dasar berpijak kaum nahdhiyyin dalam melaksanakan amaliah atau tradisi ke-NU-an.
d. Jawami’ul Kalim : Manqulah min ahadits al-Jami’ ash-shoghir murattabah ‘ala hurufl hijaiyyah ka ashliha, berisi koleksi hadis-hadis pendek yang mengandung pemahaman yang luas dan dalam, yang dicuplik dari kitab al-Jami’us Shoghir.
e. Ajakan Suci : Pokok-pokok Pikiran tentang NU, Pesantren dan Ulama, merupakan kumpulan makalah tulisan KH Ali Maksum yang tersebar di Majalah Bangkit, surat kabar, forum seminar, dan media cetak lainnya
f. Eling-eling Siro Manungso, yang berisi kumpulan syi’iran sholawatan berbahasa Jawa gubahan KH Ali Maksum.
Sumber :
[1] ) A. Zuhdi Mukhdlor, KH Ali Maksum : Perjuangan dan Pemikiran-Pemikirannya, Yogyakarta : Multi Karya Grafika, 1989, cet.1, halm. 6-7
[2] ) Meskipun putra seorang kiyai besar, Ali Maksum tidak suka dipanggil “Gus” sebagaimana yang lazim digunakan untuk memanggil semua putra kiyai, melaikan lebih suka dipanggil “Wak”. Mungkin kata ini berasal dari “Uwak” yang lazim digunakan sebagai panggilan kehormatan untuk orang-orang yang dituakan
[3] ) “Munjid” merupakan judul buku kamus atau ensiklopedi bahasa arab terlengkap di dunia yang ditulis oleh Louis Ma’luf dari Libanon.
[4] ) Gus Hamid atau KH Abdul Hamid dari Pasuruan, yang lebih dikenal dengan panggilan “mBah Hamid” ini merupakan seorang ulama’ kharismatik, pengasuh sebuah pesantren di Jl. Jawa Pasuruan, oleh kaum muslimin pada umumnya dipandang sebagai seorang Waliyullah yang memiliki banyak karomah. Beliau adalah seangkatan KH Ali Maksum sewaktu nyantri di pesantren Tremas, dan menjadi besannya dengan dinikahkannya Gus Nasikh bin KH Hamid dengan Ny.Hj. Durroh Nafisah binti KH Ali Maksum.
[5] ) KH A. Mukti Ali, KH Ali Ma’shum Itu Guru Saya, dalam A. Zuhdi Mukhdlor, KH Ali Ma’shum: Perjuangan …., ibid., halm. Ix.
[6] ) A. Zuhdi Muhdlor, ibid. halm. 17 (wawancara A. Zuhdi Mukhdlor dengan KH Ali Maksum, 1 Oktober 1989).
[7] ) Semua peserta harus mentaati instruksi atau tata aturan Kiyai Ali. Yang melanggar akan kena hukuman. KHA Warson pernah dihukum berdiri dan diikat di tiang masjid sampai pengajian selesai, gara-gara beliau tidak menghafalkan bait-bait alfiyah. (Wawancara dengan KHA Warson, 04-09-2010).
[8] ) A. Zuhdi Mukhdlor, op.cit., halm. 78-77.
Tentang kemasyhuran nama KH Ali Maksum dan pesantren Al-Muanwwir di dunia internasional, bahwa berkat jasa KH Ali Maksum atas kepeloporannya dalam menolak dan menggagalkan rencana penyelenggaraan Konferensi Dewan Gereja Se-Dunia di Indonesia. Kepeloporan ini ternyata gaungnya sangat kuat di Negara-negara Timur Tengah, terutama Arab Saudi, sehingga Sekjen Rabithah ‘Alam Islami, Syaikh Ali Al-Harakan mengirimkan utusan khusus menemui beliau untuk mengucapkan terima kasih, bahkan Raja Faishal dari Saudi Arabia memberi hadiah kenang-kenangan kepada beliau berupa gedung bertingkat dua yang menyatu dengan kediamannya.
[9] ) A. Zuhdi Mukhdlor, ibid., halm. 90-91
Diantara sambutannya berbunyi :
يَا اَللَّهُ اِنَّنِيْ ذَلِيْلٌ فَأَعِزَنِيْ وَ اِنَّنِيْ فَقِيْرٌ فَأَغْنِنِيْ وَ اِنَّنِيْ ضَعِيْفٌ فَقَوِنِيْ يَا اَللَّهُ يَا اَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ. يَا سَادَتِيْ اِنِّيْ قَدْ وُلِّيْتُ عَلَيْكُمْ وَلَسْتُ بِخَيْرِكُمْ وَ إِذَا رَاَيْتُمْ فِيَّ اِعْوِجَاجًا فَقَوِّمُوْنِيْ وَاعْزِلُوْنِيْ وَاطْرَحُوْنِيْ فِى الْمِزْبَلَةِ
Artinya: “Ya Alloh, sungguh kami ini hina, maka tinggikanlah kami. Kami ini fakir, maka kayakanlah. Kami ini lemah, maka kuatkanlah. Ya Arhamarrohimin. vWahai kawan-kawan, sungguh kalian telah memberi kami kekuasaan, padahal kami bukanlah orang yang terbaik diantara kalian. Karena itu,jika kalianmelihat kami berlaku bengkok, maka luruskanlah kami, tinggalkanlah kami dan bahkan campakkan kami ke tempat kotoran….”
[10] ) Salah satu pidato Kiyai Ali yang monumental soal pentingnya regenrasi, sebagai berikut :
“ …. Marilah kita terima kehadiran generasi muda, karena wujudnya generasi muda ini adalah termasuk salah satu kewajiban yang harus kita wujudkan. KApan mereka menjadi dewasa kalau tidak kita tuntun mulai sekarang, dan kapan pula mereka mempunyai rasa tanggung jawab, kalau tidak mulai sekarang kita latih untuk melaksanakan tugas perjuangan ini” (A. Zuhdi Mukhdlor, ibid., halm. 89).
[11] ) A. Zuhdi Mukhdlor, ibid., halm. 86-106
…. Begitu intens keterlibatan KH Ali Maksum dalam NU seolah NU menjadi jiwanya. Bahkan dengan serius Kiai Ali membuatkan bekal bagi pengurus dan warga NU dalam meraih sukses organisasi. Bekal yang dimaksud adalah 1) Ats-Tsiqotu bi Nahdlotul Ulama; 2) Al-Ma’rifatu wal Istiqon bi NU; 3) Al-Amalu bi Ta’limi NU; 4) Al-Jihadu fi Sabili NU; dan 5) Ash-Shobru fi sabili NU. (Ibid., halm. 98 – 106).
[12] ) Isi kandungan dari “syi’iran sholawatan” gubahan Kiai Ali tersebut mengingatkan kaum muslimin tentang kondisi kehidupan yang mesti dialami oleh setiap orang yang wafat. Ketika wafat, seseorang akan berpisah dari keluarga dan harta bendanya. Setelah mengantarkan ke kuburan, mereka akan meninggalkannya. Seluruh harta yang ditinggalkannya tidak akan dibawa, kecuali selembar kain kafan, bahkan hartan itu akan menjadi rebutan. sewaktu sowan kehadirat Alloh sendirian dan tanpa ditemani seorang pun, kamu tidak perlu susah dan bingung. Yang penting, kerjakan amal sholeh (selama masih hidup di dunia) untuk meraih ridho Allah.
[13] ) Ke-tawadhu’-an dan tidak suka dihormati secara berlebihan nampak pada sikapnya yang lebih suka dipanggil “Pak Ali” daripada “KH Ali”, “mBah Kiai Ali”. Beliau tidak menyukai orang yang mencium tangannya sambil dibolak-balik ketika bersalaman, berjalan “ngesot” ketika sowan sebagaimana yang dilakukan abdi dalem kepada rajanya di Kraton, menundukkan kepala dan diam seribu bahasa seperti patung ketika berhadapan dengan kiai dan lain-lain. Hal ini disamping untuk menghindari pengkultusan juga menunjukkan sikap ketawadhu’annya dan kedekatan hubungannya dengan para santri.
[14] ) Ketika terjadi kasus penganiayaan “pemukulan” yang dilakukan oleh pemuda Dirman (mantan santrinya yang terganggu kejiwaannya), terhadap Kiai Ali sesuai memberikan ceramah Haul almarhum KH Bisri Mustofa di pondok Rembang, semua orang dari berbagai pihak (keluarga, para santri, kaum muslimin khususnya nahdhiyyin, pemerintah, militer dll) merasa gerah dan menginginkan agar pelakunya dihukum berat, namun beliau dengan lapang dada justru memaafkannya tanpa satu pun syarat, bahkan ibunya yang jualan di pasar Lasem diberi bantuan uang untuk tambahan modal, sekalipun kasus tersebut berakibat fatal terhadap kesehatannya, dimana sejak saat itu beliau sering sakit-sakitan sampai wafatnya. (Wawancara dengan KH Atabik Ali (18-07-2010), KH. Munawwir AF (17-07-2010), dan bandingkan dengan A. Zuhdi Mukhdlor, KH Ali Maksum : Perjuangan ….., halm. 29-31
[15] ) Menurut pengakuan Prof. DR. KH Agiel Siroj, MA, bahwa sewaktu menjadi santri di Krapyak, dirinya sering diajak Kiyai Ali nonton TV bareng penampilan petinju Muhammad Ali di kamar pribadinya. Ini menunjukkan kedekatan emosional dan spiritual murid dengan guru. (M. Dawam Sukardi, Prof. DR. KH Agiel Siroj, MA :: NU Sejak Lahir , Dari Pesantren Untuk Bangsa; Kado Buat Kyai Said. Jakarta : SAS Center, 2010, halm. 40)
[16] ) Pada bulan syawal tahun 1982, setelah menghadiri acara Halal Bihalal di Surabaya, Kiyai Ali mengunjungi alumni angkatan 1970-an, H. Asa Asy’ari dan Afif Chozin di Tambak Osowilangun Benowo Surabaya, kemudian mampir ke rumah penulis dan sekaligus diajak kembali ke pesantren Krapyak. Dalam perjalanan pulang ke Yogyakarta, beliau mampir mengunjungi salah seorang pengurus PWNU Jatim, KH Hasyim Lathif di daerah Sepanjang Sidoarjo, kemudian sesampainya di Solo beliau mampir lagi mengunjungi KH Umar di PP Al-Muayyad Mangkuyudan Solo dan istirahat beberapa jam, lalu melanjutkan perjalanannya.
[17] ) Wawancara dengan Drs. KH Henry Sutopo, 17-07-2010
[18] ) Wawancara dengan KH Asyhari Abta, M.Pd.I, 18-07-2010
[19] ) Wawancara tanggal 17 Juli 2010 dengan KH A. Warson Munawwir, KH Asyhari Abta, KH Munawwir AF, KH Heri Sutopo
[20] ) M. Bibit Suprapto, Ensiklopedi Ulama Nusantara : Riwayat Hidup, Karya, dan Sejarah Perjuangan 157 Ulama Nusantara, Jakarta : Gelegar Media Indonesia, 2009, cet.1, halm
[21] ) Zainal Arifin Thoha, Runtuhnya Singgasana Kiai. NU, Pesantren dan Kekuasaan : Pencarian Tak Kunjung Usai. Yogyakarta : Kutub, 2003, cet.1, halm. 272
[22] ) Zainal Arifin Thoha, Runtuhnya Singgasana Kiai. NU, Pesantren dan Kekuasaan : Pencarian Tak Kunjung Usai. Yogyakarta : Kutub, 2003, cet.1, halm. 280
[23] ) Kegemaran dan kecintaan Kiyai Ali dalam mengkaji kitab-kitab tersebut terus berlanjut ketika menjadi pengasuh PP AL-Munawwir Krapyak. Hal ini terlihat pada banyaknya kitab-kitab yang memenuhi lemari-lemari perpustakaan pribadi di rumahnya. Saking cintanya terhadap kitab-kitab pribadi tersebut membuat Kiyai Ali terbilang “bakhil”, yakni bakhil dalam pengertian tidak akan meminjamkan kitab tersebut keluar rumah, khawatir tidak dikembalikan, karena berkali-kali kitab beliau “hilang” karena tidak dikembalikan oleh peminjamnya. Oleh karenanya, setiap lemari perpustakaan pribadinya terdapat tulisan “Boleh dibaca, Haram Dibawa”. (Wawancara dengan Drs. KH Heri Sutopo, 17 Juli 2010).
[24] ) KH A. Mukti Ali, KH Ali Ma’shum Itu Guru Saya, dalam A. Zuhdi Mukhdlor, KH Ali Ma’shum: Perjuangan ….op.cit., halm. Ix.
[25] ) Para santri alumni didikan Kiyai Ali antara lain: Prof.DR.KH A Mukti Ali (Guru Besar Fak Usuluddin IAIN Yogya, mantan Menteri Agama RI), KH A. Mustofa Bisri (Rembang), KHM Cholil Bisri (Rembang), KHM Yusuf Hasyim (Tebuireng), KH Maksum Ahmad (tanggulangin Sidoarjo : Pengasuh pesantren dan muballigh), KH Abdul Aziz Masyhuri (Jombang: Pengasuh pesantren), KH Abdurrahman Ar-Roisi (Jakarta: penulis dan muballigh), KH Masdar Farid Mas’udi, Drs. H. Slamet Efendi Yusuf, Prof.DR. KH Said Agiel Siroj, MA, Prof. DR. Yudian Wahyudi, KH Zainal Abdin Muanwwir, KH Ahmad Warson Munawwir, KH Drs, Asyhari Abta, M.Pd.I, KH Munawwir AF, KH Drs. Henry Sutopo, KH Drs, Asyahri Marzuki, Lc., KH DR. Malik Madani, MA., dan lain-lain.
Selasa, 28 Agustus 2012
Belief in Allah
1 - Belief In Allah's Existence
Allah's existence is affirmed through Fitrah (the innate purity that Allah creates in every human being), the mind, the Shari'ah (Islamic Law) and the senses.
a - As for the Fitrah, we say the following: Allah created the belief in Him in every human being. Mankind need not to be taught this belief or think about how to posses it. However, the ones who have this Fitrah corrupted, will not benefit from it. The Prophet said, what translated means, "Every newly born will be born having Fitrah. However, his parents will either convert him to Judaism, Christianity, or Majocism (fire worshipping)." [Al-Bukhari].
b - The human mind must be used to prove the existence of Allah. All this creation, of old and new, must have a Creator who invented and started it. This creation could not have come to existence on its own or by chance. It could not have created itself, because it did not exist beforehand. Therefore, how can it create? Also, the creation could not have been started by accident or chance. Everything that exists must have a Creator who brought it into existence. Creation is magnificent in organization, coherent and correlated in its existence. There is a reason and originator behind every act. All this nullifies the saying that all this universe was started by chance. What was started by chance cannot be organized in its form because it did not have any organization before it was formed. What makes what was created by chance to be this organized?
If all this creation neither could have created itself nor was it created by chance, then it must have an Originator, Allah, the Lord of the worlds. Allah mentioned this reasoning in the Quran, (Were they created by nothing, or were they themselves the creators?) [52:35]. This Ayah means that men were neither created without a Creator nor did they create themselves. Therefore, Allah is the One who created them. This is why when Jubair ibn Mot'im heard the Messenger recite this Surah until he reached, (Were they created by nothing, or were they themselves the creators? Or did they create the heavens and the earth? Nay, but they have no firm belief. Or are with them the Treasures of your Lord? Or are they the tyrants with authority to do as they like?) [52:35-37], Jubair, a disbeliever then, said, "My heart almost flew (from the power of this reasoning mentioned in the Surah). This was the first time that Iman entered my heart." [Al-Bukhari].
Using parables in this regard is beneficial. Let us imagine that a man told you about a magnificent palace, surrounded by gardens with rivers running through them. This palace is full of furnishing and beds and is brilliantly beautified. If this man told you that this palace created itself and all what it contained, or that all this was created by chance, you will immediately consider this saying to be false and meaningless speech. Therefore, how can this vast universe, which contains the earth, the skies and all that is therein of stars and the magnificently organized existence that we see, have been created by itself or come to existence by chance?
c - As for the Shari'ah, all divine religions testify to the fact that Allah created the world. All Laws that were sent with these divine and revealed religions contain what benefits mankind. This is evidence to the existence of a Wise and All- Knowing Lord Who knows what brings benefit to His creation. All divinely-revealed religions describe a universe that is self- evident to the existence and ability of Allah, Who Creates what He Will.
d - Also, the senses must be used to prove the existence of Allah. We know that Allah accepts the supplication from whoever seek His aid and help, and that He brings them the benefits that they desire. This is clear evidence to the existence of Allah, who said, what translated means, (And (remember) Noah, when he cried (to Us) aforetime. We listened to his invocation.) [21:76] and, ((Remember) when you sought help from your Lord and He answered you?) [8:9]. Anas ibn Malik said, "An Arabian (Bedouin) man entered (the Masjid) on Friday while the Prophet was delivering the speech. He said: 'O Messenger of Allah! (Our) possessions are destroyed, (our) children are hungry. Ask Allah for us.' He (the Prophet) raised his hands in supplication (to Allah). All of a sudden, mountain-like clouds were formed. He did not descend from his Minbar (the podium) until I saw rain falling through his beard. On the second Friday, this Arabian man, or someone else, stood up and said: 'O Messenger of Allah. Buildings have collapsed and possessions are flooded. Ask Allah for us.' He (the Prophet) raised his hands and said: 'O my Lord! Around us and not around us.' Wherever he pointed to an area (of the sky), they (the clouds) dispersed." [Al-Bukhari].
Allah's acceptance of supplication has been and still is a known matter until today. It is given to those who are true in their seeking refuge in Allah and perform supplication in the correct manner to ensure its acceptance.
Also, there are the signs that Allah gave His Prophets, which are called miracles. People witnessed or heard these miracles. They are clear evidence that the One who sent the Messengers exists, and He is Allah the All-Mighty. These miracles are activities that are beyond the capability of mankind. Allah gave them to His Messengers as a way of aiding them and giving them victory.
An example of these miracles is the sign given of Moses. Allah ordered him to strike the sea with his stick, and the sea parted into twelve separate parts between mountains of water on each side of these parts (Then We inspired Moses (saying): "Strike the sea with your stick." And it parted, and each separated part (of the sea water) became like the huge, firm mass of a mountain.) [26:63].
Another example is the miracle of Jesus. He was given the power by Allah to raise the dead from their graves and back into life. Allah said about him, what translated means, ("And I bring the dead to life by Allah's leave.") [3:49] and, (And when you (O Jesus) brought forth the dead by My permission.) [5:110].
A third example is the miracle Mohammad performed. His tribe, Quraysh, asked him to perform a miracle. He pointed to the moon and it separated into two parts while his people were witnessing the incident. Allah said about this miracle, what translated means, (The Hour has drawn near, and the moon has been cleft asunder. And if they see a sign, they turn away, and say: "This is continuous magic.") [54:1-2].
All these miracles, that Allah gave to His Messengers as an aid and victory and that were witnessed by their nations, are proof that Allah exists.
Second: Belief in Allah's Lordship
This means to believe that Allah is the Lord, alone, and that He has no partners or helpers. The Rabb (Lord) is the One who Creates and Commands. There is no creator except Allah and there is no owner of the universe except Him. The Commandment and the Control is His. He said, what translated means, (Surely, His is the Creation and Commandment.) [7:54] and, (Such is Allah your Lord; His is the Kingdom. And those whom you invoke or call upon instead of Him, own not even a Qitmir (the membrane over the date-stone).) [35:13].
Only a few people rejected Allah's Lordship. These are the arrogant ones who deny what they believe deep in their hearts. This happened from Pharaoh, when he said to his people, as was mentioned in the Quran, ("I am your lord, most high.") [79:24] and, ("O chiefs! I know not that you have a god other than me!") [28:38]. However, what he said was not his true belief. Allah said, what translated means, (And they belied them (Our Signs) wrongfully and arrogantly, though their own selves were convinced thereof.) [27:14]. Also, Moses said to Pharaoh, as was mentioned in the Quran, ("Verily, you know that these Signs have been sent down by none but the Lord of the heavens and the earth as clear (evidences of His Oneness and Might). And I think you are, indeed, O Pharaoh, doomed to destruction.") [17:102].
The Arab disbelievers of old used to confirm Allah's Lordship, although they associated others with Him in worship. Allah said, what translated means, (Say: "Whose is the earth and whosoever is therein? If you know!" They will say: "It is Allah's!" Say: "Will you not then remember?" Say: "Who is the Lord of the seven heavens and the Lord of the Great Throne?" They will say: "Allah." Say: "Will you not then fear Allah?" Say: "In Whose Hands is the sovereignty of everything? And He protects (all), while against Whom there is no protector, if you know?" They will say: "(All this belongs) to Allah." Say: "How then are you deceived and turn away from the truth?") [23:84-89], (And indeed if you ask them: "Who has created the heavens and the earth?" They will surely say: "The All-Mighty, the All-Knower created them.") [43:9] and, (And if you ask them who created them, they will surely say: "Allah." How then are they turned away (from His worship)?) [43:87].
Allah's order comprises of both His running of the universe and the Commandment. He is the One who controls the creation and the One who does what He will, according to His Wisdom. He is also the One who gives the Commandment organizing aspects of worship and dealings, according to His Wisdom. Whoever takes anyone, besides Allah, to be the one who commands acts of worship or types of dealings, will have committed Shirk (disbelief, association in worship) with Allah. This act negates Iman.
Third: The Belief That He Is the Ilah
Allah is the Ilah, meaning He is the Worshipped One Who has no partners. This Ilah is worshipped with love and reverence. He said, what translated means, (And your Lord is One Lord, there is none who has the right to be worshipped but He, the Most Beneficent, the Most Merciful.) [2:163] and, (Allah bears witness that none has the right to be worshipped but He, and the Angels, and those having knowledge (also give this witness); (He is always) maintaining His creation in Justice, none has the right to be worshipped but He, the All-Mighty, the All-Wise.) [3:18]. All things that are taken as gods, besides Allah, are false gods, (That is because Allah is the Truth (the Only True God), and what they (the disbelievers) invoke besides Him, it is falsehood. And verily, Allah is the Most High, the Most Great.) [22:62]. To call these things "gods," does not make them gods. Allah said about some idols, Al-Lat, Al-'Uzzaa and Manat, (They are but names which you have named, you and your fathers, for which Allah has sent down no authority.) [53:23]. Yousef (Joseph) said to his two companions in jail, as was mentioned in the Quran, ("Are many different lords (gods) better or Allah the One, the Irresistible? You do not worship beside Him but only names which you have forged, you and your fathers, for which Allah has sent down no authority.") [12:39-40]. All Messengers used to say to their nations, ("Worship Allah! You have no other God but Him.") [23:23]. However, the disbelievers refused to accept this call. They took others as gods besides Allah. They worshipped them besides Allah, calling them when aid and help were needed.
Allah refuted the disbelievers in their taking these idols as gods besides Him, using two logical arguments:
The first argument: These idols, that were taken by the disbelievers as gods, do not have any attributes that qualify them to be gods. These false gods were created and do not create. They can neither bring about benefit for whoever worships them, nor can they fend harm off. They cannot give life or take it away. They neither own nor are they partners in the kingdom of the heavens and earth.
Allah said, what translated means, (Yet, they have taken besides Him other gods that created nothing but are themselves created, and possess neither hurt nor benefit for themselves, and possess no power (of causing) death, nor (of giving) life, nor of raising the dead.) [25:3], (Say (O Mohammad): "Call upon those whom you asset (to be associate gods) besides Allah, they possess not even the weight of an atom, either in the heavens or on the earth, nor they have any share in either, nor is there for Him any supporter from among them.") [34:22-23] and, (Do they attribute as partners to Allah those who created nothing but they themselves are created? No help can they give them, nor can they help themselves.) [7:191-192]. If this is the case with false gods, then taking them as gods is a true misguidance and the lowest of all acts.
The second argument: The Mushrikeen (polytheists) are among those who confirmed that Allah, alone, is the Lord, the Creator, the One Who Has the ownership of everything and the One Who gives protection and no one can give protection to anyone from His Might. This confirmation requires from these disbelievers to worship Allah alone. He said, what translated means, (O Mankind! Worship your Lord (Allah), Who created you and those who were before you so that you may become among the pious. Who has made the earth a resting place for you, and the shy as a canopy, and sent down rain from the sky and brought forth therewith fruits as a provision for you. Then do not set up rivals unto Allah (in worship) while you know (that He Alone has the right to be worshipped).) [2:21-22], (And if you ask them who created them, they will surely say: "Allah." How then are they turned away (from His worship)?) [43:87] and, (Say (O Mohammad): "Who provides for you from the sky and from the earth? Or who owns hearing and sight? And who brings out the living from the dead and brings out the dead from the living? And who disposes the affairs?" They will say: "Allah." Say: "Will you not then be afraid of Allah's punishment?" Such is Allah, your Lord in truth. So after the Truth, what else can there be, save error? How then are you turned away?) [10:31-32].
Fourth: Belief In Allah's Names and Attributes
This belief requires accepting whatever Allah described of Himself, in His Book or in the Sunnah of His Messenger. The Names and Attributes must be accepted without alteration, rejection, precise description of their true nature or equating them with attributes of the creation. Allah said, what translated means, (And (all) the Most Beautiful Names belong to Allah, so call on Him by them, and leave the company of those who deny His Names. They will be requited for what they used to do.) [7:180], (His is the highest description in the heavens and in the earth. And He is the All-mighty, the AII-Wise.) [30:27] and, (There is nothing like unto Him, and He is the All-Hearer, the All-Seer.) [42:11].
Two groups have fallen into misguidance concerning this matter. One of them is Al-Mu'attilah (the refuters). This group rejected the Names and Attributes, or some of them, claiming that to accept them is to equate Allah with His creation. This claim is false for many reasons, following are two of them:
1 - This claim leads to false conclusions that Allah's Words are in opposition to each other. Allah is the One who confirmed these Names and Attributes and denied that there is anything that resembles Him. If confirming these Names and Attributes leads to equating Allah with the creation, then this will lead to the conclusion that Allah's Words are full of discrepancies and refute each other.
2 - For two things to have an attribute of some kind, does not mean that they are equal or look-likes. One can witness two persons who are both called "a human who hears, sees and speaks." However, this description of both does not mean that they are of equal capabilities in their hearing, sight or speech. One can also see that animals have hands, legs and eyes. However, this does not mean that animals are equal in every respect with regards to their hands, legs and eyes.
If disparity is this wide, between that which creation possess of attributes or names, then the disparity between the Creator and creation is even greater and more evident.
The second misguided group is called "Al-Mushabbihah." They confirmed the Names and the Attributes. Yet, they equated them with the names and attributes of the creation. They claimed that this is what the Texts mean. They claimed that Allah reveals to His slaves what they can comprehend. This claim is false for many reasons, some of them are:
1 - Allah's resemblance with His creation is false and is refuted with the mind and the Laws of Shari'ah. Texts of the Quran and Sunnah cannot lead to falsehood in their meanings.
2 - Allah revealed what His slaves can understand of the general meaning. However, the true nature of what these meanings are like is a knowledge that only Allah possesses, especially with regards to the true nature of His Names and Attributes.
Allah confirmed that He is the All-Hearer. Hearing means to comprehend sounds. However, the true nature of Allah's Hearing is unknown. Creation vary in their hearing capability. The difference between Allah's Hearing and the hearing of creation is even greater and more evident.
Also, Allah confirmed that He Istawa (Mounted or Settled) on His Throne. To mount and settle on a throne is known in the general meaning of the word "mounted," or "settled." The true nature of Allah's mounting on His Throne is unknown. Mounting on something varies with regards to different creation. To mount on a chair is unlike mounting on a wild camel. If Istiwaa' is this different between creation, then how can the Istiwaa' of Allah be compared to the Istiwaa' of creation? The difference between them is greater and more evident.
Benefits of Believing in Allah
Believing in Allah, in the way described above, leads to many benefits for the believers:
1 - To truly realize the Taw'hid of Allah, by depending only on Him and hoping in, fearing and worshipping Him alone.
2 - To prefect one's love and reverence of Allah, and according to His Might as described by His Most-Beautiful Names and Most-High Attributes.
3 - To truly give one's worship to Allah, by adhering to His Commandments and abandoning His Prohibitions.
Allah's existence is affirmed through Fitrah (the innate purity that Allah creates in every human being), the mind, the Shari'ah (Islamic Law) and the senses.
a - As for the Fitrah, we say the following: Allah created the belief in Him in every human being. Mankind need not to be taught this belief or think about how to posses it. However, the ones who have this Fitrah corrupted, will not benefit from it. The Prophet said, what translated means, "Every newly born will be born having Fitrah. However, his parents will either convert him to Judaism, Christianity, or Majocism (fire worshipping)." [Al-Bukhari].
b - The human mind must be used to prove the existence of Allah. All this creation, of old and new, must have a Creator who invented and started it. This creation could not have come to existence on its own or by chance. It could not have created itself, because it did not exist beforehand. Therefore, how can it create? Also, the creation could not have been started by accident or chance. Everything that exists must have a Creator who brought it into existence. Creation is magnificent in organization, coherent and correlated in its existence. There is a reason and originator behind every act. All this nullifies the saying that all this universe was started by chance. What was started by chance cannot be organized in its form because it did not have any organization before it was formed. What makes what was created by chance to be this organized?
If all this creation neither could have created itself nor was it created by chance, then it must have an Originator, Allah, the Lord of the worlds. Allah mentioned this reasoning in the Quran, (Were they created by nothing, or were they themselves the creators?) [52:35]. This Ayah means that men were neither created without a Creator nor did they create themselves. Therefore, Allah is the One who created them. This is why when Jubair ibn Mot'im heard the Messenger recite this Surah until he reached, (Were they created by nothing, or were they themselves the creators? Or did they create the heavens and the earth? Nay, but they have no firm belief. Or are with them the Treasures of your Lord? Or are they the tyrants with authority to do as they like?) [52:35-37], Jubair, a disbeliever then, said, "My heart almost flew (from the power of this reasoning mentioned in the Surah). This was the first time that Iman entered my heart." [Al-Bukhari].
Using parables in this regard is beneficial. Let us imagine that a man told you about a magnificent palace, surrounded by gardens with rivers running through them. This palace is full of furnishing and beds and is brilliantly beautified. If this man told you that this palace created itself and all what it contained, or that all this was created by chance, you will immediately consider this saying to be false and meaningless speech. Therefore, how can this vast universe, which contains the earth, the skies and all that is therein of stars and the magnificently organized existence that we see, have been created by itself or come to existence by chance?
c - As for the Shari'ah, all divine religions testify to the fact that Allah created the world. All Laws that were sent with these divine and revealed religions contain what benefits mankind. This is evidence to the existence of a Wise and All- Knowing Lord Who knows what brings benefit to His creation. All divinely-revealed religions describe a universe that is self- evident to the existence and ability of Allah, Who Creates what He Will.
d - Also, the senses must be used to prove the existence of Allah. We know that Allah accepts the supplication from whoever seek His aid and help, and that He brings them the benefits that they desire. This is clear evidence to the existence of Allah, who said, what translated means, (And (remember) Noah, when he cried (to Us) aforetime. We listened to his invocation.) [21:76] and, ((Remember) when you sought help from your Lord and He answered you?) [8:9]. Anas ibn Malik said, "An Arabian (Bedouin) man entered (the Masjid) on Friday while the Prophet was delivering the speech. He said: 'O Messenger of Allah! (Our) possessions are destroyed, (our) children are hungry. Ask Allah for us.' He (the Prophet) raised his hands in supplication (to Allah). All of a sudden, mountain-like clouds were formed. He did not descend from his Minbar (the podium) until I saw rain falling through his beard. On the second Friday, this Arabian man, or someone else, stood up and said: 'O Messenger of Allah. Buildings have collapsed and possessions are flooded. Ask Allah for us.' He (the Prophet) raised his hands and said: 'O my Lord! Around us and not around us.' Wherever he pointed to an area (of the sky), they (the clouds) dispersed." [Al-Bukhari].
Allah's acceptance of supplication has been and still is a known matter until today. It is given to those who are true in their seeking refuge in Allah and perform supplication in the correct manner to ensure its acceptance.
Also, there are the signs that Allah gave His Prophets, which are called miracles. People witnessed or heard these miracles. They are clear evidence that the One who sent the Messengers exists, and He is Allah the All-Mighty. These miracles are activities that are beyond the capability of mankind. Allah gave them to His Messengers as a way of aiding them and giving them victory.
An example of these miracles is the sign given of Moses. Allah ordered him to strike the sea with his stick, and the sea parted into twelve separate parts between mountains of water on each side of these parts (Then We inspired Moses (saying): "Strike the sea with your stick." And it parted, and each separated part (of the sea water) became like the huge, firm mass of a mountain.) [26:63].
Another example is the miracle of Jesus. He was given the power by Allah to raise the dead from their graves and back into life. Allah said about him, what translated means, ("And I bring the dead to life by Allah's leave.") [3:49] and, (And when you (O Jesus) brought forth the dead by My permission.) [5:110].
A third example is the miracle Mohammad performed. His tribe, Quraysh, asked him to perform a miracle. He pointed to the moon and it separated into two parts while his people were witnessing the incident. Allah said about this miracle, what translated means, (The Hour has drawn near, and the moon has been cleft asunder. And if they see a sign, they turn away, and say: "This is continuous magic.") [54:1-2].
All these miracles, that Allah gave to His Messengers as an aid and victory and that were witnessed by their nations, are proof that Allah exists.
Second: Belief in Allah's Lordship
This means to believe that Allah is the Lord, alone, and that He has no partners or helpers. The Rabb (Lord) is the One who Creates and Commands. There is no creator except Allah and there is no owner of the universe except Him. The Commandment and the Control is His. He said, what translated means, (Surely, His is the Creation and Commandment.) [7:54] and, (Such is Allah your Lord; His is the Kingdom. And those whom you invoke or call upon instead of Him, own not even a Qitmir (the membrane over the date-stone).) [35:13].
Only a few people rejected Allah's Lordship. These are the arrogant ones who deny what they believe deep in their hearts. This happened from Pharaoh, when he said to his people, as was mentioned in the Quran, ("I am your lord, most high.") [79:24] and, ("O chiefs! I know not that you have a god other than me!") [28:38]. However, what he said was not his true belief. Allah said, what translated means, (And they belied them (Our Signs) wrongfully and arrogantly, though their own selves were convinced thereof.) [27:14]. Also, Moses said to Pharaoh, as was mentioned in the Quran, ("Verily, you know that these Signs have been sent down by none but the Lord of the heavens and the earth as clear (evidences of His Oneness and Might). And I think you are, indeed, O Pharaoh, doomed to destruction.") [17:102].
The Arab disbelievers of old used to confirm Allah's Lordship, although they associated others with Him in worship. Allah said, what translated means, (Say: "Whose is the earth and whosoever is therein? If you know!" They will say: "It is Allah's!" Say: "Will you not then remember?" Say: "Who is the Lord of the seven heavens and the Lord of the Great Throne?" They will say: "Allah." Say: "Will you not then fear Allah?" Say: "In Whose Hands is the sovereignty of everything? And He protects (all), while against Whom there is no protector, if you know?" They will say: "(All this belongs) to Allah." Say: "How then are you deceived and turn away from the truth?") [23:84-89], (And indeed if you ask them: "Who has created the heavens and the earth?" They will surely say: "The All-Mighty, the All-Knower created them.") [43:9] and, (And if you ask them who created them, they will surely say: "Allah." How then are they turned away (from His worship)?) [43:87].
Allah's order comprises of both His running of the universe and the Commandment. He is the One who controls the creation and the One who does what He will, according to His Wisdom. He is also the One who gives the Commandment organizing aspects of worship and dealings, according to His Wisdom. Whoever takes anyone, besides Allah, to be the one who commands acts of worship or types of dealings, will have committed Shirk (disbelief, association in worship) with Allah. This act negates Iman.
Third: The Belief That He Is the Ilah
Allah is the Ilah, meaning He is the Worshipped One Who has no partners. This Ilah is worshipped with love and reverence. He said, what translated means, (And your Lord is One Lord, there is none who has the right to be worshipped but He, the Most Beneficent, the Most Merciful.) [2:163] and, (Allah bears witness that none has the right to be worshipped but He, and the Angels, and those having knowledge (also give this witness); (He is always) maintaining His creation in Justice, none has the right to be worshipped but He, the All-Mighty, the All-Wise.) [3:18]. All things that are taken as gods, besides Allah, are false gods, (That is because Allah is the Truth (the Only True God), and what they (the disbelievers) invoke besides Him, it is falsehood. And verily, Allah is the Most High, the Most Great.) [22:62]. To call these things "gods," does not make them gods. Allah said about some idols, Al-Lat, Al-'Uzzaa and Manat, (They are but names which you have named, you and your fathers, for which Allah has sent down no authority.) [53:23]. Yousef (Joseph) said to his two companions in jail, as was mentioned in the Quran, ("Are many different lords (gods) better or Allah the One, the Irresistible? You do not worship beside Him but only names which you have forged, you and your fathers, for which Allah has sent down no authority.") [12:39-40]. All Messengers used to say to their nations, ("Worship Allah! You have no other God but Him.") [23:23]. However, the disbelievers refused to accept this call. They took others as gods besides Allah. They worshipped them besides Allah, calling them when aid and help were needed.
Allah refuted the disbelievers in their taking these idols as gods besides Him, using two logical arguments:
The first argument: These idols, that were taken by the disbelievers as gods, do not have any attributes that qualify them to be gods. These false gods were created and do not create. They can neither bring about benefit for whoever worships them, nor can they fend harm off. They cannot give life or take it away. They neither own nor are they partners in the kingdom of the heavens and earth.
Allah said, what translated means, (Yet, they have taken besides Him other gods that created nothing but are themselves created, and possess neither hurt nor benefit for themselves, and possess no power (of causing) death, nor (of giving) life, nor of raising the dead.) [25:3], (Say (O Mohammad): "Call upon those whom you asset (to be associate gods) besides Allah, they possess not even the weight of an atom, either in the heavens or on the earth, nor they have any share in either, nor is there for Him any supporter from among them.") [34:22-23] and, (Do they attribute as partners to Allah those who created nothing but they themselves are created? No help can they give them, nor can they help themselves.) [7:191-192]. If this is the case with false gods, then taking them as gods is a true misguidance and the lowest of all acts.
The second argument: The Mushrikeen (polytheists) are among those who confirmed that Allah, alone, is the Lord, the Creator, the One Who Has the ownership of everything and the One Who gives protection and no one can give protection to anyone from His Might. This confirmation requires from these disbelievers to worship Allah alone. He said, what translated means, (O Mankind! Worship your Lord (Allah), Who created you and those who were before you so that you may become among the pious. Who has made the earth a resting place for you, and the shy as a canopy, and sent down rain from the sky and brought forth therewith fruits as a provision for you. Then do not set up rivals unto Allah (in worship) while you know (that He Alone has the right to be worshipped).) [2:21-22], (And if you ask them who created them, they will surely say: "Allah." How then are they turned away (from His worship)?) [43:87] and, (Say (O Mohammad): "Who provides for you from the sky and from the earth? Or who owns hearing and sight? And who brings out the living from the dead and brings out the dead from the living? And who disposes the affairs?" They will say: "Allah." Say: "Will you not then be afraid of Allah's punishment?" Such is Allah, your Lord in truth. So after the Truth, what else can there be, save error? How then are you turned away?) [10:31-32].
Fourth: Belief In Allah's Names and Attributes
This belief requires accepting whatever Allah described of Himself, in His Book or in the Sunnah of His Messenger. The Names and Attributes must be accepted without alteration, rejection, precise description of their true nature or equating them with attributes of the creation. Allah said, what translated means, (And (all) the Most Beautiful Names belong to Allah, so call on Him by them, and leave the company of those who deny His Names. They will be requited for what they used to do.) [7:180], (His is the highest description in the heavens and in the earth. And He is the All-mighty, the AII-Wise.) [30:27] and, (There is nothing like unto Him, and He is the All-Hearer, the All-Seer.) [42:11].
Two groups have fallen into misguidance concerning this matter. One of them is Al-Mu'attilah (the refuters). This group rejected the Names and Attributes, or some of them, claiming that to accept them is to equate Allah with His creation. This claim is false for many reasons, following are two of them:
1 - This claim leads to false conclusions that Allah's Words are in opposition to each other. Allah is the One who confirmed these Names and Attributes and denied that there is anything that resembles Him. If confirming these Names and Attributes leads to equating Allah with the creation, then this will lead to the conclusion that Allah's Words are full of discrepancies and refute each other.
2 - For two things to have an attribute of some kind, does not mean that they are equal or look-likes. One can witness two persons who are both called "a human who hears, sees and speaks." However, this description of both does not mean that they are of equal capabilities in their hearing, sight or speech. One can also see that animals have hands, legs and eyes. However, this does not mean that animals are equal in every respect with regards to their hands, legs and eyes.
If disparity is this wide, between that which creation possess of attributes or names, then the disparity between the Creator and creation is even greater and more evident.
The second misguided group is called "Al-Mushabbihah." They confirmed the Names and the Attributes. Yet, they equated them with the names and attributes of the creation. They claimed that this is what the Texts mean. They claimed that Allah reveals to His slaves what they can comprehend. This claim is false for many reasons, some of them are:
1 - Allah's resemblance with His creation is false and is refuted with the mind and the Laws of Shari'ah. Texts of the Quran and Sunnah cannot lead to falsehood in their meanings.
2 - Allah revealed what His slaves can understand of the general meaning. However, the true nature of what these meanings are like is a knowledge that only Allah possesses, especially with regards to the true nature of His Names and Attributes.
Allah confirmed that He is the All-Hearer. Hearing means to comprehend sounds. However, the true nature of Allah's Hearing is unknown. Creation vary in their hearing capability. The difference between Allah's Hearing and the hearing of creation is even greater and more evident.
Also, Allah confirmed that He Istawa (Mounted or Settled) on His Throne. To mount and settle on a throne is known in the general meaning of the word "mounted," or "settled." The true nature of Allah's mounting on His Throne is unknown. Mounting on something varies with regards to different creation. To mount on a chair is unlike mounting on a wild camel. If Istiwaa' is this different between creation, then how can the Istiwaa' of Allah be compared to the Istiwaa' of creation? The difference between them is greater and more evident.
Benefits of Believing in Allah
Believing in Allah, in the way described above, leads to many benefits for the believers:
1 - To truly realize the Taw'hid of Allah, by depending only on Him and hoping in, fearing and worshipping Him alone.
2 - To prefect one's love and reverence of Allah, and according to His Might as described by His Most-Beautiful Names and Most-High Attributes.
3 - To truly give one's worship to Allah, by adhering to His Commandments and abandoning His Prohibitions.
Minggu, 26 Agustus 2012
Obat Jerawat
Jerawat seringkali menyebalkan karena dapat merusak penampilan wajah dan menurunkan rasa percaya diri. Dalam kasus yang ringan, jerawat bisa diatasi hanya dengan ramuan-ramuan yang ada di rumah Anda. Apa saja?
Jerawat terbentuk ketika folikel di bawah kulit tersumbat. Kebanyakan jerawat terbentuk pada wajah, leher, punggung, dada dan bahu. Jerawat dapat muncul pada kulit siapa pun, tetapi paling sering muncul pada kulit remaja dan dewasa muda. Jerawat tidak berbahaya, namun dapat menimbulkan bekas.
Jerawat dapat meninggalkan bekas hitam atau bahkan bekas cekung di kulit, namun beberapa ramuan ala rumah dapat mengobati jerawat dengan cara mudah, seperti dilansir Lifemojo, Selasa (24/1/2012):
1. Madu
Madu memiliki kombinasi vitamin dan mineral, yang semuanya diperlukan untuk kulit mulus. Menerapkan madu dicampur dengan jus lemon pada bekas jerawat dapat membantu dalam menyingkirkan noda-noda bekas jerawat di kulit.
Ketika dioleskan pada luka atau infeksi, hidrogen peroksida yang terkandung di dalam madu juga akan dikeluarkan ke kulit, yang bertindak sebagai antiseptik. Dilansir DermaNetNZ, hidrogen peroksida yang terbentuk ketika madu diencerkan dapat menyembuhkan luka termasuk infeksi jerawat.
2. Lemon
Lemon bertindak sebagai agen pemutih alami pada kulit. Oleskan jus lemon dengan sepotong kapas pada bekas jerawat. Ini akan mengurangi melanin dari daerah yang terkena dan memudarkan warna kulit yang menghitam. Tapi jus lemon dapat menyebabkan kulit menjadi kering, sehingga jangan lupa untuk menggunakan pelembab setelah menggunakan lemon.
3. Tomat dan Mentimun
Tomat dan mentimun membentuk kombinasi yang baik sebagai pemutih alami dan antioksidan. Efek gabungan dari sayur ini membantu dalam mendapatkan kulit yang lebih cerah dan memudarkan bekas jerawat.
4. Putih telur
Putih telur memiliki jumlah protein yang baik serta vitamin penting dan mineral lainnya yang membantu dalam menyingkirkan jerawat dan bekas jerawat, serta dalam memproduksi efek menguntungkan pada keseluruhan kulit.
5. Kunyit
Kandungan zat pewarna kuning (curcumin) pada kunyit diyakini memiliki sifat anti-inflamasi (anti-peradangan), antiseptik, dan pengeringan, yang semuanya dapat membantu mengobati jerawat.
Anti-inflamasi bila diterapkan secara topikal, dapat membantu mengurangi kemerahan dan iritasi yang terkait dengan jerawat. Sementara antiseptik membantu membersihkan kulit dari kotoran yang menyebabkan jerawat.
Jerawat terbentuk ketika folikel di bawah kulit tersumbat. Kebanyakan jerawat terbentuk pada wajah, leher, punggung, dada dan bahu. Jerawat dapat muncul pada kulit siapa pun, tetapi paling sering muncul pada kulit remaja dan dewasa muda. Jerawat tidak berbahaya, namun dapat menimbulkan bekas.
Jerawat dapat meninggalkan bekas hitam atau bahkan bekas cekung di kulit, namun beberapa ramuan ala rumah dapat mengobati jerawat dengan cara mudah, seperti dilansir Lifemojo, Selasa (24/1/2012):
1. Madu
Madu memiliki kombinasi vitamin dan mineral, yang semuanya diperlukan untuk kulit mulus. Menerapkan madu dicampur dengan jus lemon pada bekas jerawat dapat membantu dalam menyingkirkan noda-noda bekas jerawat di kulit.
Ketika dioleskan pada luka atau infeksi, hidrogen peroksida yang terkandung di dalam madu juga akan dikeluarkan ke kulit, yang bertindak sebagai antiseptik. Dilansir DermaNetNZ, hidrogen peroksida yang terbentuk ketika madu diencerkan dapat menyembuhkan luka termasuk infeksi jerawat.
2. Lemon
Lemon bertindak sebagai agen pemutih alami pada kulit. Oleskan jus lemon dengan sepotong kapas pada bekas jerawat. Ini akan mengurangi melanin dari daerah yang terkena dan memudarkan warna kulit yang menghitam. Tapi jus lemon dapat menyebabkan kulit menjadi kering, sehingga jangan lupa untuk menggunakan pelembab setelah menggunakan lemon.
3. Tomat dan Mentimun
Tomat dan mentimun membentuk kombinasi yang baik sebagai pemutih alami dan antioksidan. Efek gabungan dari sayur ini membantu dalam mendapatkan kulit yang lebih cerah dan memudarkan bekas jerawat.
4. Putih telur
Putih telur memiliki jumlah protein yang baik serta vitamin penting dan mineral lainnya yang membantu dalam menyingkirkan jerawat dan bekas jerawat, serta dalam memproduksi efek menguntungkan pada keseluruhan kulit.
5. Kunyit
Kandungan zat pewarna kuning (curcumin) pada kunyit diyakini memiliki sifat anti-inflamasi (anti-peradangan), antiseptik, dan pengeringan, yang semuanya dapat membantu mengobati jerawat.
Anti-inflamasi bila diterapkan secara topikal, dapat membantu mengurangi kemerahan dan iritasi yang terkait dengan jerawat. Sementara antiseptik membantu membersihkan kulit dari kotoran yang menyebabkan jerawat.
Khasiat Kurma Ajwah
Ada banyak jenis jenis kurma, tapi yang paling istimewa adalah Kurma Nabi atau lazim di sebut kurma Ajwah. Harganya sangat fantastis, yaitu sekitar 400.000 rupiah/kg. Tentu saja karena keistimewaan yang ada di dalam nya serta kisah yag tersimpan di balik mungil buahnya dibanding kurma lain serta kandungan gizi yang ada di dalamnya.
قَالَ رَسُولُ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – « مَنْ تَصَبَّحَ كُلَّ يَوْمٍ سَبْعَ تَمَرَاتٍ عَجْوَةً لَمْ يَضُرُّهُ فِى ذَلِكَ الْيَوْمِ سُمٌّ وَلاَ سِحْرٌ » . أطرافه 5768 ، 5769 ، 5779 – تحفة 3895
Banyak riwayat tentang kurma ajwah sebagai bukti kemukjizatan Nabi SAW. Selain karena Nabi sendiri yang menanam dan membudidayakannya, jenis kurma ini sudah sangat langka.Di Madinah konon hanya tumbuh seratus pohon saja.Wallahu a'lam.
Syawal tahun kemarin, saya,suami dan anak-anak saya, berkesempatan berkunjung di rumah KH.Qusein Ilyas, karangnongko, Mojokerto. Dan entah pada pembicaraan apa, dalam sela-sela haturan beliau, kisah kurma Ajwah ini di ceritakan dengan dramatis, membuat kami semakin ingin mengenal Nabi dan ingin mengetahui mukjizat Nabi yang mungkin tidak popular sebagaimana Alquran itu sendiri sebagai mukjizat terbesar dan kisah Isra Mi'raj yang tak habis mnyita kekaguman berbagai ilmuwan lintas abad.
"Ini loh kurma Ajwah, khasiatnya dapat mencerdaskan anak, menyembuhkan penyakit, termasuk menangkal racun, demikian beliau menuturkan, anak-anak kami diizinkan mencicipi satu butir,demikian kami berdua,(saya dan suami),bentuknya kecil kehitaman,tapi mengapa harganya sangat mahal.
Kisahnya suatu ketika seorang kafir quraisy yang sangat membenci Nabi, ingin membuktikan kenabian beliau, mereka serta merta mendatangi Nabi SAW, menantang Nabi untuk menanam sekantung biji kurma, yang sebenarnya telah di rebus.."Hai Muhammad, jika benar engkau seorang Nabi, mampukah engkau menanam biji kurma ini dan memanennya dalam 7 hari ? jika kau mampu, maka aku mempercayai Kerasulanmu. Kemudian Nabi berkata " Aku akan menanamnya, dan apakah akan ku panen dalam 7 hari, hanya Allah yang bisa menghendaki, dan aku memang utusan Allah sekalipun engkau tidak mempercayaiku.
Maka Nabi pun menanamnya, seluruh biji kurma itu, dan atas izin Allah dalam 7 hari biji-biji yang telah di tanam beliau itu tumbuh , menjadi pohon dan berbuah bahkan bertandan-tandan sangat lebat.Si kafir pun tercengang, Nabi memberikan sekeranjang kurma pada si kafir, untuk di cicipi, lalu si kafir bilang, mengapa warna lebih hitam dan bijinya mengecil tidak seperti kurma-kurma yang lain ?, Nabi menjawab, itu karena bijinya telah kau masak lebih dahulu sebelum kau berikan kepadaku..Serta merta si kafirpun bersyahadat untuk mengakui keNabian Muhammad dan masuk islam.
Banyak Riwayat lain juga menceritakan tentang kurma AJWAH…Namun, cerita yang di ceritakan Kyai di atas sungguh saya menyentuh dan menambah kecintaan kita terhadap Nabi, maka saya merasa tidak perlu mengkonfirmasi dari mana sumbernya….
Allhumma sholli 'alaaa sayyidina wa maulana Muhammad…..
Menurut medis, kurma Ajwah itu ternyata memiliki kandungan protein , serta serat , dan gula sebanyak glukosa. Wajar, jika Nabi Saw menganjurkan dan mencontohkan mengkosumsi kurma Ajwah setiap berbuka puasa. Dan, cukup dengan kurma dan air zam-zam penduduk Makkah dan Madinah tergolong sehat wal afyat. Kurma termasuk jenis dari buah-buahan yang kaya akan protein, serat gula, vitamin A dan C, serta mineral, seperti: zat besi, kalsium, sodium dan potassium . Terkait dengan khasiat kurma Ajawah, Nabi Saw menuturkan:
قَالَ رَسُولُ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – « مَنْ تَصَبَّحَ كُلَّ يَوْمٍ سَبْعَ تَمَرَاتٍ عَجْوَةً لَمْ يَضُرُّهُ فِى ذَلِكَ الْيَوْمِ سُمٌّ وَلاَ سِحْرٌ » . أطرافه 5768 ، 5769 ، 5779 – تحفة 3895
Artinya:’’Barang siapa yang makan pagi dengan tujuh butir kurma Ajwah, maka tak akan mencelakainya racun dan sihir dihari itu”. (Riwayat Shahih Al-Bukhari).
Banyak riwayat tentang kurma ajwah sebagai bukti kemukjizatan Nabi SAW. Selain karena Nabi sendiri yang menanam dan membudidayakannya, jenis kurma ini sudah sangat langka.Di Madinah konon hanya tumbuh seratus pohon saja.Wallahu a'lam.
Syawal tahun kemarin, saya,suami dan anak-anak saya, berkesempatan berkunjung di rumah KH.Qusein Ilyas, karangnongko, Mojokerto. Dan entah pada pembicaraan apa, dalam sela-sela haturan beliau, kisah kurma Ajwah ini di ceritakan dengan dramatis, membuat kami semakin ingin mengenal Nabi dan ingin mengetahui mukjizat Nabi yang mungkin tidak popular sebagaimana Alquran itu sendiri sebagai mukjizat terbesar dan kisah Isra Mi'raj yang tak habis mnyita kekaguman berbagai ilmuwan lintas abad.
"Ini loh kurma Ajwah, khasiatnya dapat mencerdaskan anak, menyembuhkan penyakit, termasuk menangkal racun, demikian beliau menuturkan, anak-anak kami diizinkan mencicipi satu butir,demikian kami berdua,(saya dan suami),bentuknya kecil kehitaman,tapi mengapa harganya sangat mahal.
Kisahnya suatu ketika seorang kafir quraisy yang sangat membenci Nabi, ingin membuktikan kenabian beliau, mereka serta merta mendatangi Nabi SAW, menantang Nabi untuk menanam sekantung biji kurma, yang sebenarnya telah di rebus.."Hai Muhammad, jika benar engkau seorang Nabi, mampukah engkau menanam biji kurma ini dan memanennya dalam 7 hari ? jika kau mampu, maka aku mempercayai Kerasulanmu. Kemudian Nabi berkata " Aku akan menanamnya, dan apakah akan ku panen dalam 7 hari, hanya Allah yang bisa menghendaki, dan aku memang utusan Allah sekalipun engkau tidak mempercayaiku.
Maka Nabi pun menanamnya, seluruh biji kurma itu, dan atas izin Allah dalam 7 hari biji-biji yang telah di tanam beliau itu tumbuh , menjadi pohon dan berbuah bahkan bertandan-tandan sangat lebat.Si kafir pun tercengang, Nabi memberikan sekeranjang kurma pada si kafir, untuk di cicipi, lalu si kafir bilang, mengapa warna lebih hitam dan bijinya mengecil tidak seperti kurma-kurma yang lain ?, Nabi menjawab, itu karena bijinya telah kau masak lebih dahulu sebelum kau berikan kepadaku..Serta merta si kafirpun bersyahadat untuk mengakui keNabian Muhammad dan masuk islam.
Banyak Riwayat lain juga menceritakan tentang kurma AJWAH…Namun, cerita yang di ceritakan Kyai di atas sungguh saya menyentuh dan menambah kecintaan kita terhadap Nabi, maka saya merasa tidak perlu mengkonfirmasi dari mana sumbernya….
Allhumma sholli 'alaaa sayyidina wa maulana Muhammad…..
Minggu, 19 Agustus 2012
KH. Zaini Mun’im Paiton Probolinggo
Ulama Pejuang dan Perintis Pertanian Tembakau
Nama Probolinggo telah ada sejak tahun 1359 M. (1281 Saka). Ketika Prabu Hayam Wuruk berhasil mempersatukan Nusantara di bawah kekuasaan Majapahit tahun 1357 M (1279 Saka) atas jerih payah Maha Patih Mada, rombongan pembesar kerajaan kemudian bermuhibah ke daerah ini dan enggan kembali. Sehingga ketika sang prabu sedang linggih (duduk) merenugi keindahan kawasan ini, maka kawasan ini dinamakan oleh masyarakat sebagai Prabu Linggih. Setelah mengalami proses perubahan ucapan, kata Prabu Linggih kemudian berubah menjadi Probo Linggo (Probolinggo). Daerah ini merupakan salah satu bagian dari Propinsi Jawa Timur yang terletak di kaki Gunung Semeru, Gunung Argopuro dan Pegunungan Tengger dengan luas sekitar 1.696,166 Km persegi.
Paiton adalah adalah sebuah kecamatan di Kabupaten Probolinggo, Provinsi Jawa Timur yang terkenal dengan kehadiran kompleks Pembangkit Listrik-nya. Kawasan ini berada pada garis pantai yang menghadap ke selat Madura. Kawasan ini juga merupakan daerah penghasil tembakau. Karenanya banyak sekali masyarakat Paiton yang bekerja sebagai petani, nelayan dan pedagang barter seperti tembakau (blandang).
Dengan letak geografis yang cukup menguntungkan dalam perdagangan laut, terutama nelayannya, maka banyak nelayan dari Pasuruan; Sampang, Madura; Muncar, Banyuwangi yang singgah di sini. Karenanya, mayoritas penduduk di kawasan ini adalah etnis Madura. Sehingga dengan sendirinya, sebagaimana umumnya karakter masyarakat etnis madura, Paiton juga merupakan kawasan masyarakat santri yang memiliki banyak pesantren sebagai tempat mendidik generasi mudanya.
Salah satu di antara pesantren-pesantren kawasan ini yang cukup terkenal adalah Pesantren Nurul Jadid di desa Karanganyar, Kecamatan Paiton, Kabupaten Probolinggo, yang didirikan oleh KH Zaini Abdul Mun’im. Seorang ulama pejuang Republik kelahiran Madura yang datang ke Paiton pada tanggal 10 Muharram 1948 M. Beliau singgah di Karanganyar dalam perjalanannya menuju ke Yogyakarta untuk bergabung dengan para pejuang Republik lainnya di sana.
Ketika sedang berada di Karanganyar, KH Zaini mendapat titipan (amanat) dari Allah berupa dua orang santri yang datang kepada Beliau untuk belajar ilmu agama. Kedua santri ini bernama Syafi’udin berasal dari Gondosuli, Kotaanyar Probolinggo dan Saifudin dari Sidodadi Kecamatan Paiton, Probolinggo. Kedatangan dua santri tersebut oleh beliau dianggap sebagai amanat Allah yang tidak boleh diabaikan. mulai saat itulah KH Zaini menetap bersama kedua santrinya.
Namun tidak seberapa lama, beliau ditangkap oleh Belanda dan dipenjarakan di LP Probolinggo. KH Zaini, pada waktu tersebut memang termasuk orang yang dicari-cari oleh Belanda sejak dari pulau Madura. Belanda menganggap beliau sebagai orang yang berbahaya, karena menurut Belanda, Beliau mampu mempengaruhi dan menggerakkan rakyat untuk melawan Belanda.
Setelah sekitar tiga bulan di penjara, kemudian beliau dikembalikan lagi ke Karanganyar untuk mengasuh santri-santrinya yang sedang menunggu kedatangannya. Sejak saat itulah, KH Zaini Abdul Mun’im membimbing santri-santrinya yang sudah mulai berdatangan dari berbagai penjuru seperti dari Madura, Situbondo, Malang, Bondowoso dan Probolinggo. Dengan banyaknya santri yang berdatangan, KH Zaini Mun’im kemudian merasa berkewajiban untuk mendidik mereka.
Merintis Dakwah di Tanah seberang
Memang kedatangan KH Zaini tidak secara langsung berniat untuk mendirikan sebuah pesantren. Namun atas saran dan dukungan dari berbagai pihak, maka Beliau pun kemudian memiliki tekad yang mantap untuk mendirikan sebuah pesantren yang dinakaman pesantren Nurul Jadid. Nama pesantren Nurul Jadid ini bermula pada saat KH Zaini Mun’im didatangi seorang tamu, putra gurunya (KH Abdul Majid) yang bernama KH Baqir. Beliau mengharap kepada KH Zaini Mun’im untuk memberi nama pesantren yang diasuhnya dengan nama Nurul Jadid.
Memang kedatangan KH Zaini tidak secara langsung berniat untuk mendirikan sebuah pesantren. Namun atas saran dan dukungan dari berbagai pihak, maka Beliau pun kemudian memiliki tekad yang mantap untuk mendirikan sebuah pesantren yang dinakaman pesantren Nurul Jadid. Nama pesantren Nurul Jadid ini bermula pada saat KH Zaini Mun’im didatangi seorang tamu, putra gurunya (KH Abdul Majid) yang bernama KH Baqir. Beliau mengharap kepada KH Zaini Mun’im untuk memberi nama pesantren yang diasuhnya dengan nama Nurul Jadid.
Nama Karanganyar sebenarnya adalah desa Tanjung, nama kuno yang diambil dari nama sebuah pohon besar di sana yang dijadikan sebagai pusat penempatan sesajen untuk memuja para roh yang melindungi masyarakat sekitar. Hal ini mengindikasikan bahwa masyarakat di sana pada awalnya adalah para penganut kepercayaan animisme dan dinamisme. Menurut masyarakat setempat, keberadaan beberapa pohon-pohon besar ini tidak boleh ditebang. Pohon-pohon besar tersebut diyakini sebagai pelindung masyarakat dan harus diselenggarakan upacara ritual dalam bentuk pemberian sesajen, utamanya ketika ada suatu hajatan.
Sesajen itu disajikan kepada roh yang diyakini berada di sekitar pohon besar tersebut. Salah satu ritual itu dilakukakan ketika ketika musim tanam tiba. Sebelum panen, masyarakat menggelar sesajenan dengan cara patungan. Beberapa anggota masyarakat meletakkan ayam di beberapa tempat yang dianggap sakral. Selain itu pada setiap tahunnya mereka mengadakan selamatan laut dengan membuang kepala kerbau.
Dalam kehidupan sosial, masyarakat desa Tanjung sangat terbelakang (jahiliyah). Mereka belum mengenal peradaban baru (Islam) yang lebih baik. Hal ini terlihat dengan maraknya perjudian, perampokan, pencurian dan tempat mangkal para pekerja seks komersial (PSK). Kehidupan hedonis mewarnai pemandangan sehari-hari dan moralitas jauh ditinggalkan. Pada saat itu kesenangan dan kebahagiaan hanya terdapat pada perbuatan yang penuh dengan kemaksiatan dan kemungkaran.
Dalam kehidupan ekonomi, masyarakat desa Tanjung termasuk masyarakat yang sangat bergantung pada alam. Mereka menganggap bahwa jika yang diberikan alam sudah tidak ada lagi yang bisa dimakan, maka mereka pindah ke tempat lain atau mencari makan di daerah lain. Tempat yang mereka pilih terutama di daerah pinggiran laut (pantai) yang banyak pohon bakaunya untuk dimakan. Sedangkan lahan pertanian yang ada hanya dikuasai oleh beberapa orang.
Dengan demikian, desa Tanjung waktu itu merupakan desa “mati”, karena disamping daerahnya masih dipenuhi dengan hutan jati dan penuh dengan semak belukar yang tidak menghasilkan nilai ekonomis, juga karena masyarakatnya yang tidak memperdulikan keadaan sekitarnya.
Dalam situasi dan kondisi sosial masyarakat desa Tanjung seperti itulah, KH Zaini Mun’im –setelah mendapatkan restu dan perintah dari KH Syamsul Arifin, ayah KH As’ad Syamsul Arifin, Sukorejo– memutuskan untuk menetap dan bertempat tinggal bersama keluarganya di desa ini. Sebelum memutuskan untuk bertempat tinggal di desa Karanganyar, KH Zaini Mun’im mengajukan tempat-tempat lainnya dengan membawa contoh tanah pada KH Syamsul Arifin.
Daerah lain yang pernah diajukan oleh KH Zaini Mun’im selain tanah desa Karanganyar ini adalah daerah Genggong Timur, dusun Kramat Kraksaan Timur, desa Curahsawo Probolinggo Timur, sebuah dusun di daerah kebun kelapa Jabung, dan dusun Sumberkerang. Setelah diseleksi contoh tanahnya oleh KH Syamsul Arifin, maka KH Zaini Mun’im diperintahkan untuk menetap di Desa Tanjung.
Berkat ketekunan KH Zaini dalam berdakwah, maka berangsur-angsur kehadiran pesantren Nurul Jadid dapat mengubah kondisi yang demikian menjadi kondisi masyarakat dengan iklim religius tanpa mengalami penentangan yang frontal. Lambat laun, dengan kehadiran pesantren yang diasuh oleh KH Zaini dan dakwah Islam yang dipimpinnya dengan santun, nama desa Tanjung berubah menjadi Karanganyar.
Memberdayakan Ekonomi Masyarakat
KH Zaini Abdul Mun’im adalah seorang ulama yang memiliki kepedulian terhadap kondisi kemiskinan dan keterbelakangan rakyat akibat penjajahan dan kekejaman pemerintah kolonial Belanda. Karena karakter KH Zaini yang memiliki kepedulian tinggi terhadap kondisi sosial dan ekonomi masyarakatnya, maka pesantren yang didirikannya ini juga diformat untuk memiliki kepeduliannya yang tinggi dan ikut menciptakan pemberdayaan manusia dengan seutuhnya.
KH Zaini Abdul Mun’im adalah seorang ulama yang memiliki kepedulian terhadap kondisi kemiskinan dan keterbelakangan rakyat akibat penjajahan dan kekejaman pemerintah kolonial Belanda. Karena karakter KH Zaini yang memiliki kepedulian tinggi terhadap kondisi sosial dan ekonomi masyarakatnya, maka pesantren yang didirikannya ini juga diformat untuk memiliki kepeduliannya yang tinggi dan ikut menciptakan pemberdayaan manusia dengan seutuhnya.
Sejak itulah KH Zaini Mun’im mulai dikenal di masyarakat karena keuletan dan keberanian serta ketabahannya. Di samping itu, dua orang teman yang membantunya, yakni KH Munthaha dan KH Sufyan. Keduanya adalah santri yang ditugaskan oleh KH Hasan Sepuh (Pengasuh PP. Zainul Hasan Genggong, Kraksaan) untuk membantu KH Zaini Mun’im sambil mengaji kepada beliau. memang sudah dikenal oleh masyarakat luas karena sering memberi bantuan kepada masyarakat, terutama keampuhan doa-doanya.
Setelah kesadaran beribadah masyarakat mulai tumbuh yang terbukti dengan dibangunnya beberapa mushalla oleh masyarakat setempat, KH Zaini Mun’im memperkenalkan tanaman baru kepada mereka, yakni tembakau yang bibitnya dibawa dari Madura. Awalnya, bibit tersebut sebagai percobaan di desa Karanganyar. Seiring perkembangan waktu, ternyata tanaman ini memang cocok dengan keadaan tanah di desa Karanganyar dan bisa mengangkat perekonomian masyarakatnya. Akhirnya, tanaman ini menjadi penghasilan pokok masyarakat Karanganyar dan bahkan masyarakat di luar Paiton.
Pada sisi lainnya, upaya yang dilakukukan KH Zaini Mun’im bersama santri-santrinya, juga cukup memberikan hasil yang memuaskan. Terbukti dengan pupusnya kepercayaan mereka terhadap roh ghaib dan semakin rendahnya kasus pencurian, pemerkosaan, perjudian, serta lenyapnya gembong PSK. Dan seiring itu pula, tumbuhlah semangat yang menyala-nyala dalam mempertahankan kehidupan menuju keluarga sakinah (keluarga bahagia dunia-akhirat).
Dalam keadaan yang sudah mulai damai dan nyaman, KH Zaini Mun’im dikejutkan oleh surat panggilan yang datangnya dari Menteri Agama (waktu itu adalah KH Wahid Hasyim). Beliau diminta untuk menjadi penasehat jamaah haji Indonesia. Dan tawaran tersebut beliau terima. Pada saat itu jumlah santri yang sudah menetap di PP. Nurul Jadid sekitar 30 orang dan siserahkan di bawah asuhan KH Munthaha dan KH Sufyan. Dengan kharisma yang dimiliki, keduanya, dengan mudah membangun beberapa pondok yang terbuat dari bambu untuk tempat tinggal para santri pada waktu itu.
Sepulangnya KH Zaini Mun’im dari tanah suci dalam tugasnya sebagai penasehat jamaah haji Indonesia, terlihat beberapa gubuk sudah berdiri, maka tergeraklah hati beliau untuk memikirkan masa depan para santri-santrinya. Mulailah KH Zaini Mun’im bersama santri-santrinya membabat hutan yang ada di sekitarnya sehingga berdirilah sebuah pesantren yang cukup besar sampai terlihat seperti sekarang ini.
Secara pelan-pelan, kehidupan masyarakat mulai ada perubahan. Hal ini berkat ketekunan KH Zaini Mun’im bersama santri-santrinya. Mereka disadarkan dengan sentuhan agama. Akhirnya, timbul suatu kesadaran di kalangan masyarakat bahwa merekalah yang sebenarnya memiliki potensi yang sangat besar untuk bisa merubah cara hidupnya, terutama dari kehidupan sosial ekonomi.
Setelah perekonomian masyarakat mulai meningkat melalui pemanfaatan tanah pertanian, mulailah dimasukkan ajaran dan nilai-nilai agama islam dalam kehidupan masyarakat Karanganyar. Hal lainnya adalah pendalaman ilmu agama melalui sistem pendidikan non formal. Pola pendidikan dan pembinaan semacam itu dilakukan, baik kepada santri maupun kepada masyarakat sekitar pesantren. Pengajian kitab dilakukan dengan berbagai metode. Mulai dari bandongan, sorogan dan takhassus. Sementara itu pemberian makna dalam pengajian kitab kuning menggunakan bahasa indonesia. Sehingga pesantren Nurul Jadid merupakan pesantren pertama yang menggunakan bahasa Indonesia dalam menerangkan dan menterjemahkan kitab-kitab yang dikajinya.
Upaya perubahan yang dilakukan KH Zaini Mun’im bersama santri-santrinya terhadap masyarakat Karanganyar tersebut, kemudian dibalas dengan sikap simpati masyarakat berupa dukungan terhadap perkembangan pesantren Nurul Jadid. Di antaranya adalah dukungan masyarakat Karanganyar terhadap berdirinya Lembaga Pendidikan mulai Taman Kanak-kanak (TK) hingga Perguruan Tinggi (PT).
Pesantren yang diasuh KH Zaini Mun’im ini nampaknya mendapat pengakuan yang cukup luas di kalangan masyarakat. Terbukti dengan semakin banyaknya jumlah santri yang berdatangan dari segala penjuru tanah air, bahkan dari luar negeri (Singapura dan Malaysia). Hingga saat ini pesantren Nurul Jadid telah melahirkan ribuan alumni.
Isyarat dan Menjual Tanah
Sebelum mendirikan pesantren di desa karanganyar ini, KH Zaini Mun’im sempat memiliki keraguan, hingga tiba-tiba beliau menemukan sarang lebah. Hal ini kata orang-orang waktu itu adalah sebagai isyarat, jika beliau menetap dan mendirikan pondok pesantren di Desa Karanganyar (Tanjung), maka akan banyak santrinya.
Sebelum mendirikan pesantren di desa karanganyar ini, KH Zaini Mun’im sempat memiliki keraguan, hingga tiba-tiba beliau menemukan sarang lebah. Hal ini kata orang-orang waktu itu adalah sebagai isyarat, jika beliau menetap dan mendirikan pondok pesantren di Desa Karanganyar (Tanjung), maka akan banyak santrinya.
Isyarat kedua datang dari KH Hasan Sepuh Genggong. Suatu saat ketika Kyai Hasan mendatangi suatu pengajian dan melewati desa Tanjung. Beliau berkata kepada kusir dokarnya, ”Di masa mendatang, jika ada kiai atau ulama yang mau mendirikan pondok di daerah sini, maka pondok tersebut kelak akan menjadi pondok yang besar, dan santrinya kelak akan melebihi santri saya.” Sang kusir pun hanya manggut-manggut. Kemudian peryataan ini tersebar ke masyarakat sekitar dan sampai di telinga KHZaini.
Isyarat ketiga datang dari alam setempat, kondisi tanahnya yang bagus dan suplai air yang mencukupi. Selain itu, desa Tanjung merupakan tempat yang jauh dari keramaian kota (Kraksaan), sehingga sangat cocok untuk mendirikan sebuah tempat pendidikan.
Setelah dirasa cocok, KH Zaini Mun’im segera membuat kesepakatan dengan H. Tajuddin salah seorang pemilik tanah yang luas di desa Tanjung. KH Zaini menukarkan dengan tanahnya yang ada di pulau Madura, dengan hutan jati dan belukar di tempat tersebut. Dengan berbekal satu batang lidi, Beliau berjalan menelusuri tanah yang sudah menjadi miliknya itu, sehingga semua hewan dan binatang buas serta membahayakan lari dan meninggalkan hutan jati itu menuju utara desa Grinting. Selama satu tahun lebih beliau membabat hutan, mendirikan rumah, membangun surau kecil bersama dua orang santri pertamanya dan mengubah hutan serta belukar menjadi tegalan dan perkebunan.
Motto hidup KH Zaini adalah mewakafkan diri untuk penyiaran dakwah Islam dan meninggikan agama Allah. Beliau adalah seorang ulama pejuang yang kuat, tabah dan memiliki kesetiaan tinggi kepada rekan-rekannya. Sehingga ketika berada dalam tahanan Belanda di Probolinggo, Beliau tetap bungkam meskipun dipaksa dengan berbagai cara untuk membocorkan tempat-tempat pesembunyian rekan-rekan seperjuangannya yang lain, yang juga menjadi buronan Belanda. KH Zaini sangat kuat memegang semboyan ”liberty or dead (merdeka atau mati)”. Sehingga tidak satu pun temen-teman seperjuangannya yang dapat ditangkap Belanda karena pengakuan Beliau.
Langganan:
Komentar (Atom)



